Amatilah Kesibukan pada Minggu Tenang | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Amatilah Kesibukan pada Minggu Tenang

Amatilah Kesibukan pada Minggu Tenang
Foto Amatilah Kesibukan pada Minggu Tenang

Mulai besok, tahapan Pilkada 2017 ini memasuki masa tenang. Dulu disebut minggu tenang. Karena memang waktu “tenang” itu memang satu pekan atau tujuh hari. Tapi sekarang disebut masa tenang karena hanya tiga hari menjelang pencoblosan. Untuk Pilkada kali ini masa tenang adalah 12, 13, dan 14 Februari 2017. Sedangkan tanggal 15 Februari ditetapkan sebagai hari pencoblosan.

Yang menarik tentu, para kandidat dan tim suksesnya, justru paling sibuk di masa tenang. Mereka telah menyusun berbagai rencana untuk “berkampanye” dalam masa tenang dengan cara apapun. Yang pasti memang kampanye gelap yang dibungkus dengan berbagai alasan atau acara. Ada kenduri, yasinan, arisan, dan sebagainya.

Sebaliknya, sejak jauh-jauh hari para kandidat Pilkada 2017 pasti sudah menginstruksikan seluruh kader dan simpatisannya untuk mewaspadai indikasi kecurangan dalam masa tenang. Jadi, mereka akan saling mengintip kecurangan rival-rivalnya.

Pilkada, Pilpres, atau Pemilu Legistaltif memang diwarnai dengan kecurangan. Megawati Soekarnoputri pernah secara tegas mengungkapkan, empat indikasi kecurangan dalam pelaksanaan pengumpulan suara. Indikasi tersebut, di antaranya permasalahan netralitas Komisi Pemilihan Umum (KPU) di Aceh KIP selaku penyelenggara pemilihan.

Hal berikutnya yang patut diwaspadai, katanya, aktivitas intelejen yang bisa saja dimanfaatkan kandidat lawan untuk kepentingan pemenangan. “Intelejen itu harusnya bekerja untuk pemerintah dan bersikap independen. Bukan justru dimanfaatkan untuk memenangkan salah satu kandidat,” katanya.

Perhatian lainnya menyangkut praktik politik uang yang menyasar sebagian warga termasuk kalangan saksi di tempat pemungutan suara yang bisa tergiur uang.

Saat-saat menjelang pemilihan, biasanya sangat rawan. Makanya dikenal istilah “serangan fajar”. Yang disebut dengan istilah “serangan fajar” ini, biasanya ada yang datang dari pintu ke pintu untuk “membeli” suara pemilih. Caranya macam, ada yang berikan uang dalam amplop dan lain-lain.

Ya, tentu hal itu pastilah akan sangat menjadi perhatian Panwaslih.

Tapi, bagi masyarakat yang memiliki hak pilih, masa tenang ini pastilah menjadi kesempatan untuk menimbang-nimbang kanidat mana yang akan dipilih untuk gubernur, bupati, maupun wali kota. Tentu, pilihan ini menurut kata hati nurani. Jadi bukan karena intimidasi dan lain-lain.

Yang pasti, pilihan masyarakat pada 15 Fabrurai nanti akan menentukan masa depan provinsi, kabupaten, dan kota-kota di Aceh, untuk lima tahun ke depan. Sebaliknya, jika keliru menjatuhkan pilihan, maka kita akan merasakan dampak politiknya lima tahun pula.

Artinya, ada kepentingan daerah dan seluruh rakyat yang lebih besar dalam satu suara yang akan kita berikan di bilik suara nanti. (uri/nton/ariana/AM)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id