Para Rektor Puji Mualem-Irwandi | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Para Rektor Puji Mualem-Irwandi

  • Reporter:
  • Jumat, Februari 24, 2017
Para Rektor Puji Mualem-Irwandi
Foto Para Rektor Puji Mualem-Irwandi

* Cap Jempol untuk Keduanya

BANDA ACEH – Para rektor perguruan tinggi negeri (PTN) di Aceh mengapresiasi bahkan memuji kekompakan yang diperlihatkan Muzakir Manaf (Mualem) dan Irwandi Yusuf dalam “pertemuan rekonsiliasi pascapilkada”, Rabu (22/2) siang di sebuah rumah di kawasan Kampung Pineung, Banda Aceh.

Terlebih karena, dalam pertemuan yang diselingi canda tawa dan makan siang itu, kedua calon gubernur Aceh tersebut sepakat untuk bersatu lagi dalam semangat yang sama dalam membangun Aceh, meskipun partai mereka berbeda. Mualem bahkan siap memberikan dukungan jika memang Irwandi Yusuf ditetapkan Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh sebagai gubernur terpilih.

Langkah kedua eks petinggi GAM itu dinilai para rektor sebagai bentuk kebesaran jiwa dan sifat negarawan dari mereka dan sangat menyejukkan di tengah memanasnya tensi politik Aceh menjelang dan pascahari pencoblosan, 15 Februari 2017.

Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Prof Dr Farid Wajdi Ibrahim MA mengatakan, pertemuan dua calon gubernur Aceh yang bersaing ketat itu sebagai langkah maju dalam perpolitikan Aceh.

Menurut Farid yang dihubungi Serambi kemarin sore, apa yang dilakukan Mualem dan Irwandi itu sebagai bentuk tingginya pemahaman politik yang dilakoni oleh kedua calon gubernur tersebut. “Sikap mereka sudah sangat positif, kita lihat kebesaran jiwa mereka dan pemahaman mereka terhadap politik. Yang dipertontonkan sangatlah baik. Mudah-mudahan diikuti yang bawahnya,” ujar Farid.

Sebagai mantan kombatan, ulasnya, rekonsiliasi itu seharusnya tidak hanya dilakukan Mualem dan Irwandi saja, tetapi juga diikuti dr Zaini Abdullah, Malik Mahmud Al-Haythar, dan Zakaria Saman alias Apa Karya. Mereka, kata Farid, harus berperan untuk memberikan kedamaian Aceh, termasuk melibatkan paslon lain. “Karena yang panas dalam pilkada bukan hanya dua, yang lain juga kena getahnya. Jadi, kita mau semua calon bersatu kembali,” ujarnya.

Menurutnya, setiap orang tak bisa menentukan hasil dari pilkada yang berlangsung 15 Februari lalu. Farid menjelaskan bahwa sebagai orang beragama, kita harus percaya bahwa yang menentukan seseorang bisa menjadi gubernur Aceh adalah Allah. “Yang dapat hasil, alhamdulillah. Yang tidak dapat pun bersyukur juga dia karena ada sebab-sebab takdir Tuhan.”

Yang paling penting lagi, tambahnya, rekonsiliasi ini harus dapat dicontoh oleh para paslon di tingkat kabupaten/kota. Pertarungan ini harus selesai dengan happy ending, tidak membawa dendam. “Kalau mereka baik, ada harapan bagus untuk Aceh, tapi kalau tidak (baik), masing-masing mereka akan saling menjegal lagi,” ungkap Farid.

Sementara itu, Rektor Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Prof Dr Samsul Rizal MEng juga mengapresiasi langkah rekonsiliasi yang dilakoni kedua calon gubernur Aceh itu. “Saya memberikan jempol kepada keduanya, calon-calon negarawan yang hebat dari Aceh. Kita berharap, bupati juga begitu,” katanya.

Samsul mengatakan, tensi pilkada yang selama ini cenderung memanas, kini padam setelah pertemuan dua tokoh yang bersaing ketat pada pilkada itu. “Alhamdulillah, pertemuan tersebut menyejukkan. Mereka dua tokoh di Aceh. Saya tak tahu siapa yang menang di antara mereka, kita minta Aceh aman dan kita harapkan investor bisa datang ke Aceh, sehingga bisa mengurangi angka kemiskinan,” ujarnya.

Menurutnya, pembangunan akan cepat terwujud dengan adanya rekonsiliasi. Tanpa ada kebersamaan, Aceh tak bisa membangun.

“Siapa pun yang menang harus mengajak calon lain untuk bersama-sama merumuskan pembangunan Aceh ke depan. Kan setiap calon pasti mempunyai visi dan misi yang sangat bagus. Visi dan misi yang sangat bagus itu disatukan semuanya, jadilah rencana strategi Aceh lima tahun,” katanya.

