Tim Saber OTT Kasus Pemerasan | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Tim Saber OTT Kasus Pemerasan

Tim Saber OTT Kasus Pemerasan
Foto Tim Saber OTT Kasus Pemerasan

* Tersangka Oknum PNS dan LSM

LHOKSEUMAWE-Tim Saber Pungli Kota Lhokseumawe di bawah pimpinan Ketua Penindakan AKP Yasir SE dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) berhasil menangkap dua pria yang diduga telah melakukan pemerasan terhadap mantan Ketua Badan Rehabilitasi Aceh (BRA) Kota Lhokseumawe Hamdani, Jumat (24/2) sore.

Masing-masing pria tersebut berinisial GU (35) dan AD (48). GU merupakan ketua sebuah LSM, sedangkan AD berprofesi sebagai PNS. Mereka ditangkap seusai menerima uang dari Hamdani sebesar Rp 4,5 juta di sebuah warung kopi di Lhokseumawe. Namun, kuasa hukum kedua tersangka menyatakan bahwa uang itu bukan hasil pemerasan, melainkan memang diberikan Hamdani untuk acara peusijuek AD yang ada kaitannya dalam kasus teror bom di rumah mantan Ketua BRA Lhokseumawe itu, beberapa tahun lalu.

Kapolres Lhokseumawe AKBP Hendri Budiman, melalui Kasat Reskrim AKP Yasir SE, dalam konferensi pers Minggu (26/2) menjelaskan, kasus ini berkaitan dengan perkara pelemparan granat yang terjadi pada 12 September 2011 di rumah mantan Ketua BRA Lhokseumawe, Hamdani, di Ulee Jalan. Dalam perkara ini, AD sempat menjadi tersangka. Namun, dalam proses di pengadilan hingga sampai kasasi di Mahkamah Agung (MA), AD dinyatakan bebas dan tidak bersalah dalam kasus penggranat tersebut.

Setelah dinyatakan bebas, AD sempat mempraperadilankan Polres Lhokseumawe, yang proses sidangnya saat ini masih berlangsung di PN Lhokseumawe. Didasari vonis bebas terhadap AD, sebut AKP Yasir, maka pada 21 Januari 2017, GU sempat mendatangi rumah Hamdani, meski hanya bertemu dengan istri Hamdani. Inti pembicaraan mereka, Hamdani dan istrinya harus bertanggung jawab terhadap keterangan yang telah diberikan dulunya yang menyebabkan abangnya, AD, ditangkap dan sempat ditahan dalam kasus penggranatan tersebut.

Singkatnya, jelas AKP Yasir, pada 24 Januari 2017, GU dan Hamdani sempat bertemu dan mengatakan kalau pihaknya akan mempraperadilankan Hamdani. Selanjutnya, pada 22 Februari 2017 malam, giliran Hamdani menghubungi GU dan mengatakan sudah mendapatkan surat

panggilan dari PN Lhokseumawe untuk menjadi saksi dalam kasus praperadilan. “Namun GU kembali meminta agar mereka bertemu. Dalam pertemuan malam itu di sebuah warung kupi, GU menyatakan bisa mencabut praperadilan ini bila mana Hamdani mau menyelesaikan secara kekeluargaan, yakni dengan membayar ganti rugi Rp 75 juta. Karena Hamdani mengaku tidak punya uang sebesar itu, maka GU menawarkan angka 50 juta rupiah saja,” kata AKP Yasir.

Selanjutnya, pada 23 Januari 2017, usai Hamdani menjadi saksi di persidangan, kembali bertemu dengan GU. Dalam pertemuan itu, GU kembali meminta uang. Angkanya turun menjadi Rp 40 juta, tapi dengan syarat membayar uang panjar Rp 5 juta. Pada hari selanjutnya, tepatnya

pukul 14.00 WIB, korban kembali bertemu GU dan AD di sebuah warung kopi. Hamdani kala itu membawa uang Rp 4,5 juta. “Saat itu tim kita sudah melakukan pemantauan. Sehingga setelah Hamdani menyerahkan uang, langsung GU dan AD ditangkap dan dibawa ke Polres Lhokseumawe untuk pengusutan lanjutan,” ujarnya.

Gu yang sempat dimintai keterangan oleh Serambi mengaku bahwa dirinya dijebak. GU mengaku tidak melakukan pemerasan terhadap Hamdani. “Tapi, itu merupakan uang untuk peusijuek AD yang dinyatakan tidak bersalah dalam kasus penggranatan rumah Hamdani,” kata dia. Hal yang sama juga dikatakan oleh kuasa hukumnya, Ratno Cipto. Menurut Ratno, saat GU menerima uang, sempat dikatakan bahwa pemberiannya bukan paksaan dan pemerasaan, karena uang tersebut akan digunakan untuk peusijuek AD di rumahnya dan nantinya

Hamdani akan hadir juga saat dipeusijuek. “Tapi, pastinya kita ikuti saja proses hukum nantinya sampai ke pengadilan,” demikian Ratno.(bah) (uri/ilviana/ebriyani/SF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id