Keluarga Bantah Mukhlis Adi Bandar Narkoba | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Keluarga Bantah Mukhlis Adi Bandar Narkoba

Keluarga Bantah Mukhlis Adi Bandar Narkoba
Foto Keluarga Bantah Mukhlis Adi Bandar Narkoba

* Sesalkan Kenapa Ditembak

BANDA ACEH – Pihak keluarga almarhum Mukhlis Adi (35) keberatan terhadap klaim polisi yang menuduh korban sebagai bandar narkoba, juga tidak terima tindakan polisi yang telah menembak korban hingga tewas.

Mukhlis Adi merupakan warga Gampong Blang Rambong, Kecamatan Banda Alam, Aceh Timur. Sebagaimana diberitakan terdahulu, polisi menduganya bandar narkoba. Ia kemudian tewas setelah ditembak saat berusaha kabur dari sergapan Tim Sat Reskrim Polda Aceh, Jumat (24/2) sekitar pukul 17.00 WIB.

Tapi Anwar (31), adik kandung korban, menyangkal bahwa abangnya itu bandar narkoba. “Dia tidak terlibat sabu-sabu. Kalau memang dia bandar sabu, kenapa setelah diambil, pihak Polda Aceh tak berani mengantar jenazahnya ke rumah? Bahkan, yang datang meminta izin ke pihak keluarga justru Wakapolres Aceh Timur dan Kapolsek Banda Alam. Sedangkan mereka tak berani datang,” ungkap Anwar kepada Serambi, Senin (27/2).

Ia juga mempertanyakan barang bukti. “Kami tidak terima tuduhan itu. Apakah ada bukti dari tuduhan mereka itu? Kalau memang dari korban ada ditemukan sabu-sabu di tempat kejadian, seharusnya diperlihatkan. Tapi saksi-saksi yang melihat waktu itu memang tak ditemukan barang bukti dari korban,” jelas Anwar.

Ia sampai pada asumsi bahwa barang bukti yang dikatakan polisi ditemukan 1 ons itu merupakan rekayasa polisi saja. “Barang bukti 1 ons yang diperlihatkan polisi kepada saksi (seorang warga Seunebok Benteng yang ikut mendampingi korban di dalam mobil polisi setelah ditembak -red) adalah barang bukti dari dalam mobil tersebut. Karena itu, kami tak terima korban dituduh sebagai bandar narkoba karena tidak ada bukti. Tapi kalau ada bukti, kami terima apa pun yang dilakukan untuk korban,” ujar Anwar.

Selain itu, pihaknya juga tak terima tindakan polisi yang menembak korban. “Kami juga tak terima korban ditembak. Kami minta keadilan, sesuai hukum yang berlaku di negara ini. Jangan mereka buat masyarakat sesuka hati mereka. Sebagai penegak hukum, seharusnya mereka lebih mengerti hukum,” jelas Anwar.

Anwar pun menceritakan kronolgis kejadian itu. Pada Jumat (24/2) sekitar pukul 17.00 WIB, datang empat anggota tim Polda Aceh menggunakan sepeda motor menghampiri korban yang sedang minum kopi di warkop Gampong Seunebok Benteng, Kecamatan Banda Alam (sekitar 1 km dari rumah korban).

Kemudian, datang lagi sejumlah polisi berpakaian preman turun dari mobil dan langsung hendak menangkap korban. Saat hendak ditangkap, ujar Anwar, korban mempertanyakan apa salahnya. Setelah terjadi perdebatan bahwa ia mengaku tak salah, korban pun menghindar dan pergi ke sawah di belakang warkop. Lalu polisi melepaskan tembakan peringatan ke atas. Setelah itu, polisi menembak korban di bahu kanan.

Menurut saksi mata, sebut Anwar, korban ditembak dari jarak 5 meter. “Padahal kalau polisi mau, dia bisa ditangkap dan tidak harus ditembak. Setelah terjatuh di sawah, korban diinjak-injak, kemudian ditembak di bagian paha kanannya,” jelas Anwar.

Saat Tim Sat Reskrim Polda Aceh datang, jelas Anwar, pihak Polres Aceh Timur dan Polsek Banda Alam, tak tahu apa-apa. Padahal, korban adalah keuchik di Gampong Blang Rambong.

Setelah korban ditembak, jelas Anwar, polisi kemudian membawanya ke RS Graha Bunda. Tapi, karena RS Graha Bunda tak sanggup menangani, pihak keluarga berinisiatif membawa korban ke Rumah Sakit Umum dr Zainoel Abidin (RSUZA) di Banda Aceh.

Namun, dalam perjalanan sebatas Pantonlabu, Aceh Utara, korban mengembuskan napas terakhir pukul 21.00 WIB, Jumat (24/2). Jenazah korban kemudian dibawa ke RS Cut Meutia untuk diautopsi.

Selama dalam perjalanan di dalam ambulans, kata Anwar, korban ditemani istri, abang, dan pakciknya. Juga dikawal pihak kepolisian. Selama dalam mobil ambulans posisi tangan korban tetap diborgol.

“Setelah korban meninggal, barulah garinya dibuka. Hal ini juga kami tak terima bahwa korban diperlakukan seperti itu,” jelas Anwar.

Setelah korban meninggal, jelas Anwar, pihak polisi meminta keluarga untuk menandatangani surat pernyataan bahwa korban adalah bandar narkoba. Tapi, keluarga tak mau menandatangani.

Selanjutnya, keluarga membawa jenazah korban pulang dan tiba di rumah almarhum pukul 07.00 WIB, Sabtu (25/2) pagi. Selanjutnya dikebumikan pukul 12.00 WIB, Sabtu siang.

Korban, menurut Anwar, meninggalkan tiga anak dan seorang istri, Muslina (32). Anaknya, Monika (13) belajar di dayah, Najwa Salsabila (9) kelas III SD, dan Fikri (8) kelas II SD.

Selain sebagai keuchik di Gampong Blang Rambong, sejak tahun 2014, korban sehari-hari juga bersawah dan berkebun. Sedangkan istrinya hanya ibu rumah tangga. Bahkan, keluarga ini tinggal di rumah kayu dan beratap rumbia yang kondisinya memprihatinkan.

Sementara itu, Ketua Forum Keuchik Kecamatan Banda Alam, Aceh Timur, Tgk Idris, meminta pihak Polda Aceh menjelaskan kepada pihak keluarga dan masyarakat korban tentang kesalahan dan apa motif sehingga korban ditembak dan meninggal.

“Almarhum merupakan keuchik aktif dan merupakan pejabat negara. Negara kita kan negara hukum, semuanya tak boleh menduga-duga, tapi negara hukum semuanya harus disesuaikan dengan hukum,” ungkap Tgk Idris kepada Serambi, Senin (27/2).

Sementara itu, Kabid Humas Polda Aceh, Kombes Pol Goenawan yang dikonfirmasi Serambi, Senin (27/2) menegaskan, Mukhlis Adi adalah bandar dan termasuk dalam salah jaringan atau kelompok peredaran narkoba di Aceh Timur. Hal itu berdasarkan barang bukti dan pengintaian yang dilakukan polisi selama dua bulan terakhir.

“Tersangka berkaitan dengan kelompok itu (narkoba), dan ada barang bukti. Kemudian kita sudah mengintai selama dua bulan, kita berharap jangan mendramatisir karena beredar foto rumahnya. Polisi bekerja profesional berdasarkan penyelidikan dan barang bukti yang memastikan almarhum bandar dan jaringan,” pungkas Kombes Pol Goenawan. (tim) (uri/strid/lleonora/AE)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id