Harapan Warga Setelah Pilkada | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Harapan Warga Setelah Pilkada

Harapan Warga  Setelah Pilkada
Foto Harapan Warga Setelah Pilkada

URI.co.id – Pulang kampung sangat menyenang setelah sibuk dengan bermacam aktivitas di kota. Tapi ini bukan mudik untuk menikmati Lebaran, melainkan  pulang kampung menjelang Pilkada.

Suasananya pun terlihat penuh dengan nuasa Pilkada yang ditandai dengan bertebarannya bermacam spanduk para kandidat. Terlihat jelas berbagai spanduk yang diikat di pinggir jalan atau di atas badan jalan. Bendera partai juga bertebaran di mana-mana. Kesannya sangat meriah perhelatan Pilkada di kampung.

Tak lama setelah shalat magrib di Kota Sigli, Serambi bergerak menuju jalan Kota Sigli-Simpang Tiga-Kembang Tanjong-Glumpang Baro.

Semarak menyambut Pilkada terlihat dengan bertebarannya spanduk mulai nomor urut 1 Tarmizi Karim-Machsalmina Ali, nomor urut 2 Zakaria Saman-T Alaidinsyah, nomor urut 3 Abdullah Puteh-Sayed Mustafa Usab, nomor urut 4 Zaini Abdullah-Nasaruddin, nomor urut 5 Muzakir Manaf-TA Khalid dan nomor urut 6. Irwandi Yusuf-Nova Iriansyah. Keenam pasangan calon (paslon) Gubernur Aceh yang bertarung 15 Februari.

Bahkan spanduk nomor urut satu hingga tiga ikut terpasang di berbagai lokasi. Ketiganya paslon T Tarmius – Zulkifli Daud nomor urut 1, Roni Ahmad (Abusyik) – Fadhlullah T M Daud nomor urut 2 dan paslon petahana H Sarjani Abdullah- M Iriawan nomor urut 3. Mereka bersaing mengambil hati rakyat untuk menjadi pemimpin Pidie periode 2017-2022.

Dari kampung ke kampung bertebaran aneka spanduk dalam berbagai bentuk. Sinar lampu sepeda motor atau lampu penerang jalan cukup jelas untuk mengenali paslon cagub/cawagub Aceh atau cabup/cawab Pidie peridoe 2017-2022. Ini pemandangan berbeda bila dibandingkan dua Pilkada sebelumnya.

Ada perbedaan yang sangat mencolok dibandingkan Pilkada periode 2007-2012 dan 2012-2017. Karena pada dua periode Pilkada sebelumnya sangat sulit melihat spanduk semua kandidat yang terpasang berjejeran di kampung, kecuali di kota. Justru terlihat hanya dominan satu kandidat yang seperti bertarung sendirian.

Setiba di kampung di pedalaman Pidie. Serambi mencoba menggali informasi kandidat yang populer dan dijagokan warga untuk memimpin Pidie dan Aceh. Hasilnya cukup mencegangkan karena banyak warga punya calon yang dijagokan sendiri dan menjadi tim sukses (timses) paslon.

Aktifitas menyakinkan keluarga dan masyarakat tak lagi secara tersembunyi. Meski arah dukungan lebih dominan untuk dua kandidat di tingkat kabupaten dan provinsi. Tapi para timses bekerja cukup terbuka dan saling menghormati antara satu timses dengan lainnya.  Posko timses pun tak masalah berdekatan dari satu pintu ruko (rumah toko) yang berhadapan dengan ruko lain dengan jarak lebih kurang 50 meter. Sekali lagi ini benar-benar berbeda dari dua Pilkada sebelumnya.

“Sejauh ini tidak ada masalah dengan spanduk kandidat. Tapi tak boleh menurunkan spanduk kandidat lain. Jika nekat mencabut spanduk calon lain, resiko tanggung sendiri. Kami juga akan melaporkan bila terjadi pelanggaran,” beber Akmaluddin, salah satu warga yang bertugas mengawasi Pilkada di tingkat kecamatan. Hal itu dibenarkan oleh timses yang mendukung paslon berbeda.

Mereka tetap menjagokan calon yang didukungnya dengan penuh harapan yang bakal lebih baik di masa depan. Tak ada intimidasi atau upaya paksaan untuk mendukung kandidat tertentu.  

Musim kampanye

Semaraknya musim kampanye juga terlihat di perkampungan yang siap datang ke lokasi kampanye di Beureuneun dan Kota Sigli, Pidie. Mobil ukuran kecil dan besar terparkir di lajur kanan dan kiri jalan di Cot Glumpang, Kecamatan Glumpang Baro, Kabupaten Pidie.

