Asrizal Minta Foto Pahlawan Perempuan Aceh Dihijabkan | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Asrizal Minta Foto Pahlawan Perempuan Aceh Dihijabkan

Asrizal Minta Foto Pahlawan Perempuan Aceh Dihijabkan
Foto Asrizal Minta Foto Pahlawan Perempuan Aceh Dihijabkan

BANDA ACEH – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) Asrizal H Asnawi meminta semua foto pahlawan perempuan dari Aceh agar dihijabkan ketika akan digunakan pada semua tempat, termasuk pada mata uang. Permintaan itu disampaikan kepada Direktur Kepahlawanan Nasional, Kemensos, Drs Hotman MSi berkenaan dengan keluarnya pecahan mata uang Rp 1000 emisi 2016 yang menyematkan gambar Cut Mutia tanpa hijab.

“Iya benar, tadi saya meminta hal tersebut agar foto-foto pahlawan dan pejuang wanita kita dihijabkan. Beliau (Direktur Kepahlawanan Nasional, Hotman) setuju tetapi tentunya akan didiskusikan melalui pihak keluarga terlebih dahulu,” kata Asrizal kepada Serambi, Kamis (9/3) seusai mengikuti sidang mediasi antara dirinya dengan Bank Indonesia di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat.

Seperti diketahui, sebelumnya Asrizal melalui kuasa hukumnya dari Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA), Safaruddin menggugat Bank Indonesia (BI) ke PN Jakarta Pusat pada Selasa, 24 Januari 2017 karena mengeluarkan pecahan uang Rp 1000 dengan menyematkan pahlawan perempuan Aceh, Cut Mutia, tanpa mengenakan penutup kepala. Saat ini, gugatan tersebut sudah masuk tahapan mediasi.

Asrizal menjelaskan, alasan dirinya meminta agar foto semua pahlawan perempuan Aceh dihijabkan agar apabila nanti ada lembaga tertentu ingin memasang foto pahlawan perempuan dari Aceh sudah berhijab. “Semua kita lakukan agar dimasa hadapan ketika BI atau lembaga lainnya ingin mengambil gambar pahlawan kita semuanya sudah berhijab,” ujar Ketua Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) DPRA ini.

Ia juga menyatakan, pertemuan dirinya yang didampingi kuasa hukum, Safaruddin dengan Hotman, di kantornya, Jakarta, untuk mempertanyakan foto Cut Mutia yang mana yang diambil pihak BI sebagai pedoman untuk disematkan pada uang Rp 1000. “Kita juga berniat mengundang beliau untuk membicarakan banyak hal tentang Aceh terutama masalah pejuang dan pahlawan wanita Aceh,” katanya.

Namun, tambahnya, ada hal yang mengejutkan yang muncul dalam pertemuan terbatas itu. “Hal yang mengejutkan ternyata penandatanganan persetujuan gambar tersebut oleh pihak ahli waris dilakukan di depan Kadis Sosial Aceh dan Asisten II Pemerintah Aceh yang selama ini diam seolah-olah tidak tahu menahu tentang hal tersebut. Saya kaget saja ternyata pemerintah Aceh pun membiarkan foto tanpa hijab itu dijadikan gambar uang 1000,” ungkapnya.

Selain itu, Asrizal H Asnawi juga menyampaikan bahwa sidang mediasi pertama antara dirinya dengan BI yang berlangsung di PN Jakarta Pusat tidak dapat dilakukan. Pasalnya, karena pihak BI belum menyiapkan bahan atau draf yang akan diajukan dalam sidang tersebut. Sebab itu, majelis hakim menunda sidang mediasi hingga Kamis (14/3) mendatang.

“Hakim memberi waktu 1 minggu lagi kepada kedua belah pihak untuk duduk dahulu sebelum sidang berikutnya. Hakim mediasi juga meminta pihak BI agar bisa mengirimkan pihak yang bisa mengambil keputusan tidak cuma tim kuasa hukumnya saja yang datang,” kata Asrizal. (mas) (uri/leny/andraini/GC)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id