Masa (tidak) Tenang Pilkada | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Masa (tidak) Tenang Pilkada

Masa (tidak) Tenang Pilkada
Foto Masa (tidak) Tenang Pilkada

Oleh Rahmat Fadhil

SESUAI dengan keputusan Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh No.1 Tahun 2016 tentang Tahapan, Program dan Jadwal Penyelenggaraan Pemilihan Umum Gubernur/Wakil Gubernur Aceh Tahun 2017, menyatakan bahwa masa tenang pemilihan kepala daerah (pilkada) adalah 12-14 Februari 2017, yang sekaligus sebagai masa pembersihan segala atribut kampanye.

Keputusan KIP Aceh tersebut juga menjadi rujukan bagi KIP kabupaten/kota dalam menentukan jadwal pemilihan bupati/wakil bupati dan wali kota/wakil wali kota di Aceh. Masa tenang bagi semua pihak, baik penyelenggara, kandidat pilkada, tim sukses dan masyarakat. Namun di sebalik itu sesungguhnya ini merupakan juga masa tidak tenang. Jadi ini bermakna dua hal sekaligus, masa tenang dan masa tidak tenang, yang selanjutnya saya sebut “masa (tidak) tenang”.

Masa tenang
Masa tenang dimaknai sebagai masa tidak adanya aktivitas kampanye sebagaimana yang telah ditentukan sesuai dengan peraturan pilkada yang berlaku, baik undang-undang, qanun, dan keputusan KIP sebagai penyelenggara pilkada. Masa ini ditandai dengan tidak adanya kegiatan pengumpulan massa untuk mempengaruhi pemilih, pemajangan alat peraga seperti baliho, poster, termasuk iklan di media.

Masa tenang juga merupakan masa pembersihan segala atribut yang masih terpasang di berbagai tempat dan media, kecuali pada kantor-kantor resmi partai pendukung, posko pemenangan kandidat pilkada dan sekretariat resmi penyelenggara pilkada (KIP dan Bawaslu). Selain dari tempat-tempat itu merupakan tindakan terlarang dan dilarang oleh peraturan pilkada yang akan memiliki konsekuensi hukuman tertentu.

Sementara masa tidak tenang adalah makna lain dari masa tenang. Masa yang tidak santai baik bagi penyelenggara, kandidat pilkada, maupun tim sukses. Untuk penyelenggara, sudah pasti masa (tidak) tenang tiga hari itu adalah masa-masa yang paling sibuk dan menguras energi. KIP misalnya, harus memastikan fasilitas dan lokasi tempat pemungutan suara (TPS) telah tersedia secara memadai, logistik telah terdistribusi dengan cukup di setiap TPS, termasuk memastikan semua penyelenggara mulai di tingkat provinsi sampai ke TPS telah menerima semua pengarahan dan informasi yang mesti diketahui tentang cara pelaksanaanpemungutan suara, perhitungan suara dan rekapitulasi suara.

Begitu pula halnya dengan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) yang bertanggung jawab untuk mengawasi seluruh tahapan dan poses peyelengaraan sampai penetapan di KIP kabupaten/kota untuk pemilihan bupati/wakil bupati dan wali kota/wakil wali kota, serta KIP Aceh untuk pemilihan gubernur/wakil gubernur Aceh.

Berikutnya yang menarik dibahas adalah aktivitas masa (tidak) tenang untuk kandidat dan tim sukses pilkada. Karena bagi mereka tentu selama tiga hari itu adalah pekerjaan yang sangat penting dan strategis sebagai detik-detik terakhir sebelum pencoblosan untuk mempengaruhi para pemilih.

Uroe malam payah meujaga (siang malam mesti berjaga-jaga), sebab dari pengalaman pilkada sebelumnya kita semua telah belajar bahwa tidak jarang suatu wilayah yang awalnya sudah sangat yakin akan menang, namun pada hari pencoblosan ternyata kalah telak akibat operasi politik oleh kandidat lain. That peudeh (sangat pedih) rasanya.

