Mekanisasi Pertanian | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Mekanisasi Pertanian

Mekanisasi Pertanian
Foto Mekanisasi Pertanian

Oleh Yuswar Yunus

PENGEMBANGAN mekanisasi pertanian, selalu dicirikan melalui inovasi, introduksi, selektivitas dan adaptasi alat dan mesin pertanian (alsintan) untuk proses produksi, mulai dari prapanen hingga ke pascapanen. Alsintan yang cocok tidak harus selamanya yang berteknologi mutakhir (namun harus selektif), yaitu harus disesuaikan dengan lingkungan (adaptasi) yang cocok dengan kemajuan dan perkembangan di suatu wilayah (Aceh) yang kini mulai membenah diri dalam penggunaaan alsintan untuk mengejar target produksi.

Adalah Ikatan Alumni Teknik Pertanian (Ikateta) Indonesia Cabang Provinsi Aceh, kini mulai fokus untuk berkiprah membangun sektor pertanian Aceh. Satu terobosan melawan kemiskinan Aceh lewat prioritas modernisasi alsintan yang kini mulai menggeliat, namun belum merata dan belum menyeluruh untuk pelayanan secara simultan guna membantu petani Aceh di pedesaan.

Mewujudkan inovasi teknologi pertanian yang strategis, harus mampu untuk mendorong industrialisasi pedesaan yang dapat membangkitkan motivasi petani menjadi mitra yang baik dalam memenuhi bahan baku yang dibutuhkan, karena untuk pembangunan ekonomi Aceh, harus dimulai dari pembangunan pedesaan, juga Aceh harus mampu membangun industri hilir yang berorientasi ekspor.

Namun harus disadari bahwa mekanisasi pertanian bukanlah tujuan akhir dalam wujud pembangunan pertanian yang berpayung pada Tri Matra Pembangunan Pertanian. Mekanisasi pertanian hanya merupakan sarana atau alat untuk mencapai tujuan. Karenanya, operasionalisasi alsintan harus sejalan dengan pembangunan pertanian secara menyeluruh. Implemtasi alsintan tidak bisa lepas dengan swasembada pangan berkelanjutan, diversifikasi pangan, peningkatan nilai tambah, daya saing dan ekspor, serta bagaimana mengejar kesejahteraan petani Aceh. Semua ini pun berkorelasi erat dengan program revitalisasi pertanian sesuai panduan program Nasional.

Tuntutan modernisasi
Pengembangan alsintan pascapanen diperlukan karena selama ini dari segi kuantitas ia tertinggal dengan prapanen, karena selama ini kurang adanya kepedulian dan keberpihakan, perlu komitmen dan partisipasi dari berbagai stakeholder, serta harus proporsional (menyeluruh dan berkesinambungan). Namun semua itu tidak dapat lepas dari langkah pengembangan, terutama pendekatan wilayah, sarana dan teknologi, sumber daya manusia (SDM), serta hasil dan target yang perlu dicapai dengan harapan perlu adanya peningkatan mutu, nilai tambah dan daya saing.

Pilar utama alsintan adalah inovasi teknologi dalam modernisasi alat dan mesin sesuai program pembangunan mekanisasi pertanian Aceh secara menyeluruh. Namun, semua itu harus didukung dengan infrastruktur pertanian yang baik (simultan) dengan pembangunan jalan usaha tani yang memadai, dan jaringan irigasi Aceh yang masih tertinggal dan masih perlu dibangun di seluruh Aceh dengan memprioritaskan terlebih dulu reboisasi hutan yang sangat mendesak, terutama untuk mencegah banjir tahunan dan kebutuhan air untuk irigasi pertanian.

Kebijakan dan peran alsintan, harus dapat memaknai ketahanan pangan, bagaimanapun daya saing dapat mempengaruhi ketahanan pangan, karena saat sekarang alsintan masih terprogram secara parsial, posisi daya ketahanan pangan belum tercapai dengan baik untuk mencapai target kepada kedaulatan pangan, yaitu dari komoditas andalan bagaimana harus cepat menjadi komoditas unggulan belum tercapai dengan baik. Padahal terdapat 21 jenis tanaman ungulan yang berdaya ekspor, tetapi terus terjadi fluktuasi produksi untuk ekspor.

