Pengendalian Vektor DBD | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Pengendalian Vektor DBD

Pengendalian Vektor DBD
Foto Pengendalian Vektor DBD

Oleh Zulfikar

PENYAKIT tular vektor (Arthropod-borne diseases) masih menjadi penyakit endemis yang dapat menimbulkan wabah atau kejadian luar biasa dan dapat menimbulkan gangguan kesehatan bagi masyarakat. Penyakit tular vektor adalah penyakit yang disebabkan oleh patogen (mikroorganisme infeksius) pada manusia dan ditularkan melalui serangga vektor, di antaranya penyakit malaria, demam berdarah dengue (DBD), filariasis, chikungunya, japanese enchepalitis.

Penyakit-penyakit tersebut masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di daerah tropis dan subtropis. Adapun malaria merupakan penyakit tular vektor yang paling mematikan, namun DBD merupakan penyakit yang paling pesat penyebarannya dan juga membahayakan manusia.

Peranan nyamuk sebagai vektor penyakit berkaitan erat dengan hubungan segitiga arthropoda, agen penyakit (patogen) dan inang (penderita). Vektor di sini adalah artropoda yang dapat menjadi sumber penular penyakit terhadap manusia. DBD ditularkan oleh Ae aegypti sebagai vektor utama dan Ae albopictus sebagai vektor sekunder.

Kedua nyamuk ini ditemukan hampir di seluruh wilayah di Indonesia, kecuali di daerah dengan ketinggian lebih dari 1000 meter di atas permukaan laut. Penyebab DBD adalah satu dari empat serotipe virus dengue (DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4) dari genus Flavivirus, famili Flaviviridae yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia, tetapi strain DEN-3 merupakan penyebab DBD yang paling banyak ditemukan.

Mekanisme penularan penyakit DBD dapat terjadi secara horizontal, apabila seseorang digigit oleh Ae aegypti infektif, selanjutnya virus mengalami perkembangan di dalam tubuh manusia sampai tahap viremia. Jika Ae aegypti lain menggigit manusia selama tahap viremia, dapat menularkan virus dengue ke orang lainnya, setelah mengalami masa inkubasi ekstrinsik. Selain penularan secara horizontal, virus dengue dapat juga ditularkan secara vertikal dari induk kepada keturunannya (transovarial).

Laporan Dinas Kesehatan Provinsi Aceh pada 2015, jumlah penderita DBD sebanyak 1.510 kasus dengan jumlah kematian 6 orang (IR = 30 per 100.000 penduduk dan CFR = 0,4%) terjadi penurunan kasus dan jumlah kematian dibandingkan 2014 dengan kasus sebanyak 2.211 (IR = 45 per 100.000 peduduk dan CFR = 0.4%). Berdasarkan data tersebut kasus DBD terjadi penurunan, akan tetapi jumlah angka kematian tetap sama dari tahun sebelumnya. Kasus DBD cenderung selalu terjadi bahkan semakin menyebar luas terutama di daerah perkotaan dan seringkali berulang.

Pengendalian DBD
Berbagai konsep dan metode pengendalian DBD telah dilakukan, namun kasus-kasus DBD selalu terjadi bahkan meningkat diawal musim hujan. Pengendalian DBD tersebut dapat dilakukan pada sumber yaitu penderita yang memiliki potensi sebagai sumber penularan, pengendalian pada vektor DBD dan penyuluhan masyarakat. Analisa penulis terdapat beberapa hambatan dalam upaya pengendalian vektor DBD khususnya di Provinsi Aceh, sebagai berikut:

Pentingnya pemahaman bioekologi vektor. Ae aegypti merupakan vektor DBD yang bersifat kosmopolit, karena stadium pradewasa mempunyai habitat di tempat penampungan air yang berada di permukiman, seperti bak mandi, ember, vas bunga, tempat minum burung, dispenser dan sejenisnya di dalam rumah. Spesies nyamuk ini lebih memilih mengisap darah manusia dan juga bersifat multiple feeding, artinya mengisap darah beberapa kali untuk memenuhi kebutuhan darah dalam satu siklus gonotrofik.

Perkembangan aktivitas vektor nyamuk dapat digolongkan dalam beberapa fase yaitu; berkembang dari telur hingga dewasa, dewasa mencari darah dan kawin, beristirahat dan mematangkan telur dan bertelur kemudian mencari darah lagi (gonotrofik). Pemahaman terhadap perkembangan vektor sangat diperlukan sebagai informasi dasar yang akan digunakan untuk menyusun strategi pengendalian, yaitu cara pendekatan, sasaran, cara pelaksanaan, penentuan lokasi dan waktu pelaksanaan.

Telur Ae aegypti tahan terhadap kering, dapat bertahan selama berbulan-bulan. Telur tersebut menempel pada dinding tempat penampungan air. Bila wadah kering secara tiba-tiba terisi air, maka telur tersebut akan menetas. Satu nyamuk betina dapat bertelur sekitar 200 butir. Stadium larva Ae aegypti terdiri dari atas empat instar. Perfoma nyamuk sangat ditentukan perkembangan pada stadium larva. Selanjutnya stadium pupa merupakan fase tidak makan dan tergantung pada hasil penyimpanan energi pada fase larva.

