Pendukung Abusyik Demo KIP Pidie | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Pendukung Abusyik Demo KIP Pidie

Pendukung Abusyik Demo KIP Pidie
Foto Pendukung Abusyik Demo KIP Pidie

* Minta Dibolehkan Pakai Kopiah Merah Saat Pencoblosan

 SIGLI – Pendukung pasangan calon bupati dan wakil bupati Pidie dari nomor urut 2, Roni Ahmad (Abusyik)-Fadhlullah, kembali melakukan aksi demo ke Kantor Komisi Independen Pemilihan (KIP) Pidie, Sabtu (11/2). Dalam tuntutanya, massa Abusyik itu minta agar dibolehkan menggunakan kopiah merah yang menjadi ciri khas paslon tersebut, saat pencoblosan. “Karena kopiah merah bukan alat peraga kampanye (APK),” kata para pendukung Abusyik itu.

Pantauan Serambi, pendukung paslon nomor urut 2 ini didominasi para pemuda. Mereka tiba di kantor KIP Pidie sekitar pukul 12.15 WIB. menggunakan roda empat maupun roda dua. Jumlah massa semakin bertambah ketika massa cagub dan cawagub Aceh, paslon Irwandi Yusuf dan Nova Iriansyah yang hendak ke Banda Aceh, singgah dan bergabung dengan massa Abusyik. Polisi berpakaian dinas yang dilengkapi senjata laras panjang pun kemudian menahan massa agar tidak masuk ke Kantor KIP Pidie.

Massa pun tertahan di jalan menuju kantor penyelenggara Pemilu tersebut. Orasi memprotes KIP, silih berganti dilakukan di depan polisi yang melakukan pagar betis. Tidak satu pun pendemo yang berusaha menerobos pagar betis yang didirikan petugas, meski massa cukup kesal kepada petugas karena tidak memberikan izin masuk ke Kantor KIP Pidie

Koordinator demo, Faisal, mengatakan bahwa pendukung Abusyik datang ke KIP Pidie guna meminta KIP membuat pernyataan tertulis, yang membolehkan penggunaan kopiah merah oleh pendukung Abusyik pada hari pencoblosan.

“KIP harus mengeluarkan surat izin kepada pendukung Abusyik terhadap penggunaan kopiah merah pada saat pencoblosan. Kopiah merah bukan APK. Kenapa KIP membuat aturan yang merugikan pasangan jagoan kami,” kata Faisal

Saat pengunjuk rasa melakukan orasi, dua komisioner KIP Pidie, Heri Saputra dan M Diah Adam menghampiri pendemo. Kedua komisioner KIP berdiri di belakang personel polisi. Saat itu, massa kembali melakukan orasi yang didengar langsung dua komisioner KIP tersebut. Namun, mereka tidak menanggapi langsung protes massa, hingga mereka membubarkan diri.

Empat komisioner KIP Pidie, Ridwan, Heri Saputra, M Diah Adam dan T Samsul Bahri, kemudian menggelar jumpa pers di kantor tersebut. Dalam pertemuan tersebut dijelaskan bahwa KIP Pidie tidak berhak mengeluarkan izin penggunaan kopiah merah untuk pendukung paslon Abusyik. “Itu ranahnya Panwaslih, silakan tanya kepada Panwas,” kata Heri Saputra.

Ia mengatakan, kopiah merah tidak termasuk dalam Atribut Peraga Kampanye (APK). Karena yang disebut APK meliputi baliho, spanduk dan umbul-umbul. “Namun, kopiah merah masuk sebagai atribut kampanye. Yang disebut atribut kampanye, apa pun yang melekat yang bisa dikampanyekan,” jelasnya.

Aturan itu tertuang dalam pasal 26 PKPU bahwa parpol atau paslon maupun tim kampanye dapat mencetak bahan kampanye yang difasilitasi KPU yang dibiayai parpol dan cabup tim kampanye, sebagaimana tertuang di dalam pasal 23 ayat (2) dan ayat (3). Yakni, baju kaos, topi, kalender, mug/gelas, kartu nama, pin, ballpoint dan payung.

“Jadi berdasarkan aturan tersebut, kopiah merah masuk ke dalam atribut kampanye, bukan APK,” katanya.

Heri juga mengklarifikasi, bahwa pihaknya tidak pernah mengusir paslon nomor urut 2 saat debat cabup-cawabup yang dilaksanakan Januari lalu. “Yang kami keluarkan dari ruang debat, bukan paslon melainkan timsesnya karena tak bersedia membuka kupiah merah,” tegas Heri.

Sebelum sanksi diberikan kepada paslon berupa tidak ditayangkannya sisa iklan di media massa dan tidak dibolehkan ikut debat, ia mengaku KIP telah memfasilitasi paslon itu dengan anggaran daerah yang memberikan bahan APK, untuk disebarluaskan kepada masyarakat.  APK untuk nomor urut dua itu berupa spanduk, umbul-umbul dan baliho, juga telah disebarkan KIP sebelum debat kandidat digelar.

“Jadi tidak benar KIP mendiskriminasi paslon itu. Perlu dipahami hilangnya paslon nomor urut 2 dari tayangan iklan, bukan artinya pasangan itu dicoret dari calon. Itu merupakan sanksi saja,” katanya.

Ketua Divisi Pencegahan/Pelanggaran, Panwaslih Pidie, Sufyan MPd yang dikonfirmasi Sabtu (11/6), meminta KIP Pidie tidak melempar ‘bola panas’ terhadap penggunaan kopiah merah. Karena menurutnya, kopiah merah itu ditetapkan KIP sebagai atribut kampanye, setelah timbulnya keributan saat debat kandidat.

Kata Sufyan, putusan KIP yang menyatakan kupiah merah atribut kampanye, merupakan produk hukum yang menjadi kewajiban pengawasan dari Panwaslih. Di mana kopiah merah merupakan ciri khas paslon Abusyik yang masuk dalam kategori atribut kampanye. Keputusan itu ditandatangani Ketua KIP Pidie, Ridwan.

“Jadi tugas Panwaslih hanya mengawasi keputusan KIP, kami tidak bisa merubah keputusan KIP tersebut. Saya harap KIP jangan melempar bola panas kepada Panwaslih mengenai kopiah merah ini,” kata Sufyan.

Merujuk kepada aturan dibuat KIP, maka kopiah merah ini pun telah menjadi atribut kampanye yang tidak boleh dipakai pendukung Abusyik mulai minggu tenang hingga hari pencoblosan. “Minggu tenang dimulai Minggu (12/2) dini hari,” katanya.(naz) (uri/sih/ebrinaldy/AF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id