Makan Malam Romantis di Atas Kapal Pesiar | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Makan Malam Romantis di Atas Kapal Pesiar

Makan Malam Romantis di Atas Kapal Pesiar
Foto Makan Malam Romantis di Atas Kapal Pesiar

BAI RUINDRA, Blogger Aceh asal Meulaboh, melaporkan dari Bangkok, Thailand

GEMERLAP Bangkok langsung terasa begitu pesawat yang membawa kami mendarat di Bandara Internasional Don Mueang. Jalan berliku menuju Bangkok begitu menggelora setelah kami bersalaman dengan Freddy, guide pada sesi cuci mata di negeri ini.

Pada sore itu, kami hanya keliling sungai dengan kesibukan yang membuat penasaran. Kapal-kapal yang dijadikan sarana transportasi mewah di tengah-tengah kota. Tempat perberhentian perahu ini bagaikan terminal yang disulap dengan indahnya. Setiap kapal yang berlayar di atas sungai ini akan berhenti untuk menaikkan maupun menurunkan penumpang. Saya abadikan kesempatan ini dalam foto.

Malam yang kemudian menyelimuti tubuh lelah kami, tak bisa ditepis untuk kembali. Malam ini pula yang menjadi sebuah pengharapan tertinggi untuk mengecap kemewahan di Kota Bangkok.

River City, permulaan dari segala kemewahan, bagai film romantis Korea. Di dalam gedung yang merangkap sebagai pusat perbelanjaan ini telah ramai oleh orang-orang. Mungkin saja mereka juga akan menikmati makan malam seperti kami. Freddy bergegas ke salah satu sudut, di mana ticket box untuk sebuah pelayaran didapatkan dari sana. Kami mengitari seluruh gedung, mencari kamar kecil, berimpitan dengan wajah rupawan di mana-mana. Saya merasa begitu kerdil karena di segala sudut adalah mereka dengan pakaian rapi, gaun berkilauan, dan wajah segar untuk menikmati dinner romantis.

Freddy tergopoh menjumpai kami di pintu kamar kecil, rupanya pria asal Indonesia yang telah bekerja di Bangkok ini sama tak sabarnya dengan kami. Pria yang mahir berbahasa Thai ini membagikan stiker dan tiket masuk kepada kami. Stiker bulat telur itu harus ditempelkan di sisi pakaian agar terlihat saat masuk ke kapal pesiar.

Jantung saya berdetak lebih kencang. Romantic dinner di atas kapal pesiar selama ini cuma saya nikmati di film-film romantis besutan luar negeri. Kami mengekor Freddy yang berjalan begitu tergesa-gesa. Kami bagaikan semut yang menyalip orang-orang di pintu ke luar gedung ke bibir sungai. Di dekat pintu masuk ke kapal pesiar, di saat kapal pesiar bergantian parkir untuk mengambil penikmat malam, di saat itu pula saya merasa kepanasan dan keharuan menggoda. Di tiket masuk terlihat meja kami 1D, yang entah ada di lantai satu atau dua kapal pesiar. Namun, untuk masuk ke dalam kapal pesiar yang sebentar lagi menjemput kami, terdapat satu lagi ritual yang tak boleh dilewatkan. Wanita cantik berpakaian adat Thai datang menyematkan bunga hidup di sisi kiri baju, lalu berfoto sebagai kenang-kenangan.

Chao Phraya Princess II adalah kapal pesiar yang tidak terlihat di sore kami mengitari sungai ini. Mewahnya bagaikan alunan musik yang tak berhenti saat ia mampir sampai kami masuk ke dalam kapal. Beberapa penari menyambut kedatangan kami di pintu masuk. Sorakan di mana-mana dan seperti ada kembang api diletuskan seketika.

Langkah berdesakan ke dalam kapal pesiar dua tingkat ini disambut oleh pelayan yang terbata mengarahkan kami berdasarkan warna stiker dan nomor meja. Saya yang berjalan di depan menyebutkan nomor meja dan langsung diarahkan ke lantai dua. Lantai dua adalah tempat terasyik untuk menikmati Kota Bangkok malam hari. Di sudut dekat DJ memainkan alat musik, di antara penyanyi yang menyanyikan lagu-lagu Barat, kami nikmati angin sepoi-sepoi.

Di atas meja terdapat cocktail warna biru menggoda. Menu pembuka yang dipacari dengan kentang goreng rasanya sulit untuk dilewatkan. Saat yang dinanti tiba tak lama setelah musik dikeraskan. Kapal pesiar mulai meninggalkan parkiran di River City. Musik bertalu-talu mengiringi perjalanan kami mengelilingi Kota Bangkok yang gemerlap. Gedung-gedung tinggi masih menyisakan cahaya lampu. Mungkin saja karyawan lembur mengejar deadline. Kapal-kapal pesiar lain mondar-mandir di sungai yang airnya bagai ombak di lautan. Chao Phraya Princess II mulus membelah sungai yang bergelombang. Tawa di segala penjuru walaupun musik dikencangkan dengan ritme upbeat. Orang-orang mulai mengantre di meja prasmanan. Saya, Vika, dan Nurul mengambil kesempatan pertama dan yang lain menunggu di meja. Makanan-makanan mewah dari chef kelas atas tentu tidak bisa saya nikmati di kesempatan lain. Label halal memang tertulis di salah satu sudut, namun saya tak berani mencoba terlalu banyak. Nasi putih tak mungkin saya hindari untuk stamina besok hari. Sayur-sayuran yang tidak berminyak saya jamah. Lalu, udang panggang saya comot sekitar lima biji dan memenuhi piring.

Live music menemani dentingan piring dengan sendok. Lampu kerlap-kerlip bagaikan di dalam sebuah gedung pertunjukan musik. Freddy bolak-balik mengambil makanan dan mengambil udang dalam jumlah banyak. “Halal semua, Bang!” Yogi menimpali karena saya tak mengambil menu yang lain. Saya tidak lantas bangkit dan mengambil menu-menu lezat lainnya. Hati saya lebih memilih udang saja yang dipanggang dengan lebih lezat.

Chao Phraya Princess II bagaikan ratu yang memberikan kenyamanan untuk rakyatnya. Selama mengitari Bangkok, musik yang menyentak, makanan lezat dan aliran sungai yang bersahabat, kapal pesiar ini pun lebih tenang dan nyaman mengarungi malam.

Makan malam romantis di atas kapal pesiar Chao Phraya, Bangkok, sebenarnya akan romantis bersama pasangan. Namun, ini bukan kunjungan bersama pasangan. Nah, kamu yang ingin menikmati romantic dinner di atas kapal pesiar selama dua jam di Choa Phraya, tiket masuknya cukup mahal untuk ukuran travelling santai, yaitu THB 1.500. Kamu tentu tak mau melewatkan kesempatan emas ini jika ke Bangkok. Kalau bukan sekarang, kapan lagi menikmati gemerlap malam yang menggelora?

Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskahnya, termasuk foto dan identitas Anda ke email [email protected] (uri/ngbert/atoel/EL)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id