Ini Cara Malaysia Gaet Wisman | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Ini Cara Malaysia Gaet Wisman

Foto Ini Cara Malaysia Gaet Wisman

JUMLAH wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung ke Malaysia setiap tahun terus meningkat. Tapi, Tourism Malaysia tetap gencar mempromosikan tempat-tempat wisata di negara itu dengan berbagai cara. Salah satunya, melaksanakan program rutin tahunan dengan mengundang perwakilan wartawan dan agen travel dari hampir semua negara di Asean, bahkan dari Sudan.

Apa saja destinasi wisata di negara jiran itu pada 2016? Berikut catatan wartawan Serambi, Mursal Ismail yang ikut dalam Program Malaysia Mega Familiarisation Programme (Mega FAM) In Conjunction With dan 1Malaysia Super Sale & Shooping Malaysia Grand Launch 2016 di Kuala Lumpur, 28 Februari-3 Maret 2016. Laporan ini diturunkan dalam dua edisi mulai Minggu (6/3) hari ini.

***

MINGGU, 28 Maret 2016 pukul 11.30 WIB, Pesawat AirAsia yang saya tumpangi berangkat dari Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM) Blangbintang, Aceh Besar dan mendarat mulus di Kuala Lumpur International Airport (KLIA) Malaysia sekitar pukul 14.00 waktu setempat. Ketibaan itu merupakan yang paling terakhir dibanding rombongan wartawan dari Brunei Darussalam, Medan, dan Jakarta. Empat perwakilan berjumlah delapan orang, termasuk seorang Marketing Tourism Malaysia, Jakarta dijemput pemandu wisata, Mr Confi Cheong menggunakan Bus Tourism Malaysia.

Lelaki keturunan Cina yang mengaku sudah masuk Islam itu dengan ramah melayani rombongan kami. Kemudian,ia membawa kami ke sebuah restoran muslim mewah yang tak jauh dari KLIA. Seusai makan siang, kami melanjutkan perjalanan ke Aloft Hotel yang berada di kawasan KL Sentral.

Hampir sepanjang perjalanan menggunakan bus yang kira-kira menghabiskan waktu satu jam, Mr Confi yang sekarang disapa Abdullah itu tak bosan-bosan memberitahu nama setiap daerah yang dilewati bus menggunakan mik, termasuk Sepang yang terkenal dengan sirkuit MotoGP. Sekitar pukul 17.00 waktu Malaysia, kami tiba di hotel bintang lima itu.

Lalu, sekitar pukul 19.00, Abdullah yang mengaku sudah 25 tahun menjadi pemandu wisata ini tiba kembali di hotel untuk menjemput rombongan kami menuju restoran Melayu, D’Saji di Kuala Lumpur (KL) untuk makan malam. Suasana makan malam kami lebih ‘hidup’ dengan hadirnya sejumlah penari menampilkan tarian Melayu di atas panggung depan restauran tersebut.

Keesokan harinya, Abdullah tiba lagi di hotel sekitar pukul 09.30 waktu setempat. Setelah dijemput, kami dibawa ke gedung bersejarah di KL yaitu Bangunan Sultan Abdul Samad. Kami tak masuk ke gedung itu, tapi hanya foto-foto di luar. Selanjutnya, rombongan kami diberi kesempatan menaiki Menara Kuala Lumpur atau lebih dikenal dengan KL Tower. Untuk sekali naik menara setinggi 421 meter ini, setiap orang diharuskan membeli tiket sekitar 48 ringgit Malaysia (RM 48).

Di atas bangunan yang menjadi salah satu ikon kebanggaan ibu kota Malaysia ini, kami dapat melihat pemandangan indah Kuala Lumpur yang dipenuhi gedung-gedung pencakar langit, termasuk twins tower (menara kembar) yang juga menjadi ikon KL. Di atas bangunan ini, wisatawan berfoto ria. Selain itu, tanpa sadar kami dan pengunjung lain ke tower itu juga sudah difoto oleh fotografer di atas menara tersebut.

Makanya, jangan heran jika tiba-tiba terlihat foto anda sudah dibingkai dan dijual sekitar RM 80 dan RM 30 untuk foto berukuran kecil yang sudah ditempel dalam gantungan kunci. Jika Anda tak mengambilnya, itu juga tak jadi masalah bagi fotografernya. Karena harganya relatif mahal jika dibanding rupiah, maka tak heran di antara kami hanya seorang wartawan dari Brunei, Muhammad Zulkamal yang membeli foto kami yang sudah dibingkai besar dan yang sudah dijadikan gantungan kunci.

“Kalau dia, tak mahal karena mata uang negaranya dolar, dimana nilainya lebih tinggi dibanding ringgit. Kita nanti minta tolong sama Zulkamal untuk men-scan foto itu dan dikirim ke email kita,” saran Timbul Pandapotan Siallagan, wartawan asal Sumatera Utara sambil tertawa.

Setelah sekitar 30 menit berada di atas menara itu, kami dibawa jalan-jalan ke KLCC Shopping Mall dan makan siang di sana. Hingga Senin, 29 Februari 2016 siang, kegiatan yang kami ikuti belum masuk dalam acara pokok, tapi masih sebatas jalan-jalan.(*) (uri/ngbert/atoel/EL)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id