Darwis: Saya Orang Bodoh | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Darwis: Saya Orang Bodoh

Darwis: Saya Orang Bodoh
Foto Darwis: Saya Orang Bodoh

* Pengakuan Terdakwa Kasus Coblos Ganda

MEULABOH – Darwis (28) terdakwa kasus dugaan coblos ganda pada Pilkada Bupati Aceh Barat dan Gubernur Aceh, 15 Februari lalu, Senin (6/3) kemarin mengikuti sidang perdana di Pengadilan Negeri (PN) Meulaboh. Darwis menyatakan dirinya tidak tahu jika tindakan mencoblos lebih dari satu kali, akan mendapat hukuman penjara yang sangat berat.

“Tidak tahu saya. Saya orang bodoh,” ungkap Darwis ketika diwawancarai wartawan setelah sidang perdana kasus tersebut di Pengadilan Negeri (PN) Meulaboh, Senin (6/3).

Pria yang sudah menikah dan kini istrinya dalam keadaan hamil 9 bulan itu mengaku tidak pernah mendapatkan sosialisasi Undang-undang Pilkada bupati dan gubernur yakni terhadap ancaman penjara bila melakukan perbuatan coblos ganda atau memilih lebih dari satu kali. “Saya tidak bisa baca tulis. Saya hanya sekolah kelas 3 SD,” kata Darwis.

Ketika ditanya lebih jauh tentang motif perbuatan coblos ganda sehingga menyeret dirinya berurusan dengan hukum, Darwis hanya memilih diam. Pria yang hari-hari bekerja sebagai petani, tidak banyak mengeluar kata-kata. Ia lebih banyak menjawab “tidak tahu”.

Sidang perdana kasus dugaan coblos ganda atau kasus tindak pidana UU Pikada di PN Meulaboh, Senin kemarin, diketuai M Taher SH dengan hakim anggota T Latiful SH dan Al-Qudri SH. Sementara Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejari Aceh Barat adalah Mawardi SH. Turut pula terdakwa Darwis dalam persidangan dengan agenda pembacaan dakwaan didampingi seorang penasehat hukum.

Sidang kembali ditunda pada Selasa (7/3) dengan agenda tanggapan terdakwa terhadap dakwaan JPU. Namun dalam sidang kemarin, hakim ketua menyatakan, sidang UU Pilkada itu harus selesai dalam waktu 7 hari, sesuai dengan aturan dalam undang-undang tersebut.

Seperti diberitakan, Polres Aceh Barat menahan Darwis warga sebuah desa di Aceh Barat dalam kasus coblos ganda pada pilkada bupati dan gubernur pada 15 Februari 2017 silam. Kasus itu berawal laporan dari saksi pasangan calon yang diadukan ke Panwaslih dan ditemukan dugaan tindak pidana sehingga diteruskan ke Polres setempat. Kasus tersebut berujung ke jaksa dan diteruskan ke PN Meulaboh.(riz) (uri/ngbert/atoel/EL)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id