Rasa Aceh di Pasar Cornice | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Rasa Aceh di Pasar Cornice

Rasa Aceh di Pasar Cornice
Foto Rasa Aceh di Pasar Cornice

OLEH Hj NUR ASIAH IBRAHIM SAg, pembimbing ibadah umrah asal Aceh, melaporkan dari Kota Jeddah, Arab Saudi

KALAU Anda berkunjung ke Saudi Arabia, luangkanlah sedikit waktu untuk singgah di Al-Balad alias Kota Balad yang terletak di pusat Kota Jeddah, salah satu kota di antara sejumlah kota yang ada di negeri padang pasir itu.

Di kota ini ada sebuah pusat perbelanjaan yang dikenal dengan Cornice Shoping Center dan puluhan toko lainnya menyediakan aneka buah tangan dan kuliner. Termasuk berbagai kuliner khas Indonesia.

Pedagang di kota ini sepertinya mampu membaca dengan akurat selera belanja orang Indonesia. Ini antara lain terlihat dari cara mereka memberi nama toko mereka dengan nama Indonesia.

Di tempat ini beberapa nama toko dalam bahasa Indonesia yang sempat saya catat, antara lain, Toko Ali Murah, Toko Sultan Murah, Toko Noor Murah, Toko Kamal Murah, dan Toko Gani Murah. Toko-toko ini berdiri saling berdempetan.

Penggunaan kata murah mungkin saja sebagai modus pemilik toko yang hendak menarik perhatian para calon pembeli asal Indonesia. Ya, semacam trik pemasaranlah. Apalagi mereka tahu benar rahasia pembeli asal Indonesia yang memang suka barang murah.

Menurut informasi yang kami terima dari beberapa orang Indonesia yang bekerja di Toko Ali Murah, ternyata Toko Ali Murah merupakan toko pertama di Jeddah yang melakukan pendekatan “keindonesiaan”. Awalnya toko ini terletak di belakang Pasar Al-Balad. Letaknya tidak begitu strategis, tapi tetap banyak yang mengunjunginya. Baik dari kalangan artis maupun kru kabin. Sekarang Toko Ali Murah dapat dijumpai dengan mudah dengan tulisan besar yang bisa terbaca terang dari jalan besar. Nah, kabarnya setelah Toko Ali Murah berjaya meraup rupiah dari jamaah Indonesia, maka banyak toko lainnya kemudian bermunculan dengan trade mark murah.

Strategi dan kreativitas tauke Arab di Jeddah ini ternyata bukan hanya dalam hal penamaan toko mereka dengan bahasa Indonesia, tetapi juga melalui gaya komunikasi pelayan toko yang juga rata-rata berasal dari Indonesia, terutama dari Jawa.

Empat tahun lalu ketika saya berkunjung ke sini, apabila ada calon pembeli lewat di depan toko mereka dan diyakini dari Indonesia, maka pemilik toko berkebangsaan Arab itu akan memangil-manggil dengan “Siti Rahmah, ayo belanja.”

Kali ini saya melihat pemilik toko di Cornice ini semakin kreatif dalam menggunakan diksi yang lebih menyentuh ibu-ibu dari Indonesia yang sedang shopping di kota tepi pantai Laut Merah. “Ayo Bunda cantik, Bunda cantik, mampir Bunda cantik…,” seru mereka dengan bahasa Indonesia yang belepotan.

Mendapat sapaan demikian, sebagian ibu-ibu dari Indonesia langsung luluh dan berbelanja di tempat mereka. Lalu, rupiah pun terkuras.

Sisi lain yang menarik di pasar ini, kita tidak perlu menggunakan mata uang riyal sebagai alat tukar. Cukup dengan mata uang rupiah seperti layaknya berbelanja di Indonesia. Mereka telah menyediakan uang kembalian dalam bentuk rupiah dengan jumlah yang memadai.

Saat berkunjung ke Cornice, perasaan saya selintas pasar ini mirip Pasar Aceh atau Peunayong di Banda Aceh. Pasar Cornice inilah yang selalu menjadi tujuan destinasi jamah haji dan umrah Indonesia–terutama ibu-ibu–saat transit di Jeddah menjelang keberangkatan kembali ke Tanah Air. Tak heran kalau muncul anekdot di kalangan jamaah: Kalau di Mekkah melontar jamarah, maka di pasar Cornice ini melontar rupiah.

Di Cornece tersedia berbagai kebutuhan belanja ibu-ibu. Dari baju abaya atau baju terusan warna hitam dan berbagai baju mode Arab lainnya, kaca mata hitam, gelang dan cincin dari emas dan berlian, sampai bakso hingga lontong. Rata-rata di pasar ini para wanita pasti beli baju abaya warna hitam, baik untuk sendiri maupun sebagai hadiah bagi keluarga atau tetangga. Seorang teman yang membeli abaya hitam, saat saya tanya alasan dia membelinya, dengan senyum simpul menjawab, “Cantik, seperti wanita Arab.”

Sekalipun jamaah Indonesia sudah banyak belanja di Madinah dan Mekkah, ternyata jamaah haji dan umrah kita tetap berbelanja lebih royal lagi di Cornece. Boleh saja di Pasar Aceh, misalnya, ada ceret warna kuning keemasan, tapi sebagian jamaah tetap saja membeli ceret warna tersebut di Cornece sekalipun harganya lebih mahal plus lelah menentengnya ke Tanah Air. Ada yang bilang nilai “spritualitas” ceret kuning Pasar Cornece berbeda dengan yang di Pasar Aceh.

Berbagai cara dilakukan pedagang di Pasar Cornes dalam rangka menggaet hati wanita Indonesia. Ya, salah satunya saya sebutkan sebelumnya, kebanyakan pelayan toko pakaian di Cornece diimpor dari Indonesia. Ini tentu saja memiliki dampak psikologi bagi pembeli dari Indonesia yang rata-rata tak mampu berbahasa Arab. Ketika berbelanja dan dilayani “orang kampung sendiri”, biasanya pembeli dari Indonesia tidak terkendala bahasa dan cenderung lebih percaya dengan harga yang diberikan oleh toko melalui pramuniaga Indonesia itu. Padahal, sekalipun namanya Toko Ali Murah, jualannya belum tentu murah. Pokoknya, masuk ke Pasar Cornese sangat Indonesia, bahkan Aceh banget.

* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskahnya, termasuk foto dan identitas Anda ke email [email protected] (uri/gie/iyadie/OR)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id