Untuk mendorong percepatan pengembangan modernisasi alsintan di Aceh, diperlukan dukungan dan kerja sama yang sinergis dan harmonis dari seluruh komponen utama (multi-stakeholders), meliputi Dinas Pertanian Tanaman Pangan, industri/swasta, lembaga penelitian yang dimiliki oleh seluruh perguruan tinggi di Aceh, termasuk Pusat Studi Mekanisasi dan Perbengkelan Pertanian Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), serta LSM, masyarakat dan petani yang selalu menggantung harapan.

Begitu halnya target untuk inovasi teknologi pertanian masih belum terlihat dengan nyata dan memiliki korelasi yang erat dengan modernisasi alsintan yang memiliki peran penting dan strategis untuk program prapanen (pengolahan tanah, pembenihan, pembibitan, penanaman, dan pemeliharaan), panen (pemanenan dan pengangkutan), dan pascapanen (penanganan hasil dan penyimpanan/penggudangan serta pengolahan hasil/panen dan teknologi kemasan).

Modernisasi alsintan
Untuk mewujudkan modernisasi alsintan berhubungan erat dengan: 1) Kondisi sosial ekonomi petani; kecendrungan terjadinya penurunan. 2) Minat untuk bekerja di sektor pertanian kian menurun, sehingga tenaga kerja bidang pertanian semakin terbatas. 3) Tuntutan peningkatan kebutuhan pangan; baik secara kuantitas maupun kualitas. 4) Masalah dan kendala alsintan di Aceh, tidak berbeda kondisinya secara Nasional. 5) Perkembangannya lamban (mengalami pasang surut) karena kurangnya ketersediaan suku cadang alsintan dan sosialisasi yang kurang terprogram.

6) Pengembangan belum komprehensif (masih bersifat parsial dan lebih didominasi oleh penyediaan perangkat keras). 7) Luas kepemilikan dan sebaran lahan juga memberi pengaruh yang signifikan. 8) Keterbatasan petani; pengetahuan, keterampilan, modal dan budaya. 9) Sistem usaha tani; subsisten farming dan tradisional. 10) Prasarana penunjang; penataan lahan, jalan Usahatani, dan bengkel (workshop). 11) Kelembagaan petani; penyuluhan dan jasa. 12) Petani terkesan menjadi objek pengusaha alsintan, karenanya perlu kemitraan yang lebih fokus.

Di sisi lain, perkembangan alsintan pascapanen di Aceh, seperti kilang padi (rice milling unit) lamban perkembangannya. Data lama (2011) menunjukkan bahwa kilang padi terbanyak dimiliki di Pidie (39 unit), Meulaboh 18 unit, Aceh Timur dan Tamiang 12 unit, Lhoksemawe/Aceh Utara 8 unit, Aceh Tenggara 14 unit, Abdya 6 unit, Aceh Besar dan Sabang 15 unit, serta Aceh Tengah 4 unit. Namun sekarang perkembangan teknologi begitu cepat, sehingga sistem kilang padi keliling (mobile RMU) lebih cepat dalam pelayanan dan disukai oleh petani.

Pelayanan dengan RMU keliling ini akan mempermudah pelayanan kepada petani karena keterampilan RMU keliling ia juga memiliki alat pemecah (double roll yang produktif) dan pemutih biji beras yang berkualitas dan mengkilap (polisher canggih) untuk menghasilkan beras yang berkualitas, di mana dengan sistem mobile efisiensi produksi lebih terjamin dan pelayanan petani lebih cepat.

Bagaimanapun kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats) atau sering disebut Analisis SWOT, sangat diperlukan untuk dijadikan tolok-ukur dalam pengembangan alsintan di Aceh, yang pada akhirnya dapat mewujudkan kebijakan dan strategi pengembangan alsintan serta perlu dukungan parlemen Aceh, agar kebijakan pemerintah untuk modernisasi alsintan yang diperlukan dapat berjalan sebagaimana diharapkan. Nah!

* Prof. Dr. Ir. Yuswar Yunus, MP., Guru Besar Mekanisasi Pertanian Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Darussalam, Banda Aceh. Email: [email protected] (uri/syrafi/orat/AG)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id