Kebetulan salah satu paslon mendapat jatah kampanye di Beureuneun. Para timses dan warga yang ikut kampanye terlihat sibuk berkoordinasi. Ada yang bertugas mengangkat dus air mineral ke mobil.

Sebagai warga ada yang masih duduk di warung kopi menunggu aba-aba untuk bergerak. Warga lainnya terlihat duduk di atas mobil bak terbuka. Ada juga timses lain yang hanya melihat sambil mengobrol di warkop sekitar.

Meski udara masih panas setelah shalat Zuhur, timses dan penndukung paslon sangat bersemangat untuk berangkat ke Beureuneun. Sebuah truk terbuka yang dipenuhi alat musik dan pengeras suara terdengar alunan lagu Aceh. Setidaknya menghibur massa yang siap bergerak untuk ikut kampanye meski cuaca sangat panas. Warga yang melewati jalan bergerak pelan-pelan karena badan jalan sudah sempit. Tapi sangat teratur meski tak ada petugas yang mengatur di jalan.

“Inoe siat teuk meujak beurangkat u Beureuneun (sebentar lagi mau berangkat ke Beureuneun),” ujar salah satu warga yang ikut kampanye saat ditanyai Serambi.

Tak lama kemudian beberapa mobil terbuka yang masih kosong bergerak ke jalan kampung. Suara microfon terdengar yang mengajak warga yang ingin ikut untuk naik mobil. Warga yang menunggu langsung menghentikan mobil dan naik untuk bergabung dengan massa lain. Setelah menjembut warga, kemudian mobil kembali ke ibu kota kecamatan dan bertolak ke Beureuneun. 

“Kampanye uroe nyan dum syit moto yang dijak jemput urueng (Kampanye sebelumnya banyak juga mobil yang menjemput orang),” ujar Ruhana, salah satu warga tentang antusiasnya masyarakat ikut naik mobil gratis menuju arena kampanye kandidat lain.

Suasana meriah juga terlihat di Kecamatan Kembang Tanjong, Kabupaten Pidie. Kemacetan panjang terjadi sebelum memasuki pusat kota Kembang Tanjong. Kebetulan di pinggir jalan ada ruko yang menjadi posko partai lokal yang mengumpulkan massa untuk bergerak.  Kendaraan dari dua arah terjebak kemacetan sekitar 500 meter bersama kendaraan massa kampanye.

Serambi ikut terjebak macet dan sulit bergerak. Kebetulan ada mobil truk yang mengangkut semen menambah parah kemacetan. Sesekali berhenti total akibat kemacetan parah di tengah terik matahari setelah siang. Orang-orang terlihat menikmati suasana ini dengan memotret ke depan dan belakang. “Biasa nyoe musem kampanye. Macet rata sagoe (biasa ini musim kampanye, macet di mana-mana),” timpal salah satu warga disamping Serambi yang mengendarai sepeda motor.

Hampir 15 menit akhirnya keluar dari kemacetan dan menoleh ke belakang masih terlihat kemacetan panjang. Tapi kemacetan di jalan Banda Aceh-Medan yang berdekatan dengan arena kampanye di Beureuneun justru lebih parah. Kendaraan roda dua dan ukuran besar bergerak lambat. Petugas terlihat kewalahan mengurai kemacetan yang didominasi peserta yang ikut kampanye atau melintas.

Hari pencoblosan

Informasi yang dikumpulkan Serambi dari Tempat Pemungutan Suara (TPS) di Pidie dan kabupaten lain berlangsung kondusif pada hari pencoblosan. Warga yang ingin memenangkan calon jagoannya datang ke TPS dan antrean menunggu giliran untuk mencoblos. Tapi suasana cukup semarak justru ketika memasuki perhitungan suara cabup/cawabup dan cagub-/cawagub.

Orang-orang menyimak perhitungan suara begitu dibaca oleh petugas. Para timses dan pendukung menyambut berbeda setiap kertas suara yang dibacakan paslon tertentu. Ada yang bertepuk tangan saat nama atau nomor urut calonnya kembali dibacakan. Giliran pendukung lain yang bersuara ketika nama calonnya disebutkan.

“Watei coblos sampe dihitung suara hana masalah sapeu (Waktu pencoblosan sampai hitungan suara tidak ada masalah apa-apa). Sangat demokratis pemilihan di kampung. Yang taloe pasti kecewa bacut (yang kalah pasti kecewa sedikit),” ujar Basirun, timses salah satu paslon cabup/cawabup kepada Serambi yang ikut melihat suasana pemilihan di kampung di pedalaman Pidie.

