Cara Remaja Minnesota Manfaatkan Hari Libur | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Cara Remaja Minnesota Manfaatkan Hari Libur

Cara Remaja Minnesota Manfaatkan Hari Libur
Foto Cara Remaja Minnesota Manfaatkan Hari Libur

OLEH KAHFI RAFSANJANI, Siswa SMA Sukma Bangsa Pidie, sedang ikut Pertukaran Pelajar YES Bina Antarbudaya, melapor dari Minnesota, Amerika serikat

 ALHAMDULILAH, sudah enam bulan saya berada di Negeri Paman Sam, dalam rangka pertukaran pelajar selama setahun ke depan. Tentunya bukan saya sendiri yang mewakili Aceh tahun ini, tetapi ada tujuh siswa yang dengan bangganya bisa mewakili Aceh tercinta.

Saya mendapat penempatan di Winona, negara bagian Minnesota. Saya bersekolah di Winona Senior High School. Sekolah yang begitu besar dan luas, bahkan area parkirnya saja setengah dari luas sekolah. Di belakang sekolah saya terdapat dua lapangan sepakbola, sedangkan di sampingnya terdapat sebuah lapangan baseball. Sekolah dengan julukan Winhawks ini adalah sekolah negeri dengan kurang lebih 1.200 siswa. Lumayan banyak dibandingkan sekolah saya di Aceh, Sukma Bangsa Pidie.

Menerjunkan diri ke dalam budaya-budaya baru tentu saja menjadi sebuah tantangan tersendiri, dalam hal bergaul dan berteman, misalnya. Alhamdullilah, saya bisa membangun pertemanan di sini dengan cara mengikuti kegiatan-kegiatan ekstrakulikuler seperti sepakbola, dan juga bermodalkan budaya ramah orang Indonesia yang membuat mereka ingin berkenalan dengan saya.

Pertemanan di sini juga sangat fleksibel dan tidak membedakan antara junior dengan senior. Semua murid SMA berbaur satu sama lain.

Waktu itu, saya pulang dari latihan sepakbola. Saya meminta tumpangan kepada salah satu teman saya yang bernama Drew. Dengan senang hati dia memberi saya tumpangan. Kami berbincang banyak hal tentang kehidupan remaja di Amerika dan Indonesia. Kami saling berbagi cerita satu sama lain. Kemudian saya bertanya tentang apa yang remaja Amerika lakukan pada hari libur.

Di Amerika, sekolah hanya berlangsung lima hari dalam seminggu. Hari Sabtu dan hari Minggu libur yang biasanya mereka sebut weekend. Selain untuk beristirahat dan berkumpul dengan keluarga, hari libur juga dimanfaatkan untuk bekerja oleh remaja-remaja di sini. Pekerjaan yang dilakukan oleh remaja sekolah di sini cukup beragam. Mulai dari menjadi penjaga kasir di restoran, bekerja di areal pertanian orang lain, sampai menjadi baby sitter. Mereka memilih pekerjaan yang cocok dan sesuai dengan mereka. Umumnya mereka bekerja di supermarket menjadi kasir, membantu pembeli untuk menemukan barang yang mereka cari dan merapikan barang-barang di rak.

Untuk mendapatkan pekerjaan, mereka harus berusia 16 tahun ke atas. Hal yang lebih dulu mereka harus lakukan adalah mendaftar dan mengisi formulir, biasanya secara online. Setelah proses pendaftaran dan pengisian formulir selesai, selanjutnya mereka harus melakukan tahap wawancara. Dalam sesi ini yang akan ditanyakan adalah perihal kenapa mau bekerja, posisi apa yang cocok, dan terkadang mereka juga akan diberi sebuah contoh situasi yang akan dihadapi dalam perkerjaan baru itu nantinya, lalu mereka harus memberi pendapat terhadap kondisi tersebut.

Setelah melewati sekian proses tersebut, selanjutnya dalam 2-3 hari mereka akan dihubungi untuk dinyatakan diterima atau tidak.

Uang yang mereka hasilkan dari kerja part-time ini terbilang cukup menarik, yaitu 8-10 dolar AS per jamnya. Mereka biasanya bekerja 4-7 jam per hari. Dalam seminggu, mereka bekerja dua hari. Jadi, mereka mendapat kira-kira $100 USD per minggu. Biasanya mereka akan dibayar setelah 24 jam bekerja. Ini uang yang cukup banyak, kan?

Coba kalau dirupiahkan, kira-kira 1 juta rupiah setiap minggunya. Di Amerika jumlah penduduk miskinnya sangat sedikit. Jadi, rata-rata teman sekolah saya berasal dari keluarga kelas menengah.

Sebelumnya, saya berpikir mereka bekerja untuk membantu beban keluarga. Tetapi ternyata tidak, mereka bekerja untuk diri sendiri dan untuk mendapatkan pengalaman bagaimana kondisi riil dunia kerja yang kelak setemat kuliah akan mereka rasakan.

Alasan remaja Amerika bekerja sangatlah beragam. Ada yang bekerja untuk bisa membeli sesuatu yang “lebih”. Misal, untuk beli pakaian. Tentu saja semua itu sudah dibelikan oleh orang tuanya, tapi terkadang mereka ingin punya lebih, maka mereka harus membelinya sendiri.

Alasan lainnya adalah untuk memanfaatkan waktu luang dengan hal-hal yang bermanfaat, yaitu dengan bekerja.

Menabung juga menjadi alasan mereka bekerja di sela-sela waktu sekolah. Ada beberapa teman saya yang bekerja untuk menabung. Mereka bahkan belum tahu mau diapakan uang itu nanti. Tapi mereka hanya menabung dan menggunakannya di masa yang akan datang.

Ya, itulah budaya bekerja remaja Amerika. Saya rasa budaya ini sangat patut dicontoh oleh remaja Aceh. Setidaknya, kita memiliki pengalaman dalam merasakan kondisi riil dunia kerja. Lebih dari itu, kita bisa menumbuhkan kedisiplinan dan etos kerja yang tinggi, di samping berpeluang menabung di masa muda.

Sungguh, mengikuti Pertukaran Pelajar Bina Antarbudaya ke Amerika membuat saya melihat sesuatu hal dari banyak sudut pandang. Banyak pengalaman yang sudah saya dapatkan selama di sini. Alhamdulillah.

* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskahnya, termasuk foto dan identitas Anda ke email [email protected] (uri/strid/lleonora/AE)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id