Isak Tangis Iringi Vonis Darwis | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Isak Tangis Iringi Vonis Darwis

Isak Tangis Iringi Vonis Darwis
Foto Isak Tangis Iringi Vonis Darwis

* Terdakwa Pencoblos Ganda Dihukum 3 Tahun Penjara

MEULABOH – Isak tangis terdengar pelan dari deretan kursi pengunjung saat majelis hakim membacakan vonis terhadap Darwis (38), di ruang sidang Pengadilan Negeri (PN) Meulaboh, Aceh Barat, Senin (13/3). Darwis adalah terdakwa pencoblos ganda pada Pilkada Bupati Aceh Barat dan Gubernur Aceh, 15 Februari 2017 lalu.

Dalam sidang kemarin, Dariws dijatuhi vonis 36 bulan (3 tahun) penjara, serta denda Rp 36 juta subsidair 1 bulan kurungan. Vonis ini hampir sama dengan tuntutan JPU yang menuntut pidana penjara 36 bulan dan denda Rp 36 juta, subsidair 3 bulan kurungan.

Derai tangis keluarga terdakwa terdengar semakin keras, saat hakim menutup sidang dan kemudian petugas menggiring terdakwa ke sel pengadilan. Dari kalimat-kalimat yang terdengar, para sanak famili Darwis ini merasa sedih dengan nasib istri Darwis yang sedang menunggu kelahiran anak pertamanya. Istri Darwis sendiri tidak hadir dalam sidang pamungkas kemarin, karena usia kehamilannya sudah mencapai 9 bulan.

Raut kesedihan juga terlihat dari wajah sejumlah warga dan aparat Desa Manggi, Kecamatan Panton Reu, yang memadati ruang sidang. Mereka tidak membayangkan, Darwis harus menanggung beban yang sangat berat karena tindakannya mencoblos lebih dari satu kali (ganda), pada Pilkada Bupati Aceh Barat dan Gubernur Aceh, 15 Februari 2017 lalu.

Amatan Serambi, sidang pamungkas yang dimulai pukul 14.30 WIB kemarin, dipimpin oleh hakim ketua M Tahir SH didampingi hakim anggota T Latiful SH dan Al-Qudri SH. Sedangkan terdakwa Darwis didampingi Penasihat Hukum Said Attah SH. Sementara Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejari Aceh Barat adalah Ronald Reagan Siagian SH, Dedek Sumarta Suir SH, dan Mawardi SH.

Dalam vonisnya, hakim menyatakan, perbuatan terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana dengan sengaja melakukan perbuatan melawan hukum, memberikan suaranya lebih dari satu kali sebagaimana dakwaan jaksa penuntut umum. Hakim pun kemudian menjatuhi pidana penjara kepada terdakwa Darwis dengan pidana penjara 36 bulan (3 tahun) dan denda Rp 36 juta dengan subsidair 1 bulan kurungan. “Menetapkan dengan memerintahkan terdakwa tetap ditahan,” ucap hakim ketua dalam sidang tersebut.

Menanggapi vonis tersebut, terdakwa Darwis dan JPU sama-sama menyatakan akan mempertimbangkan putusan tersebut, dalam waktu tiga hari.

Seperti diberitakan, Darwis, warga sebuah desa di Aceh Barat ditahan dalam kasus pencoblos ganda pada pilkada bupati dan gubernur 15 Februari 2015 silam. Kasus itu berawal dari laporan M Dahlan, warga Manggi Kecamatan Panton Reu yang melaporkan Darwis ke Panwaslih Aceh Barat. Kasus itu diteruskan Panwaslih ke Polres Aceh Barat dan berujung ke jaksa hingga ke pengadilan.

Dalam persidangan, Darwis mengaku ia sudah mencoblos sesuai DPT (daftar pemilih tetap) di kampung kelahirannya di Desa Babah Iseng Kecamatan Pante Ceureumen. Lalu, saat pulang ke Desa Manggi Kecamatan Panton Reu (tempat Darwis dan istri menetap), ia mendengar pengumuman di masjid sehingga kembali mendatangi TPS (tempat pemunggutan suara) di desa tersebut dan memberikan suaranya.

Dalam nota pembelaannya, Darwis yang mengaku hanya bersekolah hingga kelas SD, meminta agar dibebaskan jari jeratan hukum karena dirinya antara lain mengaku tidak tahu bahwa tidak boleh mencoblos ganda. Ia juga mengaku tidak pernah menerima sosialisasi UU pilkada, termasuk ancaman pidana akibat coblos ganda.

Abaikan keadilan
Sementara itu, penasihat hukum terdakwa, Said Attah menjawab wartawan usai sidang kemarin menyatakan, vonis hakim telah mengabaikan rasa keadilan. Menurutnya, perbuatan terdakwa Darwis mencoblos ganda karena ketidaktahuan terhadap UU Pilkada yang ancaman hukuman sangat berat. “Apalagi terdakwa terlalu jujur dalam persidangan. Tapi tetap diberikan hukuman yang berat. Ini sangat memilukan,” kata Said.

Said Attah menilai Darwis merupakan korban yang gara-gara pilkada harus mendekam ke penjara. Selain itu, istri Darwis sedang hamil tua dan selama ini mereka hidup dalam kemiskinan. “Kami akan lakukan upaya banding ke Pengadilan Tinggi Aceh terhadap putusan hakim itu,” kata Said.

Jadi pelajaran
Ketua Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh Barat, Bahagia Idris yang dimintai tanggapannya usai menyaksikan sidang vonis kemarin, berharap kasus ini menjadi pelajaran berharga bagi semua warga bahwa supaya tidak bermain-main dengan hukum. Menurutnya, kasus coblos ganda yang menjerat Darwis ini pernah diupayakan diselesaikan secara kekeluargaan, tetapi ditolak oleh pelapor sehingga berujung ke pengadilan.

Mengenai pengakuan Darwis yang tidak mendapatkan sosialisasi UU Pilkada, terutama terkait ancaman hukuman coblos ganda, Bahagia mengatakan, itu merupakan domainnya Panwaslih. Menurutnya, KIP sebagai penyelenggara menyosialisasikan terkait tahapan pelaksanaan pilkada.(riz) (uri/wi/ovi/ovianti/DNN)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id