Menuju Persatuan Umat | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Menuju Persatuan Umat

Menuju Persatuan Umat
Foto Menuju Persatuan Umat

Oleh Nuruzzahri (Waled Samalanga)

TAK dapat dipungkiri setiap ada even yang diperlombakan selalu ada pihak-pihak yang menang dan kalah. Menang dan kalah sebuah keniscayaan dalam sebuah perlombaan. Fenomena seperti inilah yang baru saja berlangsung di negeri Republik Indonesia, khususnya Aceh, yaitu melewati prosesi pemilihan kepala daerah (pilkada), baik gubernur, bupati atau wali kota.

Tak berlebihan jika pilkada ini dianalogikan seperti sebuah perlombaan. Di mana setiap calon berhasrat untuk memenangkan even dengan mengandalkan berbagai cara yang dibolehkan panitia acara lomba. Begitu pula dalam pilkada, setiap calon ingin namanya atau nomor urutnya muncul sebagai pemilik suara terbanyak dengan mengandalkan berbagai cara yang dibenarkan pihak penyelenggara pilkada.

Ironisnya, setelah pilkada selesai seperti halnya acara perlombaan pada umumnya ada pihak-pihak yang tidak siap menerima kekalahan. Sehingga bermasam muka kepada rivalnya yang menang. Hal ini lumrah terjadi dalam kehidupan umat manusia. Sebagai Muslim tidak dibenarkan bermasam muka lantaran kalah dalam sebuah perlombaan. Islam mengajarkan penganutnya bahwa hakikat perlombaan itu adalah untuk merajut hubungan silaturrahmi, bukan untuk menyudutkan lawan.

Pesan yang diinginkan Islam di atas ternyata sudah menjadi hal yang tidak diperhatikan oleh banyak umat Islam dewasa ini, termasuk yang ikut dalam pilkada. Sehingga tidak sedikit dari mereka yang frustrasi, hilang sifat kemanusiaannya, berujung di rumah sakit jiwa, atau menciptakan luka pada orang lain di saat dirinya terdampar ke pantai kegagalan. Padahal ada hal lain yang lebih penting setelah melewati pilkada, yang tidak boleh digadaikan, yaitu hubungan persaudaraan.

Cerminan rakyat
Siapapun calon pemimpin yang akan memegang kendali di Aceh baik di tingkat provinsi maupun kabupaten adalah pilihan rakyat. Juga pemimpin bagi orang yang tidak memilih kandidat yang menang itu. Karena suara terbanyak dalam sistem demokrasi adalah suara Tuhan. Jadi tidak perlu ada rasa kalah di saat calon yang kita usung kalah, karena yang menang itu juga pemimpin kita walaupun selama pilkada kita tidak mengusungnya.

Mengapa perasaan tidak senang tidak boleh menghinggap jiwa kita di saat calon yang kita usung tidak menang? Hakikat pemimpin dalam pandangan Islam adalah cerminan rakyatnya. Pemimpin sebuah negeri akan diberikan sesuai dengan keadaan dan ahklak rakyat dalam negeri itu. Apabila rakyat dalam sebuah negeri baik, maka pemimpin yang akan memegang tampuk kekuasaan mereka adalah orang baik-baik. Sebaliknya, apabila rakyat dalam sebuah negeri berakhlak tercela, maka Allah Swt akan mengirim kepada mereka pemimpin yang buruk.

Dengan demikian, yang perlu dilakukan oleh setiap elemen masyarakat yang sudah ada hak pilih, selain berharap dipimpin oleh orang baik ialah memperbaiki diri menjadi baik. Jangan cuma berharap dimenangkan pemimpin yang baik, tapi dirinya berkubang dengan kenistaan. Inilah bagian yang selalu diucapkan Rasulullah saw dalam setiap doanya, Allahumma la tushallith ‘alaina bi zunubina man la yakhafuka wa la yarhamuna (Ya Allah, jangan Engkau biarkan kami dikuasasi oleh pemimpin-pemimpin yang tidak takut kepadamu dan tidak menyayangi kami karena dosa yang kami lakukan).