Kalah tetap pasrah

Informasi hasil quick count dengan cepat beredar di media online dan cetak setelah Pilkada. Tak butuh waktu lama untuk mengetahui siapa calon yang dominan. Meski ditingkat provinsi ada saling klaim pemenang terutama cagub/cawagub nomor urut 5 dan 6. Setelah beberapa hari makin terlihat paslon yang mendapat dukungan terbanyak.

Tapi respons berbeda diperlihatkan oleh masyarakat yang pasrah dengan hasil Pilkada. “Kalheuh ta usaha, tapi talo syit, berarti hana raseuki tanyoe kali yoe (sudah berusaha tapi kalah juga, berarti tidak ada rezeki kita),” ujar warga Aceh Selatan, Bustanil yang pasrah paslon cagub/cawagub yang dukungnya menempati urutan tiga dalam rilis hasil quick count saat dimintai keterangan via HP oleh Serambi.

Hal serupa juga disampaikan oleh seorang warga di Aceh Timur, Ridwan kepada Serambi terkait hasil sementara dari quick count yang beredar. Ia lebih senang menunggu hasil akhir meski calon kandidatnya masih dijagokan menang dalam hasil Pilkada.

“Tapreh pengumuman resmi mantong, yang penteng beu dame. So yang menang bek tuwoe janji watei kampanye (kita tunggu hasil resmi saja, siapa yang menang jangan lupa janji saat kampanye),” ujar Ridwan yang berharap tetap damai setelah Pilkada.

Seorang warga lainnya Abu Bakar mengaku di kampung mertuanya dan kampung sendiri di Pidie berbeda yang menang saat perhitungan suara paslon cagub/cawagub Aceh. Sedangkan satu paslon cabup/cawabup Pidie menang di kampungnya dan kampung mertuanya. Tapi dia berharap masa depan Aceh lebih baik lagi setelah Pilkada.

”Bek karu karu le. Kasep tarasa masa konflik awai. Ta meudoa lebih get lom Aceh ukeu, rakyat beusejahtera. Meseu taloe preh limong thon ukeu ek lom (jangan ribut-ribut lagi, sudah cukup kita rasakan masa konflik. Kita doakan Aceh ke depan lebih baik lagi dan rakyat sejahtera. Kalau kalah tunggu lima tahun ke depan untuk naik lagi),” ujarnya yang kembali menjalani rutinitas turun ke sawah dan menjaga kios.

Pertemuan cagub Aceh nomor urut 5, Muzakir Manaf atau yang akrap disapa mualem dengan cagub nomor urut 6 Irwandi Yusuf mendapat tanggapan positif dari masyarakat. Semula banyak yang meragukan pertemuanya tersebut yang berdar di medsos.

Warga bertambah yakin setelah melihat dan menbaca headline halaman depan Serambi edisi, Kamis (23/2/2017). Mualem dan Irwandi yang berjabat tangan dengan senyum sumrigah dan juga makan bersama di Kampung Pineung, Banda Aceh, Rabu (22/2/2017). “Ta harap pertemuan Mualem ngon Irwandi beuna pengaruh sampe pendukung di lapangan (Diharapkan pertemuan Mualem dengan Irwandi ada pengaruh sampai ke pendukung di lapangan),” harap Bustanil lagi.

Perdamaian kuncinya

Warga asal Aceh Besar yang juga Diplomat RI, Erwin Shiddiq kepada Serambi mengingatkan pengalaman konflik Aceh masa lalu dan perkembangan terkini konflik Timur Tengah yang menghancurkan seluruh sendi perekonomianya. Kiranya menjadi pembelajaran berharga bagi Aceh.

Perdamaian menjadi kunci dasar dalam mewujudkan kesejahtaraan rakyat. Tidak akan efektif pembangunan suatu wilayah tanpa kondusifnya situasi keamanan.

”Semoga Gubernur Aceh baru dengan energi baru mampu mengayomi seluruh komponen masyarakat dan bersama legislatif dapat membenahi kembali regulasi untuk iklim investasi yang lebih baik di Aceh,” harap Erwin Shiddiq yang bertugas pada Badan Penelitian dan Pengembangan Kebijakan (BPPK) Kementerian Luar Negeri RI.

Erwin Shiddiq berharap Pemerintah Aceh ke depan mampu bersinergi dengan perkembangan daerah lainnya di Nusantara dan kawasan/regional. Tentunya dengan harapan agar kalangan pemuda/i (kaum muda) mampu membaca setiap peluang dalam pekembangan nasional dan internasional dimaksud.

(uri/leny/andraini/GC)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id