Difteri pada Anak | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Difteri pada Anak

  • Reporter:
  • Sabtu, Februari 11, 2017
Difteri pada Anak
Foto Difteri pada Anak

Oleh Aslinar

BELAKANGAN ini kita dikejutkan dengan berita bahwa penyakit difteri kembali menyerang anak anak di Aceh. Sebuah berita yang mengejutkan dan tentunya mengerikan bagi kita semua. Di Indonesia penyakit difteri kembali muncul pada 2003, yaitu di daerah Bangkalan, Jawa Timur yang kemudian menyebar ke hampir semua kabupaten/kota di Jawa Timur, dan ditetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB) oleh Gubernur pada 2011.

Pada tahun berikutnya dilaporkan kasus difteri dari Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur. Kemudian pada 2014, Kota Padang juga melaporkan kasus difteri dan juga dinyatakan sebagai KLB. Tahun 2009, data Surveilan Kemenkes mencatat 189 kasus difteri dan terus beranjak naik menjadi 342 kasus pada 2010, 806 kasus pada 2011 dan puncaknya pada 2012 mencapai 1.192 kasus. Kemudian pada 2015 ditemukan 252 kasus difteri dengan jumlah kasus meninggal sebanyak 5 kasus sehingga CFR difteri sebesar 1,98%.

Di Aceh, kasus difteri juga meningkat, dari tahun 2012 ditemukan sebanyak 16 kasus dan 4 orang di antaranya meninggal. Pasien berasal dari Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Utara, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan dan Pidie Jaya. Awal 2017 ini, berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Aceh kembali ditemukan kasus difteri sebanyak 18 kasus di Aceh Timur, 1 kasus (Aceh Tamiang), 4 kasus (Aceh Utara), 7 kasus (Pidie Jaya), 6 kasus (Banda Aceh), 1 kasus (Aceh Besar), 1 kasus (Lhokseumawe) dan 1 kasus lagi dari Bireuen. Dilaporkan ada 2 kasus difteri tersebut yang meninggal.

Penyakit menular
Difteri merupakan penyakit yang sangat menular. Penyakit ini disebabkan oleh kuman Corynebacterium diphteriae. Penyakit ini sangat berbahaya karena dapat menyebabkan kematian yang disebabkan oleh obstruksi (sumbatan) laring atau karena miokarditis (komplikasi pada jantung). Bakteri penyebab penyakit ini mengeluarkan toksin (racun) yang bisa menyebabkan pembengkakan tonsil (amandel) hingga menutup jalan nafas. Toksin yang dihasilkan tersebut juga bisa menyebar ke organ tubuh lain seperti jantung (miokarditis), sistem saraf (neuritis) dan ginjal (glomerulonefritis).

Difteria ditularkan melalui kontak dengan pasien atau melalui droplet (percikan) ketika batuk, bersin atau saat berbicara. Muntahan atau pun debu juga bisa merupakan wahana penularan penyakit ini. Kuman yang terpercik akan masuk ke mukosa di sekitar mulut, kemudian akan melekat serta berkembang biak di bagian permukaan mukosa saluran pernafasan bagian atas dan mulai menghasilkan toksin yang akan disebarkan ke sekelilingnya. Selanjutnya akan dibawa ke seluruh tubuh melalui aliran darah.

Berat-ringannya gejala yang timbul sangat bervariasi dari tanpa gejala sampai yang berat bahkan fatal akibatnya. Faktor yang berperan adalah sistem imunitas orang yang diserang, virulensi dan kemampuan kuman membentuk toksin. Faktor yang lain adalah usia, penyakit yang sedang diderita, dan penyakit yang ada di lokasi saluran nafas atas yang sudah ada sebelumnya. Masa tunas difteria (masa dimulai dari saat infeksi sampai timbul gejala) berkisar 2-6 hari dan biasanya pasien baru dibawa berobat setelah beberapa hari menderita demam.

Tujuan pengobatan pasien difteri adalah menginaktivasi toksin kuman secepatnya, mencegah dan mengusahakan agar penyulit atau komplikasi yang timbul minimal, mengurangi jumlah kuman untuk mencegah penularan dan mengobati infeksi lain yang menyertai. Pasien dirawat dalam ruang isolasi, istirahat yang cukup dan pemberian cairan serta gizi yang adekuat. Pengobatan berupa pmberian ADS (Anti Difteria Serum), juga Antibiotika diberikan selama 10 hari.