Doa Baginda Nabi saw di atas menjustifikasikan bahwa dosa yang kita lakukan ada hubungannya dengan calon pemimpin yang akan hadir memimpin kita. Pemimpin yang akan hadir itu punya dua ciri khas; tidak takut kepada Allah dengan tidak menerapkan syiar agama Allah dalam kehidupannya dan kehidupan rakyatnya, dan tidak berlemah lembut dan tidak berkasih sayang kepada rakyatnya.

Apabila dua ciri di atas melekat pada calon pemimpin kita, itu pertanda bahwa dosa kita kepada Allah Swt masih banyak. Masih banyak hak-hak Allah Swt yang belum kita tunaikan, sehingga Allah menimpakan atas kita sebuah musibah berupa dikuasai oleh pemimpin yang mempersulit kita dalam bermuamalah dengan Allah Swt.

Oleh karena itu, Saidina Umar ibn Khattab jauh-jauh hari yang lalu telah mengajarkan konsep hidup sukses, sukses dalam menerapkan syiar agama Allah di atas penjuru bumi. Yaitu setiap anggota masyarakat harus melibatkan dirinya sebagai pelaku kebaikan dalam setiap rumah tangga, dengan demikian syariat Tuhan akan tegak di luar rumah mereka. Jika pemerintah saja yang berkeinginan untuk menerapkan syariat Allah, sementara rakyat tidak menginginkan, maka hasilnya nihil.

Berdasarkan uraian di atas bahwa calon pemimpin yang akan hadir di tengah-tengah kita sesuai dengan watak dan ahklak masyarakat di sekitarnya, maka tidak ada alasan lagi untuk kita marah-marah bahkan sampai memutuskan tali silaturrahmi setelah pemimpin harapan kita masing-masing kandas menang di pilkada kemarin. Tugas kita selanjutnya memperkuat hubungan saudara antar-timses sembari memperbaiki diri untuk melahirkan calon pemimpin yang lebih baik di tahun yang akan datang.

Ukhuwah islamiyah
Banyak orang mengira bahwa harta yang paling berharga di dunia ini berlian yakut yang dipakai oleh Ratu Inggris, atau kalung yang dileletkan di leher permaisuri raja. Dalam kaca mata Islam dan kaca mata ulama ilmu sosial harta yang paling berharga adalah hubungan persaudaraan. Tidak ada yang lebih utama diperjuangkan dalam hidup ini selain terajut hubungan baik dengan tetangga, kerabat, dan setiap orang di saat kita jumpa.

Mengingat pentingnya hubungan persaudaraan ini, Rasulullah saw empat belas abad yang lalu saat membangun Daulah Islamiyah di Madinatul Munawwarah menjadi ukhuwah Islamiyah ini sebagai salah satu pondasi negaranya. Beliau mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dari Mekkah dengan kaum Anshar yang berada di Madinah. Hubungan saudara ini dibangun atas dasar agama, bukan atas dasar darah atau keturunan. Sebagaimana diketahui bahwa hubungan saudara seagama jauh lebih kokoh dari pada hubungan saudara se-nasab.

Apa yang telah pernah digagas Baginda Nabi saw di atas sudah saatnya menjadi perhatian kita sebagai bangsa Aceh, bangsa teuleubeh ateuh rhueng donya. Jangan ada pertumpahan darah, saling melukai atau meludahi pascapilkada. Semua kita bangsa Aceh bersaudara. Saudara yang dibangun atas dasar agama. Bangsa Aceh harus menjadi role model bagi bangsa lain dalam bidang ukhuwah. Kalau tidak, maka kita merasa malu digelar dengan Serambi Mekkah.

Semoga hubungan saudara yang telah kita bangun sebelum pilkada, tidak goyah setelah pilkada selesai. Semoga kita benar-benar menjadi satu bangsa sebagaimana dikehendakil Allah Swt dengan firman-Nya, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. Dan janganlah kamu menyerupai orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” (QS. Ali Imran: 104-105). Semoga!

* Tgk. H. Nuruzzahri (Waled Samalanga), Pimpinan Dayah Ummul Ayman Samalanga, Ketua Mustasyar Himpunan Ulama Dayah Aceh, dan Pendiri STIS Ummul Ayman Pidie Jaya, Aceh. (uri/aradhia/ayanti/FD)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id