Trawl Hasil Razia Dibakar | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Trawl Hasil Razia Dibakar

Trawl Hasil Razia Dibakar
Foto Trawl Hasil Razia Dibakar

* Pemilik Boat Didenda Rp 5 Juta

MEULABOH – Kasus penangkapan delapan unit boat menggunakan trawl (pukat harimau) akhirnya diselesaikan secara hukum adat laot. Semua alat tangkap (trawl)yang dilarang disita dan dimusnahkan dengan cara dibakar, Jumat (24/2). Pemilik boat juga dikenakan denda Rp 5 juta/boat. Pemusnahan alat tangkap ikan itu dilakukan para nelayan Suak Seumaseh, Kecamatan Samatiga, panglima laot, pihak kepolisian dan Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh Barat.

Penyelesaian kasus itu diawali dengan pertemuan antara masyarakat nelayan asal Kecamatan Johan Pahlawan selaku pemilik delapan boat dengan nelayan Samatiga selaku pihak yang melakukan razia. Pertemuan itu berlangsung di Polsek Samatiga berlanjut ke kawasan Lhok Suak Seumaseh Samatiga, tempat delapan boat tersebut diamankan.

Turut pula hadir dalam pertemuan itu pihak Polisi Air Polres Aceh Barat, Muspika Samatiga dan Dinas Kelautan dan Perikanan serta Panglima Laot Aceh Barat. Sebelumnya, suasana kasus penangkapan boat itu sempat memanas tetapi akhirnya diselesaikan dengan melahirkan sejumlah poin kesepakatan yang ditandatangani Panglima Laot Lhok Suak Seumaseh Muhibuddin, Keuchik Suak Seumaseh T Maimun dan Keuchik Pasir selaku perwakilan nelayan Johan Pahlawan Romi.

Kesepatan tersebut juga ditandatangani Panglima Laot Aceh Barat Amiruddin, Kepala DKP Aceh Barat M Ikbal dan Kasatpolair Polres Iptu Slamet. Menurut Amiruddin, kasus tersebut diharapkan menjadi pelajaran berharga bagi semua nelayan di Aceh Barat. Sehingga ke depan para nelayan diminta tidak lagi menggunakan alat tangkap trawl ketika mencari ikan karena dapat merusak terumbu karang dan ikan.

“Penyelesaian secara adat laot atas permintaan nelayan. Tapi kalau ke depan masih ada kasus serupa tentu akan diproses sesuai aturan hukum berlaku termasuk boatnya juga harus dibakar,” kata Amiruddin. Panglima Laot menambahkan, boat yang ditahan sebanyak delapan unit tersebut kemudian dilepas dengan perjanjian alat tangkapnya dimusnahkan dengan cara dibakar dan membayar denda.

Kapolres Aceh Barat AKBP Teguh Priyambodo Nugroho melalui Kasatpolair Iptu Slamet di sela pertemuan dengan nelayan kemarin mengatakan apabila kasus tersebut ke depan terulang kembali maka akan akan diambil tindakan sesuai hukum berlaku.

Seperti diberitakan, para nelayan di Kecamatan Samatiga dan Arongan Lambalek, Aceh Barat pada Kamis (23/2) menangkap delapan unit boat karena karena menggunakan alat tangkap pukat trawl untuk menangkap ikan di wilayah perairan Samatiga dan Arongan Lambalek. Penangkapan terhadap itu dilakukan ratusan nelayan yang selanjutnya diamankan di laut teluk Suak Seumaseh, Samatiga.

Minta tak Mengulangi

Kadis Kelautan dan Perikanan Aceh Barat M Ikbal kemarin meminta nelayan tidak menggunakan alat tangkap ikan yang dilarang sebab dapat berdampak buruk pada ekosistem laut. “Kita sudah sering melakukan sosialisasi. Jadikan kasus ini menjadi pelajaran sehingga ke depan jangan ada lagi nelayan menggunakan alat tangkap ikan yang dilarang. Kita juga menyambut baik kasus ini dapat diselesaikan dengan baik,” ujarnya.(riz)

poin kesepakatan

* Delapan pukat trwal/alat tangkap ikan milik nelayan dimusnahkan
* Delapan unit boat nelayan yang diamankan oleh nelayan Lhok Suak Seumaseh dilepas kembali
* Setiap boat yang diamankan membayar denda Rp 5 juta untuk pembangunan masjid dan pembangunan prasarana di Desa Suak Seumaseh
* Untuk seterusnya apabila boat ikan masih menggunakan pukat trawl di wilayah Samatiga akan diproses sesuai peraturan (uri/omario/alah/RF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id