Perkembangan siklus hidup dari telur menjadi dewasa dapat diselesaikan dalam waktu 8-11 hari pada suhu 10-28 derajat Celcius. Lakukan upaya membersihkan tempat-tempat perkembangbiakan minimal satu kali dalam seminggu melalui gerakan 3M plus. Cara ini menjadi pilihan yang lebih murah dan praktis untuk diterapkan di masyarakat yang membutuhkan komitmen tinggi dari masyarakat secara keseluruhan

Pentingnya pemetaan status resistensi vektor. Secara umum pengendalian vektor dilakukan dengan beberapa teknik pengendalian. Namun pengendalian secara kimiawi dengan menggunakan insektisida masih menjadi pilihan utama. Penggunaan fogging, larvasida, dan penggunaan insektisida secara komersial yang sama secara terus-menerus dapat menimbulkan perkembangan resistensi.

Fogging seringkali menjadi suatu kegiatan rutin sebelum dan sesudah terjadi kasus DBD, hal ini sangat disayangkan sehingga menjadi suatu kebutuhan masyarakat. Fogging merupakan upaya pelepasan partikel-partikel insektisida ke udara. Partikel-pertikel itu diharapkan kontak dengan vektor, sehingga dapat mematikan vektor tersebut. Partikel ini hanya bertahan beberapa jam di udara sehingga fogging tidak mengatasi masalah DBD secara efektif.

Penggunaan insektisida
Penggunaan insektisida yang sama dalam jangka waktu lama secara terus-menerus pada program pengendalian Ae aegypti dapat menyebabkan resistensi serangga vektor. Pengujian status resistensi Ae aegypti terhadap insektisida perlu dilakukan untuk mengetahui keefektifan penggunanan suatu jenis insektisida; Apakah insektisida tersebut masih dapat digunakan atau harus digantikan dengan insektisida lainnya? Dari hasil terebut dapat dilakukan suatu pemetaan wilayah-wilayah dengan tingkat resistensi (rentan, toleran dan resisten).

Dampak perubahan iklim. Perkembangan Ae aegypti sangat dipengaruhi oleh suhu dan kelembaban. Perkembangan vektor menjadi singkat dengan peningkatan suhu. Suhu tinggi menyebabkan nyamuk lebih aktif menularkan virus DBD dengan lebih cepat. Masa inkubasi ektrinsik DBD dalam tubuh Ae aegypti menjadi lebih pendek, umur nyamuk lebih singkat tetapi berkembang-biak lebih cepat.

Tingginya mobilitas masyarakat merupakan suatu faktor pendukung penyebaran DBD dari suatu tempat ke tempat lainnya. Hal ini harus menjadi perhatian karena sumber penyakit berasal dari pusat perkotaan yang akan menyebar sejalan dengan mobilitas masyarakat. Kasus-kasus DBD lebih banyak ditemukan di daerah perkotaan, kondisi perkotaan dengan kepadatan penduduk yang sangat tinggi dan jarak antarbangunan sangat rapat.

Tingkat mobilitas masyarakat kota dan masyarakat pedesaan yang sangat tinggi memungkinkan terjadinya perpindahan penyakit. Apabila terdapat satu individu yang sudah terinfeksi dengan virus dengue dari tempat asal, maka dia dapat bertindak sebagai sumber infeksi di tempat yang dia datangi.

Perlunya tenaga entomologi kesehatan. Entomolog kesehatan merupakan tenaga kesehatan yang sangat langka di Indonesia. Maka pengadaan tenaga kesehatan dengan latar belakang pendidikan entomologi kesehatan untuk ditempatkan di fasilitas kesehatan seperti puskesmas dan rumah sakit perlu dipertimbangkan, karena hampir semua puskesmas belum memiliki tenaga entomologi kesehatan.

Permasalah penyakit tular vektor sangatlah kompleks, pendidikan dan pelatihan merupakan solusi yang harus diambil. Pendidikan masyarakat melalui penyuluhan perlu dilakukan sepanjang tahun, bukan hanya dilakukan ketika sedang terjadi masalah. Pelatihan tentang vektor dan hama permukiman dan pengendaliannya juga dirasa penting dengan membuat pelatihan bagi masyarakat dalam upaya pengendalian vektor.

Pentingnya kerja sama lintas sektoral. Peran lintas sektor dalam pengendalian DBD adalah bagian integral dari program kesehatan, oleh karena permasalahan penyakit tular vektor perlu penanganan lintas sektoral dengan dukungan partisipasi aktif dari masyarakat. Pengendalian DBD yang dilakukan selama ini masih bersifat parsial atau reduksionisme.

* Zulfikar, SKM, M.Kes, M.Si., Fungsional Entomologi Ahli di Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas III Banda Aceh. Email: joeltidiek@gmail.com (uri/homas/ebriani/TF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id