‘Padum Na bak Mablien Menyoe Hana bak Bayi’ | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

‘Padum Na bak Mablien Menyoe Hana bak Bayi’

‘Padum Na bak Mablien Menyoe Hana bak Bayi’
Foto ‘Padum Na bak Mablien Menyoe Hana bak Bayi’

Oleh Hasanuddin Yusuf Adan

SECARA bahasa, judul di atas berarti “berapalah usaha bidan (mablien) kalau bayi tidak ada lagi harapan”. Dan, secara istilah bermakna “sekuat apa pun seorang bidan berusaha untuk menyelamatkan bayi di dalam perut ibunya, kalau bayi sendiri tidak ada harapan hidup lagi, maka bidan tidak akan berjaya menyelamatkannya”. Walhasil semahir apa pun seorang bidan atau dokter ahli kandungan membantu untuk menyelamatkan nyawa bayi, kalau bayi tersebut sudah tidak ada harapan hidup, maka sang bidan/dokter tidak akan sanggup menyelamatkannya untuk hidup di alam dunia.

Istilah dalam judul artikel ini punya makna tersendiri bagi rakyat Aceh yang menyatu dengan adat reusam Aceh. Istilah ini digunakan orang Aceh untuk memberikan perumpamaan kepada seseorang yang lemah kemampuannya atau lemah SDM-nya, tetapi mencalonkan diri menjadi pemimpin. Masyarakat sudah membantu untuk memenangkannya, tetapi karena kelemahan dirinya membuat masyarakat kewalahan untuk meyakinkan semua orang agar memilihnya. Sebagai konsekuensi logisnya adalah para pendukungnya lelah, uang banyak habis tetapi calon pemimpin tidak berjaya memenangkan pemilihan.

Dalam kasus pertandingan sepakbola, misalnya, pelatih sudah habis-habisan dan mati-matian melatih serta mendidik para pemain agar mampu memperoleh juara dalam pertandingan. Namun karena kondisi pemain yang diistilahkan sebagai bayi tidak punya kemampuan yang cukup untuk melawan kesebelasan lawan, maka pertandingan tetap saja berakhir dengan kekalahan di pihak kita. Itulah yang dikatakan, padum na bak mablien meunyoe hana bak bayi. Berapalah usaha pelatih kalau tidak ada modal daripada pemain sendiri. Istilah Aceh tersebut hari ini mengena paslon-paslon tertentu di Aceh, baik dalam kasus calon gubernur maupun calon bupati/wali kota.

Posisi mablien
Pada dasarnya, mablien berada pada posisi pembantu, yang berusaha membantu menyelamatkan bayi dari perut ibunya keluar ke alam dunia dengan sehat dan sempurna. Dengan posisi tersebut mablien harus bekerja keras untuk menyelamatkan bayi sehingga dapat hidup di alam dunia. Begitulah posisi mablien dan tidak lebih dari itu. Seorang mablien tidak mampu menghidupkan bayi yang sudah mati dalam kandungan ibunya, dan seorang mablien tidak mampu pula memperbaiki cacat yang dibawa lahir oleh seorang bayi, karena kondisi bayi yang tidak sehat atau sudah tidak bernyawa.

Perolehan suara dalam Pilkada Aceh 2017 seperti diplenokan Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh pada Sabtu, 25 Februari 2017 lalu sbb: Paslon Nomor urut 1 Tarmizi A Karim-Machsalmina Ali memperoleh 406.865 suara; Paslon Nomor urut 2 Zakaria Saman-T Alaindinsyah (132.981 suara); Paslon Paslon Nomor urut 3 Abdullah Puteh-Sayed Mustafa Usab (41.908 suara); Paslon Nomor urut 4 Zaini Abdullah-Nasaruddin (167.910 suara); Paslon Nomor urut 5 Muzakir Manaf-TA Khalid (766.427 suara), dan Paslon Nomor urut 6 Irwandi Yusuf (898.710 suara). Jumlah suara yang sah memilih adalah 2.414.801 suara dan suara tidak sah 109.612 suara. Itu bermakna total suara yang ikut memilih (sah dan tidak sah) adalah 2.524.413 suara.

Dari hasil pleno KIP Aceh tersebut tampaklah beberapa orang cagub/cawagub yang tidak terpilih, padahal para pekerja yang sering disebut timses (mablien) masing-masing cagub sudah bekerja keras siang malam untuk memenangkan jagoannya. Namun orang yang dijagokan timsesnya tidak mendapatkan sambutan dari masyarakat karena kebolehan dan kapasitas yang dimilikinya amat terbatas, maka muncullah kata Tanya: padum na bak Mablien meunyö hana bak bayi.

Dalam pilkada Aceh 15 Februari 2017 ada enam pasang calon bayi gubernur Aceh yang dipapah, disatoh, diurus, dibantu, dan dipersiapkan oleh sejumlah mablien untuk menjadi gubernur. Namun usaha keras para mablien satu persatu kandas dan gagal melahirkan bayinya secara normal dan profesional, akibatnya muncullah satu bayi gubernur yang sudah pernah menjadi gubernur yang berjaya diselamatkan oleh mablien yang berpengalaman, berpengetahuan, dan professional pula, sementara para mablien dan bayi-bayi lainnya tumbang berjatuhan dan bergelimpangan di tepi-tepi jalan. Semua itu terjadi dikarenakan; padum na bak mablien meunyoe hana bak bayi.