Rektor Universitas Malikussaleh (Unimal) Aceh Utara, Prof Dr Apridar MSi menilai, rekonsiliasi yang terjadi antara Irwandi dan Muzakir Manaf pascapilkada adalah babak baru yang menunjukkan semakin dewasanya perpolitikan di Aceh.

Perolehan suara yang signifikan, baik Irwandi Yusuf maupun Muzakir Manaf, menurut Apridar, membuktikan bahwa rakyat Aceh masih menaruh harapan kepada para eks kombatan untuk membangun Aceh.

Momentum pilkada yang sudah sukses dan damai ini, ulas Apridar, perlu terus dipelihara untuk kemenangan bersama dan tidak ada yang merasa terkalahkan. “Yang ada adalah kemenangan bersama dalam membangun peradaban yang lebih baik, demi kemajuan Aceh.”

Apridar juga sangat mengharapkan agar semua kandidat gubernur dan wakil gubernur Aceh menginstruksikan tim suksesnya untuk kembali ke khittah dan profesi masing-masing dalam rangka pembangunan Aceh ke depan yang lebih bermartabat.

Sementara itu, Rektor Universitas Teuku Umar (UTU) Meulaboh mengatakan, begitu membaca headline Serambi Indonesia, Kamis kemarin, sungguh menegaskan kembali keyakinannya bahwa Aceh memang kaya dengan pemimpin agung nan sportif. Betapa tidak, ketika bersaing meraih juara dalam pilkada, mereka berjuang begitu maksimal. Tapi, setelah prosesi pilkada usai, mereka kembali duduk bersama dengan menyatakan komitmennya, membangun bersama-sama Aceh yang lebih baik di masa depan. “Kini mereka sepakat mempercayakan apa pun keputusan hasil pilkada 2017 kepada KIP Aceh sebagai juri kompetisi ini,” ulas Jasman.

Rektor UTU ini mengumpamakan, kompetisi dalam pilkada memang bagaikan kompetisi sepakbola. Dalam lapangan, mereka begitu gesit dalam berjuang, dan terkadang kelihatannya cenderung kasar. Tetapi begitulah yang namanya kompetisi. Itu sebabnya diperlukan juri nan bijak. Namun, jika permainan usai, hubungan persahabatan di antara mereka kembali erat. Itulah ciri pemain profesional.

Jasman menyebut Mualem dan Irwandi adalah pemain profesional. Mereka sadar betul bahwa tujuan utama yang hendak mereka tuju sama: bagaimana menjadikan Aceh yang lebih baik di masa depan.

Cuma saja, menurut Situng KPU, dari suara yang telah masuk ke KIP, pasangan Irwandi-Nova memiliki urutan terbanyak, sementara itu pasangan Muzakir Manaf-TA Khalid menempati urutan kedua. Jadi, kedua kandidat ini memiliki kekuatan yang besar. Karena itu, jika kedua tokoh ini telah sepakat menyatu, maka sinergitas dalam pembangunan tentulah teramat kuat. Dengan adanya komitmen bersama membangun Aceh, maka pihak Muzakir Manaf melalui Partai Aceh yang menguasai legislatif dan Irwandi bergerak di eksekutif, maka akan mengoptimalkan pembangunan Aceh. “Bersama kita bisa. Insya Allah,” ujar Jasman.

Rektor Universitas Samudra (Unsam) Langsa, Dr Drs Bachtiar Akob MPd juga memberi apresiasi yang tinggi atas apa yang sudah dilakukan oleh Mualem-Irwandi, dua kandidat terkuat calon gubernur Aceh.

“Saya melihat, mereka ternyata tidak mengutamakan kepentingan pribadi, tapi lebih mementingkan kepentingan masyarakat. Hal itu terbukti dengan adanya pertemuan rekonsiliasi di antara mereka,” kata Drs Bachtiar Akob MPd, menjawab Serambi by phone, Kamis malam.

Menurutnya, dengan pertemuan itu berarti mereka sudah mengakui siapa yang menang. Mereka juga harus menerima dengan ikhlas. “Setiap ada yang menang pasti ada kalah,” timpalnya.

Namun demikian, Bachtiar Akob menyebut, pada hakikatnya sebenarnya tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah. Karena keduanya memperjuangkan kepentingan rakyat Aceh. “Yang kalah harus berkolaborasi dengan yang menang. karena tujuannya sama, yakni untuk masyarakat Aceh ke depan,” kata Rektor Unsam.

Dari segi persentase, pertemuan itu dinilainya 65 persen jujur. Apalagi Irwandi pernah jadi akademisi, pasti paham bagaimana mendinginkan suasana, begitu juga Muzakir Manaf yang pernah memimpin Aceh saat konflik juga pasti akan bersikap arif dan bijaksana. “Yang jelas, tampak dari pandangan saya sebagai akademisi, niat mereka itu sudah baik, dan ini patut kita apresiasi,” pungkasnya. (dik/yuh/mas) (uri/hon//JK)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id