Hasrat Komunitas Aceh Bangun Meunasah di Sydney | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Hasrat Komunitas Aceh Bangun Meunasah di Sydney

Hasrat Komunitas Aceh Bangun Meunasah di Sydney
Foto Hasrat Komunitas Aceh Bangun Meunasah di Sydney

MAHASISWA pascasarjana Universitas Medan (Unimed) Sumatera Utara studi banding ke SMA, Dinas Pendidikan di Victoria, dan Universitas Victoria, Melbourne, Australia. Sedangkan di Ibu Kota Autralia, Sydney, mengunjungi Universitas Macquarie. Berikut di antara catatan perjalanan Muhajir Ismail, Guru SMKN 1 Jeunieb yang sedang tugas belajar S2 Administrasi Pendidikan di Unimed saat studi banding, 27 November-4 Desember 2016 itu.

Perjalanan dengan bus dari Melbourne ke Sydney kira-kira 870 kilometer itu hanya sekitar 10 jam. Saat tiba di Sydney, pertama terlintas di benak saya adalah berpose di Opera House, gedung bioskop kebanggaan Australia yang menjadi tujuan utama wisatawan ke negeri kanguru itu. Saya langsung selfie berlatar belakang Opera House dan tak lupa ungguh ke media sosial.

Beberapa menit setelah foto saya beredar di Facebook, saya tertantang dengan komentar akun Suhra Ilyas yang mengatakan belum sah ke Australia jika belum bertemu komunitas orang Aceh di Sydney. Selanjutnya kepada saya diberikan nomor Hp Darwis Arahman, Ketua Komunitas Aceh di Sydney.

Akhirnya saya tersambung dengan pria yang akrab dipanggil Bang Darwis. Beliau ngobrol dalam bahasa Aceh yang fasih, padahal dirinya sudah 30 tahun menetap di Australia. Bang Darwis mengundang kami ke rumahnya di Birrong yang berjarak sekitar 30 menit perjalanan menggunakan MRT dari Station Circular Quay Opera House.

Kami benar-benar tersanjung atas sambutan mereka, ada belasan saudara kita dari Aceh memuliakan kedatangan kami. Ibu-ibu Komunitas Aceh pun sudah menyiapkan makan malam bersama. Menurut Bang Darwis, orang Aceh di Sydney sekitar 200 orang, mereka bekerja berbagai macam bidang, mulai kerja kantoran hingga freelance. Menurut mereka, bekerja di Australia dapat gaji yang lumayan besar, misalnya mau jadi cleaning service saja gajinya antara 12-15 Dollar perjam, Kurs satu dollar Australia Rp 10.150. Mereka membenarkan tingginya biaya hidup di Australia, namun bagi orang Indonesia bisa diakali dengan cara memasak sendiri, selain hemat juga terjamin makanan halal.

Bang Darwis bekerja sebagai sopir taksi uber yang mengandalkan smartphone untuk mendapatkan penumpang. Menurutnya, Komunitas orang Aceh di Sydney terbentuk beberapa tahun lalu. Mereka sangat kompak dan saling membantu bagaikan satu keluarga.

Mereka rutin berkumpul dalam kegiatan sosial dan keagamaan seperti wirid yasin, tahlilan, dan memperingati maulid Nabi. Hasrat terbesar Komunitas Aceh adalah membangun sebuah Meunasah Aceh di Sydney. Selain untuk shalat berjamaah, meunasah juga bisa digunakan sebagai tempat bersilaturahmi antar orang Aceh di sana. Menurutnya, komunitas orang Aceh sudah membentuk kepanitiaan pembangunan meunasah tersebut dan hingga kini sudah terkumpul 200.000 AUD dari sumbangan warga Aceh di Australia.

“Kalau uangnya sudah terkumpul, rencananya kami akan membeli satu rumah yang bisa dijadikan meunasah, harga pasaran rumah di Sydney sekitar 800.000 AUD atau kira-kira Rp 8,1 miliar,” sebutnya seraya berharap keinginan mereka segera terwujud. (uri/inaldy/eryance/RG)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id