Untuk keluarga atau orang yang kontak dengan penderita difteri harus diperika oleh dokter untuk menentukan apakah mereka juga menderita atau hanya karier (pembawa kuman) difteri dan mendapat pengobatan antibiotika Erythromisin selama 5 hari. Bagi anggota keluarga yang dinyatakan sehat, segera dilakukan imunisasi DPT (Diphteri Pertusis Tetanus), di mana apabila belum pernah mendapat imunisasi DPT, diberikan DPT tiga kali dengan interval masing masing 4 minggu.

Apabila imunisasi belum lengkap segera dilengkapi (dilanjutkan dengan imunisasi yang belum diberikan, tidak perlu diulang) dan apabila telah lengkap imunisasi dasar (saat usia <1 tahun), perlu ditambah imunisasi DPT ulangan 1x. Imbauan kepada seluruh masyarakat agar bisa mengenali gejala awal difteri. Segera ke puskesmas atau rumah sakit apabila anak mengeluh nyeri tenggorokan disertai dengan suara berbunyi seperti mengorok, khususnya anak di bawah 15 tahun.

Alami penurunan
Merebaknya kembali penyakit difteri menimbulkan banyak pertanyaan. Bagaimana cakupan angka imunisasi saat ini di Indonesia, khususnya di Aceh? Pada 2015, angka cakupan imunisasi di Indonesia 86,54%. Ini belum mencapai target renstra yaitu 91%. Dibandingkan periode 2008-2011, cakupan imunisasi dasar lengkap periode 2012-2015 di Indonesia mengalami penurunan. Terdapat hanya 10 provinsi yang mencapai target.

Sedangkan untuk Aceh, cakupan imunisasi lengkap hanya 67,05% (termasuk ke dalam 4 provinsi dengan capaian terendah). Berdasarkan data dari Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes RI 2016 (update sampai Mei 2016), angka kejadian difteri kembali meningkat yaitu sebesar 502 kasus dibandingkan 2014 sebesar 394 kasus.

Faktor penyebab kembali merebaknya berbagai penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi: Pertama, imunisasi gagal membentuk antibodi secara maksimal pada anak. Vaksin DPT merupakan vaksin mati sehingga untuk mempertahankan kadar antibodi menetap tinggi di atas ambang pencegahan, sangat diperlukan pemberian imunisasi ulangan. Imunisasi DPT sebanyak 5 kali harus dipenuhi sebelum anak berusia 6 tahun;

Kedua, banyak dari orang tua yang tidak membawa anaknya imunisasi karena sedang sakit di saat jadwal imunisasinya tiba. Kemudian terlupa sehingga akhirnya tanpa imunisasi sama sekali, dan; Ketiga, cakupan imunisasi gagal mencapai target, salah satu hal yang menyebabkan rendahnya cakupan imunisasi di Aceh adalah karena banyak orang tua yang menolak dilakukan imunisasi pada anaknya.

Mereka terprovokasi oleh kelompok anti vaksin yang secara gencar mengampanyekan hal-hal negatif tentang imunisasi baik itu berupa isu kandungan vaksin, isu haramnya dan efek vaksin bila diberikan kepada bayi dan anak. Tugas kita bersama para petugas kesehatan untuk tidak henti-hentinya memberikan penyuluhan dan edukasi tentang pemberian imunisasi.

Imunisasi bisa didapatkan gratis di puskesmas. Sampai saat ini tidak pernah terdengar ada ulama di negara muslim yang melarang imunisasi kepada bayi dan anak di negaranya. Contohnya Syaikh Abdul Aziz bin Baz, mufti besar Arab Saudi membolehkan vaksinasi. Dr Yusuf Qardhawi yang berdomisili di Qatar juga membolehkan imunisasi. Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga sudah mengeluarkan fatwa halal terhadap berbagai vaksin yang digunakan saat ini.

* dr. Aslinar, Sp.A, M.Biomed., pengurus Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Aceh dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Aceh Besar, serta staf RSUD Aceh Besar. Email: [email protected] (uri/hon//JK)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id