Panglima Laot: Stop Gunakan Trawl   | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Panglima Laot: Stop Gunakan Trawl  

Panglima Laot: Stop Gunakan Trawl   
Foto Panglima Laot: Stop Gunakan Trawl  

MEULABOH – Panglima Laot Aceh Barat Amiruddin menegaskan nelayan harus menghentikan penggunaan alat tangkap ikan trawl (pukat harimau) yang dinilai dapat merusak ekosistem laut. “Stop gunakan alat tangkap yang dilarang. Segera gunakan alat tangkap lain yang ramah lingkungan dan tidak merusak,” kata Amiruddin kepada Serambi kemarin.

Ia menyebutkan hingga kini masih terdapat sejumlah nelayan yang menggunakan alat tangkap ikan yang tidak ramah lingkungan. Dia tegaskan apabila masih ada nelayan yang menggunakan trawl dalam aktifitas menangkap ikan maka pelaku akan berurusan dengan hukum. “Aktifitas menangkap ikan jangan sampai menimbulkan masalah ke depan. Kita dapat laporan akan dilakukan razia penertiban alat tangkap dalam waktu dekat oleh pihak terkait,” kata Amiruddin.

Hal yang sama juga ditegaskan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Aceh Barat, M Ikbal. Menurutnya saat ini banyak nelayan yang sudah menggunakan alat tangkap ramah lingkungan yakni jaring. Diharapkan tindakan ini dapat diikuti oleh nelayan lainnya. “Sosialisasi sudah sering kita lakukan. Harapan kita jangan ada lagi alat tangkap ikan yang dilarang, tapi masih digunakan,” tegas Ikbal.

Sementara itu informasi yang diperoleh Serambi kemarin delapan boat terjaring razia oleh nelayan Samatiga dan Arongan Lambalek meliputi KM Pinang Baris (5 nelayan), KM Dima 2 (3 nelayan), KM Daki (2 nelayan), KM Doa Mama (3 nelayan), KM Padi Hijau (3 nelayan), KM 51 (2 nelayan) dan KM Padi Hijau 2 ( 3 nelayan). Delapan boat itu awalnya sempat diamankan selama satu hari pada Kamis (23/2) siang di laut teluk Suak Seumanseh, Kecamatan Samatiga.

Panglim Laot Aceh Barat Amiruddin juga menegaskan  delapan boat nelayan asal Kecamatan Johan Pahlawan Aceh Barat yang tertangkap dalam razia nelayan Samatiga dan Arongan Lambalek dilaporkan sudah dilepaskan pada Jumat (24/2) sore. Boat itu dilepas setelah kasusnya diselesaikan melalui hukum adat laot termasuk memusnahkan alat tangkap jenis pukat trawl yang dipakai awak boat tersebut untuk menangkap ikan. “Sudah dilepaskan. Tapi sudah disampaikan supaya tidak lagi menggunakan alat tangkap yang dilarang,” ujar Amiruddin.(riz) (uri/wi/ovi/ovianti/DNN)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id