Beberapa aktivitas
Paling tidak ada beberapa aktivitas yang akan dilakukan oleh kandidat pilkada dan tim suksesnya, antara lain: Pertama, kampanye laju-laju (kampanye terus-menerus). Para kandidat dan tim suksesnya tetap menjadikan masa tenang sebagai masa tidak tenang bagi mereka. Dalam kamus gerakannya tertulis bahwa masa tenang adalah masa paling sibuk untuk memastikan para pemilih agar sesuai dengan harapannya, bahkan mulai menghitung-hitung prediksi perolehan suara yang akan dicapai. Berbagai cara terus dilakukan tanpa kenal lelah siang dan malam, setiap tempat, setiap saat, setiap kesempatan dan pada setiap orang (calon pemilih), terus dan terus.

Kedua, peutaba peng (politik uang). Kalau cara pertama lebih soft campaign (kampanye secara halus), sedangkan cara kedua melalui peutaba peng adalah cara yang lebih vulgar. Ada dua pendekatan yang dapat dilakukan, yaitu melalui personal untuk menggalang puluhan lainnya, dan melalui tokoh untuk mempengaruhi komunitas atau orang dalam kepemimpinannya. Kedua cara ini dapat dilakukan secara bersamaan dengan pemetaan masing-masing wilayah atau kawasan yang ditargetkan.

Ketiga, khanduri (pesta makan-makan). Cara-cara khanduri lazim terjadi di Aceh, mengingat budaya khas kita yang selalui diwarnai dengan kegiatan ini dalam banyak aktivitas bermasyarakat. Aktivitas khanduri bisa dilakukan di masa tenang dengan sangat leluasa dan dapat mengumpulkan massa yang ramai. Walaupun menghabiskan biaya yang agak besar, namun untuk wilayah-wilayah tertentu masih cukup efektif untuk dilakukan.

Keempat, jak beutroeh kaloen beudeuh (kunjungan ke masyarakat). Kegiatan ini adalah aktivitas yang paling mudah dan sederhana dilakukan di antara aktivitas-aktivitas lainnya. Salah satu bentuk kegiatannya adalah direct selling (pemasaran langsung), yaitu tim sukses mendatangi calon pemilih dari rumah ke rumah (door to door) untuk mempromosikan kandidatnya melalui tatap muka dan percakapan secara langsung.

Tindakan seperti ini sulit dikategorikan sebagai kampanye, karena dapat didalilkan sebagai aktivitas silaturrahmi dalam masyarakat. Bentuk lainnya adalah para kandidat mengunjungi tempat-tempat keramaian seperti pasar rakyat, perhelatan olahraga, panggung kesenian, dan aktivitas sosial kemasyarakatan lainnya.

Kelima, prang haba (perang opini). Cara ini dapat dilakukan lewat dua sarana sekaligus, bisa melalui saluran media sosial, ataupun lewat isu dari mulut ke mulut. Ini merupakan cara paling klasik dari kampanye yang telah terjadi sepanjang pilkada berlangsung. Namanya saja opini tentu terus mengalir bak bola salju yang semakin membesar.

Keenam, peutakoet (intimidasi). Ini adalah cara terakhir setelah cara-cara lainnya dirasakan tidak memungkinkan lagi. Sejarah pilkada Aceh masih beraroma peutakoet dan sepertinya suka ataupun tidak suka sudah kelihatan akan terjadi lagi.

Masa (tidak) tenang merupakan cara terakhir mengerahkan segala daya upaya. Bagi kandidat pilkada dan tim suksesnya na saja cara, yang peunteng kiban cara beumeunang (selalu saja ada cara, yang penting bagaimana bisa menang).

Terlepas dari hal itu semua, apa pun bisa saja dilakukan oleh kandidat dan tim suksesnya. Namun yang perlu disadari bahwa setiap pilihan tindakan mestilah mempertimbangkan kemungkinan yang akan dipersalahkan kemudian. Seumoga na cara yang jroh (ada cara yang baik).

* Rahmat Fadhil, Wakil Ketua Panitia Pengawas Pemilihan (Panwaslih) Pilkada Aceh 2006 dan Dosen Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh. Email: [email protected] (uri/atih/artanto/RH)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id