Ratusan Dokter Ikut Workshop Vaksinologi   | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Ratusan Dokter Ikut Workshop Vaksinologi  

Ratusan Dokter Ikut Workshop Vaksinologi   
Foto Ratusan Dokter Ikut Workshop Vaksinologi  

* Gencarkan Penyuluhan Difteri 

BANDA ACEH ‑ Sebanyak 125 dokter Aceh dan 52 di antaranya berstatus spesialis anak mengikuti workshop Vaksinologi, yang berlangsung 25-26 Februari 2017 di Hotel Grand Nanggroe, Banda Aceh. Kegiatan itu dibuka Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (PP IDAI), Dr dr Aman Pulungan SpAK, Sabtu (25/2).

Ketua IDAI Aceh, Dr dr Herlina Dimiati SpAK kepada Serambi kemarin mengatakan, kasus difteri yang tengah marak di Aceh sebenarnya dapat dicegah dengan imunisasi difteri, pertusis, dan tetanus (DPT). Maka dari itu harapnya, simposium dan workshop itu dapat membekali para dokter terkait pentingnya imunisasi sebagai pencegahan penyakit mewabah.

“Difteri sudah berjangkit di Aceh, selama ini sudah terjadi 45 kasus,” ujar Herlina. Dia berharap informasi terkini yang diperoleh peserta dapat diteruskan kepada masyarakat, sehingga kasus difteri dan wabah lainnya dapat berkurang. Dia mengatakan, ratusan peserta merupakan dokter umum dari puskesmas di Aceh Besar, Banda Aceh, Sabang, Pidie, dan Aceh Barat. Selain itu, kegiatan tersebut juga diikuti oleh pengelola program imunisasi Dinas Kesehatan Aceh, Dinkes Kota Banda Aceh, dan Aceh Besar.

Adapun pemateri pemateri workshop yaitu Dr dr Hindra Irawan Satari SpA(K), dr Sjawitri P Siregar SpA(K), Dr dr Hartono Gunardi SpA(K), dan dr Gatot Irawan Sarosa SpA(K). Materi yang diberikan mencakup kondisi cakupan imunisasi dan gambaran penyakit di Indonesia, jadwal imunisasi dan imunologi vaksin, cara kerja vaksin, dan lain‑lain.

Pada bagian lain Sekretaris Panitia Acara, dr Aslinar SpA M Biomed mengatakan, terkait kasus difteri yang mulai berjangkit di Aceh, para peserta diharuskan aktif memperluas cakupan program imunisasi lewat penyuluhan. Menurutnya, difteri merupakan penyakit sangat menular yang dapat menyebabkan kematian, karena sumbatan laring (tenggorokan) atau komplikasi pada jantung.

Selain mencegah lewat imunisasi dan vaksinasi, pengobatan pasien difteri dilakukan dalam ruang isolasi, istirahat yang cukup, dan pemberian cairan serta gizi yang adekuat. “Pengobatan berupa pemberian ADS (Anti Difteria Serum) sebagai antibiotik diberikan selama 10 hari kepada pasien,” katanya.

Menurutnya, suntikan immunisasi difteri gratis kepada masyarakat. “Imunisasi bisa didapatkan gratis di puskesmas. Masyarakat jangan ragu, sebab MUI sudah memfatwakan bahwa vaksin yang digunakan saat ini halal,” jelasnya.(fit) (uri/nton/ariana/AM)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id