Ironisnya lagi ada sejumlah mablien yang gagal menyelamatkan bayinya lalu menyalahkan rumah sakit karena bayinya gagal diselamatkan di rumah sakit tersebut, menyalahkan obat karena obat tersebut tidak mampu menghidupkan bayinya, menyalahkan orang kampung karena tidak berdoa kepada bayinya, dan menyalahkan orang-orang senegeri Aceh sehingga berupaya tidak mau mengakui bayi orang lain yang sudah selamat dengan sempurna, legal, profesional, dan bersahaja. Prilaku mablien seperti itu sama halnya dengan orang tidak pandai menari, maka panggung pula yang disalahkannya. Semestinya mereka harus berbicara, padum na bak mablien meunyoe hana bak bayi.

Mantapkan persiapan
Semestinya, setiap orang yang menginginkan lahirnya bayi yang normal, sehat, comel, dan bergairah untuk umat manusia, maka dari awal pasangan yang menginginkan bayinya sempurna harus mempersiapkan diri menuju keberhasilannya. Kalau orang yang mengandung bayi itu kita anggap partai, maka partailah yang menentukan persiapan calon bayi yang mudahkan diselamatkan oleh mablien, sehingga mablien tidak perlu lari dari kawasan setelah bayi itu lahir karena cacat, misalnya. Atau partai sendiri yang harus membuang bayi yang baru dilahirkan itu karena tidak sesuai dengan apa yang diinginkannya, sehingga di tengah jalan antara orang tua dengan bayi masing-masing berjalan sendiri-sendiri.

Dalam konteks pilkada Aceh kali ini, ramai orang dan banyak partai yang tidak mempersiapkan dengan sempurna bekal untuk melahirkan bayinya. Maka banyak pula partai yang keluar masuk dari satu dukungan ke dukungan lainnya, karena dianggap pihak yang sedang didukungnya tidak bakalan melahirkan bayi secara normal. Malah ada yang tidak lahir-lahir bayinya sampai hari ini yang mengakibatkan sipengandung bayi harus menerima risiko tinggi.

Yang lebih parah lagi adalah ada partai yang mendukung calon bayi yang dianggap sukses karena mengacu kepada pengalaman dua periode yang lalu, ternyata untuk periode ini calon bayi tersebut tumbang ke bumi dan tidak tampak peluang untuk bangkit lagi, partai yang mendukungnya terpaksa geutie reukueng. Ibarat kata pepatah, “mengharapkan hujan dari langit, air di tempayan dituangkan”. Ka leupah carong hana gaji, leupaih tari hana lakoe.

Semestinya, para petinggi partai (lebih-lebih lagi partai Islam) harus siap dan siaga mempersiapkan pengandung bayi dengan merawat, memapah, memeliharanya dengan baik dan sempurna sehingga ketika saatnya tiba ia akan berjaya melahirkan “bayi” yang representatif untuk memimpin Aceh ke depan, dalam bingkai dan nuansa syariah Islamiyah. Bukannya menunggu orang lain mempersiapkan kelahiran bayi kemudian datang kita minta memandikannya, minta mengazankannya, minta menyusuinya. Apalagi kalau sempat meminta setengah badan bayi untuk kita miliki, seperti menawarkan dukungan kepada orang seraya meminta beberapa kepala dinas diberikan kepada kita. Ini perilaku di luar Islam dan partai seperti itu sudah jauh dari konsep partai Islam. Na’uzubillah.

Hari ini Gubernur Aceh terpilih sudah jelas berada pada posisi Nomor urut 6 (pasangan Irwandi Yusuf dan Nova Iriansyah). Itu menandakan bahwa mablien mereka sudah berjaya melahirkan mereka dengan selamat menjadi Gubernur/Wakil Gubernur Aceh periode 2017-2022. Untuk itu, kepada para mablien lain harus berterima kasih kepada mablien Irwandi-Nova karena sudah berjaya membantu untuk keselamatan bayi Gubernur Aceh hari ini. Kalau mablien Irwandi-Nova juga gagal seperti mablien-mablien lain, maka betapa ruginya Aceh karena kegagalan semua mablien yang tidak berhasil membantu pasiennya untuk melahirkan bayi Gubernur Aceh.

Sekali lagi kepada semua para mablien dari lima pasangan orang tua calon bayi Gubernur Aceh bersyukurlah kepada Allah dan berterima kasihlah kepada mablien yang satu ini, karena dengan izin Allah Aceh memiliki gubernur dan wakil gubernur baru hari ini. Sebaliknya kepada para mablien yang hari ini gagal, bersiaplah menebus kegagalan kali ini di masa mendatang, sebagaimana mablien paslon nomor urut enam yang juga pernah gagal dalam periode Pilkada Aceh 2012 lalu.

Allah Maha Kuasa, Maha Pemurah, Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Berkehendak, maka gantungkanlah dirimu wahai para mablien yang hari ini gagal hanya semata-mata kepada Allah Swt yang Maha Berkuasa atas segala-galanya. Jangan lagi menolak hasil kerja mablien lain, karena kegagalan kita sebagai mablien yang belum profesional dalam mempersiapkan bayi yang dapat diterima oleh semua kalangan. Bertakwalah kepada Allah dan beramal salehlah agar kita semua mendapat berkah dari Allah Swt.

* Dr. Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan, MCL, MA., Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh dan Dosen Siyasah pada Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry Darussalam, Banda Aceh. Email: diadanna@yahoo.com (uri/nton/ariana/AM)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id