Ziarah ke Gua Hira | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Ziarah ke Gua Hira

Foto Ziarah ke Gua Hira

HENDRO SAKY, wartawan di Banda Aceh, melaporkan dari Mekkah

JARUM jam telah menunjukkan pukul 03.00 waktu Mekkah. Sesuai dengan janji, pagi ini kami akan berangkat menuju Gua Hira di Jabbal Nur atau Gunung Bercahaya. Menurut pemandu kami, gunung itu disebut Gunung Bercahaya, karena di tempat itulah Nabi Muhammad saw menerima wahyu pertama.

Meski jam terhitung masih sangat pagi, tapi suasana di Masjidil Haram sangat ramai. Kami yang tinggal di salah satu hotel di Tower Clock Mekkah, atau lebih dikenal dengan Tower Zamzam–berjarak hanya beberapa ratus meter dari Kakbah–masih melihat ribuan umat manusia dari seluruh penjuru dunia perlahan memasuki masjid yang agung itu.

Bapak Ahmad Asrowi, penunjuk jalan kami ke Gua Hira, telah siap dengan mobil sewaannya. Beberapa menit kemudian, kami pun tiba di kaki Bukit Jabbal Nur.

Subhanallah, Mahasuci Allah. Cuaca masih sangat dingin menusuk tulang. Namun, keinginan untuk berziarah ke tempat Rasulullah kerap menyepi di gua tersebut, mengalahkan rasa dingin yang menyergap.

Perlahan, kami mulai bergerak dari kaki Jabbal Nur. Pemandu mengingatkan bahwa jalan yang akan kami tempuh untuk mencapai Gua Hira lumayan melelahkan. “Dengan jumlah lebih dari seribu anak tangga dengan elevasi kemiringan 60 derajat, dibutuhkan stamina yang tangguh,” katanya mengingatkan.

Saat melewati kaki Jabbal Nur ini, terdapat deretan rumah penduduk lokal dan beberapa toko kecil menjual aksesori, seperti untaian tasbih, boneka unta, dan batu akik.

Setelah melewati rumah dan toko tersebut, kami menaiki jalanan yang terbuat dari beton kasar, dengan kemiringan sekitar 20 derajat. Setelah mencapai beberapa ratus meter, terdapat anak tangga untuk menuju Gua Hira yang berada di puncak gunung.

Jalan yang terdapat anak tangganya lumayan lebar dan dapat dinaiki beberapa orang sekaligus. Namun, semakin ke atas, jalan semakin kecil dan kemiringan hampir mencapai 60 derajat.

Awalnya saat melewati beberapa puluh anak tangga, saya tak begitu lelah. Tapi semakin ke atas, makin butuh energi besar. Bahkan kami terpaksa beristirahat beberapa kali duduk di bagian di anak tangga, kemudian kami lanjut kembali saat tenaga telah pulih.

Setelah menempuh waktu 1,5 jam perjalanan, kami tiba di puncak. Di atas ini suguhan pemandangan Kota Mekkah yang berhias jutaan lampu membuat rasa lelah hilang. Tepat di atas Jabbal Nur, suara kumandang azan pertama dari Masjidil Haram seolah menyambut kedatangan kami.

Di puncak Jabbal Nur terdapat bentang yang agak luas, kira-kira seukuran lapangan voli. Di sini juga terdapat bangunan yang terbuat dari kayu, menjual berbagai aksesori dan cenderamata.

“Alhamdulillah, sudah sampai,” batinku. Tapi ternyata, lokasi Gua Hira tidak berada persis di puncak gunung. Terdapat jalan kecil yang agak terjal dan sempit pada bagian lereng gunung yang mesti dilewati guna mencapai lokasi gua.

Setelah melewati jalan sedikit menurun pada bagian lereng, kita akan sampai pada bagian mulut gua yang sangat sempit. Untuk masuk ke dalam, tubuh harus berjalan miring, dan hanya dapat dilewati satu orang. Setelah melewati mulut gua, kita harus jalan menunduk, melewati langit-langit gua yang sempit. Akhirnya, kita tiba pada gua kecil yang terpisah dari mulut gua yang menjadi pintu masuk.

Namun, tidak hanya kami yang berada di Gua Hira. Ada puluhan jamaah umrah lainnya dari berbagai negara yang juga telah berada di puncak tersebut. Semuanya antre satu per satu untuk dapat masuk.

Saat di dalam gua, terlihat dari luar ragam ritual yang dilakukan peziarah. Ada yang hanya berdoa, bahkan beberapa di antaranya tampak shalat di gua tersebut. Sama sekali tak ada polisi atau pejabat berwenang lainnya di Gua Hira.

Gua ini tak begitu besar. Hanya dapat menampung tiga orang dewasa. Di dalam gua ini terdapat batu yang agak besar, tempat yang pernah diduduki Nabi Muhammad saw saat menerima wahyu pertama.

Saat tiba dan dapat duduk di batu tersebut, ingatan akan 14 abad yang lalu, ketika Rasulullah di dalam gua ini menyepi (berkhalwat), dan mesti melewati jalan terjal berliku, rasa lelah setelah melewati 1.215 anak tangga dengan kemiringan 60 derajat langsung hilang. Di dalam hati terbayang bagaimana Nabi Muhammad mencapai gua ini dan saat itu belum ada anak tangga seperti saat ini. Sungguh bukan perjuangan yang ringan.

Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskahnya, termasuk foto dan identitas Anda ke email [email protected] (uri/sih/ebrinaldy/AF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id