Teks Sastra dan Kehidupan Sosial | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Teks Sastra dan Kehidupan Sosial

Foto Teks Sastra dan Kehidupan Sosial

Karya Herman RN

KARYA sastra merupakan representasi sebuah zaman. Setiap teks sastra tidak bisa pula lepas dari kondisi sosial pengarang dan kehidupan sosial penikmat. Teks-teks sastra semisal Hikayat Prang Sabi, Hikayat Prang Gompeuni, dan sejenisnya lahir dari kondisi sosial masyarakat Aceh saat itu yang masih dalam suasana perang. Novel-novel kontemporer dewasa ini pun lahir dari kondisi setiap pengarang dan latar sosial suatu masyarakat. Sebab itu, sebuah teks sastra tidak lepas dari pengarang dan zaman.

Hal ini sudah tampak sejak dulu, sejak karya sastra mulai dikenal luas oleh masyarakat. Dalam konteks Indonesia, novel-novel yang lahir di masa Balai Pustaka selalu mencerminkan kehidupan sosial di masa itu. Tatkala Pujangga Baru muncul, karyakarya berbau perlawanan terhadap Belanda pun bermunculan. Demikian pula teks-teks yang lahir di masa Angkatan ’45 yang menggambarkan kondisi Indonesia selepas dari penjajahan.

Meskipun setiap karya sastra lahir tidak lepas dari kondisi sosial si pengarang dan zaman di masanya, ada karya-karya tertentu yang juga masih “hidup” di zaman berikutnya. Sebut saja di antaranya Langit Makin Mendung karya Kipanjikusmin atau Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis.

Meskipun teks-teks sastra ini hidup di zaman sebelum ’60-an, gambaran osial dalam teks tersebut masih menjadi katarsis (penyucian jiwa) bagi penikmat di zaman kini bahkan di masa akan datang, di saat umur dunia akan tamat.

Ambil contoh Langit Makin Mendung. Terlepas dari kontroversial tokoh dan jalan cerita, kondisi sosial yangdigambarkan pengarang dalam cerpen tersebut masih tampak nyata hingga sekarang. Pemerkosaan masih marak, pencurian kian meraja lela, korupsi dan nepotisme tidak usah ditanya. Artinya, pengarang Langit Makin Mendung yang berkisah tentang kondisi di masa itu ternyata mampu menangkap isyarat kehidupan sosial di masa kini. Di sinilah kelebihan pengarang sastra dibanding penulis sejarah.

Penulis sejarah hanya mencatat peristiwa di masa yang telah lewat. Namun, penulis karya sastra mampu mencatat peristiwa yang telah lewat, sedang terjadi, dan masa akan datang.

Demikian pula cerita Robohnya Surau Kami. Pembaca dituntut untuk menyeimbangkan antara dunia dan akhirat. Tentu saja hal ini menjadi ‘itibar’ bagi setiap umat bahwa Tuhan Yang Esa bukan gila sembah, gila puji. Peduli dengan sesama insan juga menjadi jalan menuju cinta Tuhan. Begitulah disatirkan Navis, pengarang sastra dari Sumatera Barat. “….kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua? Sedang harta bendamu kau biarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau ebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas.

Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang Aku menyuruh engkau semuanya eramal walau engkau miskin. Engkau kira Aku ini suka pujian, mabuk disembah saja, ingga kerjamu tidak lain hanya memuji-muji dan menyembah-Ku saja? Tidak. Kamu semua mesti masuk neraka. Hai malaikat, halaulah merekaini kembali ke neraka. Letakkan di keraknya!”

Cuplikan teks Robohnya Surau Kami di atas me jadi pembelajaran bagi setiap insan tentang “bekerjalah untuk duniamu seolah engkau hidup selamanya dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan engkau mati esok hari.” Maka, apa yang dilakukan sejumlah orang, seperti Edi Fadhil, dalam membangun rumah bagi masyarakat miskin adalah bentuk lain beribadah kepada Tuhan, menyeimbangkannya dengan kehidupan sosial. Ibadah dalam artian ‘berbakti kepada Tuhan’ tidak bisa ditafsirkan sekadar menyembah dan memuji Dia.

Ibadah dalam makna luas harus diterjemahkan bagaimana menyenangi Tuhan, mencintai Tuhan. Menyenangi hamba ciptaan Tuhan tentu bagian dari menyenangi Tuhan. Mencintai cipataan- Nya tentu bagian mencintai Dia. Di sinilah maksud tersirat Navis dalam Robohnya Surau Kami. Sebalik dari itu, soal keikhlasan hanya si hamba dan Tuhan yang tahu.

Bisa jadi seseorang membantu orang lain karena berharap pujian, jabatan, dan sebagainya. Katakanlah seorang anggota dewan yang memberikanbantuan sosial dari dana aspirasi. Kenapa setiap sumbangan harus dibenturkan dengan birokrasi dan persen? Dalamnya laut dapat diukur, dalamnya hati seseorang tiada yang tahu. Bisa saja, yang berpakaian sufi dan saban hari di atas sajadah kelak menjadi penghuni kerak neraka. Sebaliknya, yang hidup biasa-biasa saja mungkin akan menghuni surga.Itu semua hak prerogatif Tuhan, tentunya dengan penilaian terhadap setiap amal.

* Herman RN, pengkhidmad sastra di Banda Aceh. (uri/leny/andraini/GC)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id