Pendukung Abusyik Geruduk KIP Pidie | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Pendukung Abusyik Geruduk KIP Pidie

Pendukung Abusyik Geruduk KIP Pidie
Foto Pendukung Abusyik Geruduk KIP Pidie

SIGLI – Massa pendukung pasangan cabup-cawabup Pidie nomor urut 2, Roni Ahmad (Abusyik) dan Fadhlullah, mendatangi Kantor Komisi Independen Pemilihan (KIP) Pidie, Kamis (9/2). Mereka ngotot bertemu komisioner KIP untuk mempertanyakan status kopiah merah, serta penyebab tidak ditayangkannya gambar pasangan Abusyik dalam sisa iklan di media massa. Mereka juga mempersoalkan keputusan KIP yang tidak memperbolehkan jagoan mereka mengikuti debat.

Namun, keinginan massa Abusyik untuk bertemu dengan komisioner KIP dihadang oleh petugas kepolisian yang melakukan pagar betis di lorong masuk lembaga tersebut. Beberapa polisi wanita (polwan) turut dilibatkan untuk menghadang massa.

Akhirnya, massa yang mengusung karton berorasi secara bergantian di depan polisi. Saat orasi berlangsung, seseorang dari arah massa berusaha menerobos pagar betis anggota polisi berpakaian dinas, menyusul komisioner KIP yang tidak keluar menjumpai massa. Nyaris terjadi bentrok antara massa dengan personel kepolisian, namun polisi bertindak sigap dan tidak memberikan ruang kepada massa untuk masuk ke Kantor KIP Pidie.

Salah satu peserta aksi, Muttaqim dalam orasinya meminta komisioner KIP keluar bertemu massa untuk menjelaskan tentang kopiah merah. Karena KIP mengganggap kopiah merah sebagai alat peraga kampanye (ATK). Sehingga cabup dan cawabup Pidie, Roni Ahmad – Fadhlullah tidak boleh mengikuti debat. KIP memberikan sanksi tidak ditayangkan dalam iklan di media.

“Kapan kami daftarkan kopiah merah sebagai ATK?, tolong komisoner KIP jelaskan. KIP jangan takut kepada massa, kami ingin keadilan dari penyelenggara pemilu. KIP tidak adil,” teriak Muttaqim disambut gemuruh massa yang tertahan pagar betis polisi.

Beberapa menit ditunggu, seorang komisioner membidangi Divisi Hukum KIP Pidie, M Diah Adam muncul di depan massa. Dalam penjelasannya, M Diah Adam mengatakan, tidak ditayangkan iklan cabup Roni Ahmad dan Fadhlullah merupakan sanksi hasil kesepakatan KIP Pidie dan Panwaslih Pidie. Sanksi itu diberikan setelah pasangan itu menolak ikut debat terbuka cabup dan cawabup yang dilaksanakan di Grand Hotel Blang Asan Sigli, pada tanggal 10 Januari 2017. “Itu konsekuensi dari sanksi yang diberikan kepada pasangan nomor urut 2,” kata M Diah.

Lanjutnya, sanksi yang diberikan tidak boleh mengikuti debat cabup dan cawabup dan tidak ditayangkan sisa iklan di media, sampai berakhirnya masa kampanye untuk pasangan nomor urut 2. Iklan itu adalah penyampaian pesan-pesan seperti gambar, tulisan melalui media elektronik, radio, maupun media cetak.

Ia menambahkan, tidak ada alternatif lain untuk bisa mengubah keputusan yang telah disepakati bersama KIP dan Panwaslih Pidie. “Jika ada informasi terkait persoalan tersebut telah diajukan ke DKPP, hanya saja kami (KIP) belum menerima panggilan dari DKPP. Kami menghormati keputusan yang dilakukan DKPP nantinya,” tegas M Diah.

Meski terlihat tidak puas dengan penjelasan tersebut, namun massa tetap membubarkan diri. Koordinator aksi, Afdal Daud mengatakan, pihaknya sangat kecewa terhadap penjelasan komisioner KIP Pidie. Menurutnya, seharusnya KIP Pidie menunggu proses hukum dari DKPP terhadap persoalan kopiah merah. “Ketetapan hukum dari DKPP belum turun, tapi KIP telah memberikan sanksi kepada pasangan Abusyik,” kata dia.

Afdal melanjutkan, jika diberikan sanksi kepada pasangan Abusyik hanya gara-gara kopiah merah, perlu diketahui kopiah merah itu bukan alat peraga kampanye. “Kapan kopiah merah ditetapkan sebagai alat pega kampanye?,” kata Afdal dalam nada bertanya.

Ia menambahkan, Jumat (10/2) hari ini, pihaknya akan menggalang massa besar dari 23 kecamatan untuk melakukan demo di lokasi digelarnya debat dan di Kantor KIP Pidie. Sebab, KIP telah melakukan tindakan tidak adil terhadap cabup dan cawabup Roni Ahmad-Fadhlullah. (naz) (uri/gie/iyadie/OR)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id