Religiusitas dalam Pilkada | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Religiusitas dalam Pilkada

Religiusitas dalam Pilkada
Foto Religiusitas dalam Pilkada

Oleh Syamsul Rijal

MEMBANGUN kesadaran berislam bagi manusia bijak tidak terbatas dalam konteks menjalin hubungan dengan yang Maha Pencipta (hablum minallah), tetapi juga bagaimana membangun interkoneksi antarsesama yang diciptakan (hablum min al-nas).

Dalam realitas sosio-religi-politik interaksi antarsesama itu menjadi lebih dominan dalam mengisi kehidupan. Namun keadaan dari bangunan kultural yang muncul dalam sebuah proses interaksi acapkali berbasiskan sebuah keyakinan, sebut saja dimensi religiusitas dan ataupun tidak sama sekali bahkan kenyataannya entitas nilai apa pun dari potret kehidupan itu sendiri.

Disadari atau tidak, dimensi sosio-politik dalam bangunan sebuah budaya berkehidupan yang berbasiskan nilai keagamaan, akan menuntun pelakunya dalam atmosfir nilai berkehidupan yang esensial ketimbang tidak sama sekali dalam fondasi nilai tersebut.

Semakin terasa
Pertautan antara religiusitas dan sosio-politik semakin terasa di Februari 2017 ini, di mana sebagai bulan proses Pilkada serentak di negeri ini, hiruk-pikuk partisipatori warga sudah sangat terasa dan bahkan suhu politik mulai memanas. Secara Nasional peta pertarungan mengalami dinamika yang mencuat tajam bahkan termasuk di Aceh. Kenyataan sosial ini ditandai dengan aktivasi elemen penyelenggara Pilkada (KPU untuk Nasional, KIP untuk Aceh, dan Panwaslih) telah mulai eksis berkiprah.

Demikian juga dengan kontestasi telah menghimpun kekuatan untuk saling berebut pengaruh guna meyakinkan publik agar mereka tampil ke tampuk kekuasaan. Bahkan proses mereka menuju kesana itu sangat dinamis dengan bergerak cepat mencapai tujuan, sama ada yang tampil melalui dukungan parpol Nasional maupun parlok (partai lokal khusus Aceh) maupun yang maju melalui jalur independen.

Tampilnya enam kontestan calon gubernur dan calon wakil gubernur Aceh –yang telah kita pilih sesuai dengan suara hati nurani kita pada 15 Februari 2017 lalu– menandakan dinamika tersebut. Bahkan, tampilnya mereka dari jalur politik (partai Nasional dan atau partai lokal berkolaborasi dengan partai Nasional) dan juga jalur independen turut meramaikan pesta demokrasi guna melahirkan pemimpin pilihan rakyat.

Religiusitas dan politik adalah dua hal berbeda tetapi dalam realitasnya tidak dapat dipisahkan terutama dalam muatan ketokohan yang tampil melalui baju politik juga adalah tokoh agama. Dalam pentas internasional, sebut saja Benjamin Netanyahu perdana menteri Israel adalah tokoh partai yang berhaluan Yahudi Fundamentalis, sementara di India partai yang berkuasa (Bharatya Janata Party) adalah partai memiliki Idiologi Hindu mereka berdua tampil dalam tampuk kekuasaan sangat erat kaitannya dengan dimensi religiusitas. Oleh karena itu, dalam dinamika politik yang berkembang, religiusitas dapat dijadikan publik sebagai pertimbangan utama dalam memilih jabatan publik sesuatu yang realistis dalam konstelasi perpolitikan saat ini.

Bagi kebanyakan warga memiliki kecenderungan untuk memilih pemimpin (kepala daerah) itu sifatnya terkait dengan selera favoritisme. Kecenderungan warga akan menentukan pilihannya itu dengan pertimbangan kedekatan pribadi dengan sosok yang dipilih (personal proximity) dan juga bisa saja dipicu oleh emosionalitas skop wilayah, profesi atau lainnya, realitas sosial ini akan menggambarkan karakter pemilih di dalam memilih.

Merajut damai
Dalam peta sosio-politik senantiasa terjadi tarik menarik antara team sukses dan pengikut pemilih, kenyataan ini tidak menguntungkan dan diperlukan kesadaran yang sigap agar dinamika politik yang ada itu berproses secara damai. Di antara strategi yang perlu diwujudkan menuju realitas damai dalam menentukan pilihan warga, salah satunya mengharuskan warga pemilih untuk memberikan penghormatan antarkontestasi itu menjadi perlu.

Selanjutnya apa yang harus diperhatikan oleh semua pihak? Pertama, Religiusitas terkait dengan pesan demokrasi ini harus mempu membangun partisipatori warga pemilih di dalam menentukan pilihannya. Warga yang memilih untuk tidak memilih itu adalah tidak sehat dalam kerangka religiositas dan mambangun peradaban demokrasi.

Kedua, religiusitas harus mampu menghadirkan sikap kesatria siap menang dengan serius merealisasikan program yang ditawarkan dan sekaigus siap kalah menerima kenyataan dan bahu-membahu membangun kebersamaan menuju kesejahteraan warga.

Siap menang terkadang melupakan pemenangnya untuk berusaha maksimal mewujudkan janji kampanye, kemenangan bukan sebatas menuju tempuh kekuasaan tetapi kemenangan harus diartikan sebagai pengemban amanah yang diberikan tugas merealisasikan seluruh janji kempanye secara signifikan.

Sementara itu, siap kalah haruslah berjiwa besar menerima kenyataan dengan lapang dada. Dan oenuh semangat membangun sinergisitas bagi yang menang bahu/membahu memberikan masukan yang konstruktif dalam membangun masyarakat secara bersama.

Ketiga, religiusitas itu secara sadar atau tidak bagi pengemban karakternya akan mampu men-design nalar dan karakter antar warga agar memiliki sikap demokratis dengan tidak saling menuding antar sesama. Demikian juga religiusitas harus memaku menghapus munculnya sikap menjelekkan antarkontestasi, apalagi dengan atas nama religiusitas.

Menguak dinamika proses pilkada di Aceh sebagai negeri yang berbasis syariat, tentunya kondisi ini lebih dominan terlihat sebagai potret perhelatan demokrasi yang damai, ketimbang proses demokrasi yang mencederai entitas demokrasi itu sendiri. Kondisi ini semua terkait dengan sempat warga yang partisipatoris menuju spirit proses demokrasi guna melahirkan pemimpin pilihan warga yang mumpuni membangun warga itu sendiri.

Akhirnya, kepada para calon pemimpin yang telah dipilih dan diberi kepercayaan oleh rakyat, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, kita ucapkan selamat. Wallahu a’lam bi al-shawwab.

* Prof. Dr. Syamsul Rijal, M.Ag., Guru Besar Ilmu Filsafat Islam pada Fakultas Ushuluddin UIN Ar-Raniry Darussalam, Banda Aceh. Email: [email protected] (uri/aufik/arahdiba/TF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id