Korban Banjir Tangse Butuh Dana Rehab | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Korban Banjir Tangse Butuh Dana Rehab

Korban Banjir Tangse Butuh Dana Rehab
Foto Korban Banjir Tangse Butuh Dana Rehab

* 26 Rumah tak Dapat Bantuan

SIGLI – Sebanyak 26 warga Ranto Panyang, Tangse yang rumahnya terdampak bencana lingkungan (banjir-longsor), di kawasan ini 25 Februari 2017 lalu, berharap pemerintah tidak hanya membantu 2 keluarga (K) yang rumahnya rusak berat saja. Tapi kemudian mengabaikan 26 korban yang rumahnya –menurut tim verifikasi Pemkab Pidie– hanya rusak ringan. Sehingga tidak mendapat prioritas.

Keuchik Ranto Panyang, Hamdani, Rabu (8/3) mempertanyakan sikap diskriminatif pemerintah dengan memecah belah hubungan antarwarga yang senasib ditimpa musibah bencana. Dari 28 keluarga yang rumahnya diterjang banjir dalam satu gampong, hanya 2 rumah yang mendapat bantuan pembangunan rumah, karena dikategorikan ‘Rusak Berat’. Sementara 26 rumah yang dinilai ‘Rusak Ringan’ tidak mendapat bantuan.

“Aparatur gampong sudah mendata, ada 28 rumah yang rusak akibat bencana, terlepas kondisinya rusak berat atau ringan. Menurut kami seluruh korban bencana wajib tetap dibantu,” kata Hamdani, Keuchik Gampong Ranto Panyang, Tangse.

Tim verifikasi Pemkab Pidie kemudian turun ke gampong dan menggolongkan para korban bencana ini dengan kategori rusak berat dan rusak ringan. Sehingga membuat pusing korban bencana lainnya dan aparatur gampong yang sudah bermusyawarah terkait penanganan pascabencana.

“Kebanyakan korban banjir yang rumahnya dikategorikan rusak ringan, juga merupakan warga kurang mampu. Sehingga hanya bisa berharap kepada pemerintah,” kata Kepala Pemerintah Gampong Ranto Panyang ini.

Ia juga meminta, Pemkab Pidie tak membebankan persoalan antarwarga ini hanya kepada pemerintah gampong. Karena jika hanya alasan tak ada anggaran, pemerintah semestinya tidak mengabaikan korban rumah rusak ringan, karena data korban ini pun kemudian juga dikirim oleh BPBD Pidie ke BNPB Pusat untuk membiayai proses rehabilitasi secara bersama.

Saat ini, Pemerintah Gampong Ranto Panyang harus memikirkan penanganan segera untuk 28 warganya yang menjadi korban banjir dan longsor. “Dua keluarga yang rumahnya rusak berat, perlu segera mendapat tempat tinggal sederhana. Sedangkan yang rusak ringan juga sangat membutuhkan biaya untuk memerbaiki rumahnya, sebelum banjir susulan datang menerjang lokasi yang sama,” ujarnya.

Kedua rumah rusak berat itu milik Supiani dan Asiah, yang diusul BPBD Pidie mendapat bantuan rehab total, namun belum ada kepastian kapan upaya rehab itu dilakukan. Sementara, korban terpaksa mengungsi ke rumah kerabat yang juga keluarga kurang mampu. “Kami minta penanganan segera, jangan setelah diverifikasi, kemudian diminta menunggu tahun depan untuk kebutuhan darurat ini,” kata kerabat korban kepada Serambi.

Secara fisik, kedua rumah itu tidak bisa ditempati lagi karena rusak berat. Sementara yang rusak ringan, ada yang tanahnya terancam amblas meski bangunan rumah hanya ‘rusak ringan’ sehingga tak masuk kategori penerima bantuan.

Untuk mencegah banjir susulan, pembangunan tebing penahan dinding sungai (talud) juga harus segera dibangun untuk mengantisipasi luapan air sungai.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pidie, Dewan Ansari, Rabu (8/3) mengaku, pihaknya belum memutuskan hasil verifikasi karena tim yang melakukan masih bekerja untuk mendata kerusakan akibat banjir Tangse ini.

Karena selain, rumah, kerusakan parah juga terjadi pada badan jalan, tanggul, dan sarana publik lainnya. Untuk verifikasi rumah, tim masih akan turun ke gampong untuk melakukan pengecekan kondisi rumah.

Pihaknya juga telah menerima laporan warga terkait upaya normalisasi sungai yang sangat dibutuhkan untuk mencegah bencana susulan. “Tim akan menilai dan mungkin akan mengajukan usul normalisasi sungai. Begitu juga dengan kerusakan jalan dan hunian sementara untuk korban rumah rusak berat,” katanya.(aya) (uri/aradhia/ayanti/FD)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id