Pelapor Politik Uang Kecewa pada Panwaslih | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Pelapor Politik Uang Kecewa pada Panwaslih

Pelapor Politik Uang Kecewa pada Panwaslih
Foto Pelapor Politik Uang Kecewa pada Panwaslih

BIREUEN Sejumlah pelapor kasus dugaan politik uang (money politik) yang melaporkan temuan politik uang di Bireuen, kecewa kepada Panitia Pengawas Pemilihan (Panwaslih) Bireuen. Pasalnya, pelapor merasa bahwa laporan temuan politik uang ditolak oleh panwaslih dengan alasan yang tidak dijelaskan secara detail.

Para pelapor itu meminta Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Aceh dan Pusat Jakarta, untuk turun ke Bireuen agar dugaan politik uang yang terjadi di Bireuen dapat terungkap, supaya tidak ada pihak pihak yang diduga bermain dalam kasus pelanggaran pemilu di Bireuen.

Donny Fauzan (44), warga Desa Geudong Geudong, Kota Juang, Bireuen, kepada Serambi, kemarin, mengatakan, dirinya sangat terkejut ketika menerima dan melihat surat pemberitahuan tentang status laporan/temuan dugaan politik uang yang dilaporkannya kepada Panwaslih Bireuen ditolak tanpa ada alasan yang jelas. Surat tersebut diterima Donny Sabtu (25/2) sekira pukul 17.00 WIB di kantor Panwaslih Bireuen.

Dikatakan Donny alias Wakden, pada 18 Februari 2017 dirinya melaporkan Maina, warga Geudong Geudong, salah seorang timses paslon bupati yang memperoleh suara terbanyak H Saifannur Muzakar dengan nomor laporan 004/LP/pilkada Bir/II/2017, kepada Panwaslih Bireuen.

“Maina (Nong) membagi bagikan uang kepada masyarakat pada masa tenang (sehari sebelum hari pencoblosan) di desanya. Laporan itu berdasarkan seorang saksi bernama Ari Riansyah, warga Geudong Geudong yang mengaku menerima uang dari Maina untuk memilih pasangan H Saifannur Muzakar,” kata Wakden.

Dikatakan Wakden, dirinya juga sempat merekam pembicaraan antara Ari dan seorang timses Saifannur Muzakar lewat telepon selular yang diperdengarkan dan dikirim ke Serambi. Rekaman itu juga sudah diberikan Wakden bersama rekan rekannya kepada Panwaslih Bireuen pada Selasa (21/2) malam ke kantor Panwaslih yang diterima Muzakir staf panwaslih yang didengar dan saksikan oleh Zulfikar anggota panwaslih setempat.

Rekaman yang berdurasi sekitar 8 menit 9 detik tersebut antara lain berisi seorang timses paslon nomor urut 6 (H Saifan Muzakar), meminta saksi Ari untuk lari ke Medan dengan imbalan uang Rp 1 juta.

“Saya melaporkan temuan politik uang kepada Panwaslih dengan bukti dan saksi saksi yang jelas dengan nomor laporan 004/LP/pilkada Bir/II/2017, tapi balasan surat panwaslih tanpa nomor, dengan nama pelapor Donny Fauzan dan terlapor/pelaku Maina, status laporan tidak memenuhi syarat formil dan materil pelaporan, tapi tidak dijelaskan apa syarat formil dan meteril pelaporan itu,” kata Wakden kesal.

Dikatakan Wakden, Panwaslih Bireuen diduga kuat ikut bermain dalam dugaan kasus politik uang yang dilakukan oleh pasangan calon bupati Bireuen yang memperoleh suara terbanyak pada Pilkada 15 Februari 2017 lalu.

“Karena di hampir semua desa di Bireuen yang dimenangkan oleh paslon H Saifannur Muzakar, dibagi bagikan uang secara terang terangan, tapi dibiarkan oleh panwaslih dan tidak ada yang menindaknya. Kami meminta Bawaslu Aceh dan Pusat Jakarta untuk segera turun ke Bireuen,” pinta Wakden.

Hal senada juga dikatakan pelapor lainnya, di antaranya Taufiq warga Gandapura yang melaporkan Sudarmi warga kecamatan yang sama dengan nomor laporan 016/LP/pilkda Bir/II/2017 ke Panwaslih Bireuen terkait dugaan politik uang. Namun laporan Taufiq juga ditolak oleh Panwaslih. Begitu juga Fakrurrazi warga Jeumpa yang melapor Soyah ke Panwaslih dengan nomor laporan 018/LP/Pilkada Bir/II/2017, juga ditolak oleh Panwaslih dengan alasan tidak memenuhi syarat formil dan materil.

Ketua Panwaslih Bireuen, Muhammad Basyir yang dikonfirmasi Serambi, Minggu (26/2), mengatakan, laporan yang diberikan tidak memenuhi syarat formil dan materil, sehingga tidak dapat dilanjutkan, karena keterangan saksi tidak cukup. “Saksi juga tidak hadir saat hendak dimintai keterangan dan saksi tidak bisa membuktikan bukti bukti yang dibawa saat membuat laporan,” terang Basyir.

Terkait tudingan Panwaslih Bireuen ikut bermain dalam kasus dugaan politik uang, Basyir membantahnya. “Bagaimana kami bermain dengan politik uang, karena laporan yang masuk kepada kami, dikaji bersama tim Gakkumdu (penegak hukum pemilu) yang terdiri atas panwaslih, polisi, dan jaksa,” terangnya. (c38) (uri/gie/iyadie/OR)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id