Ramai-ramai Ungkap “Aib” Anggaran Daerah | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Ramai-ramai Ungkap “Aib” Anggaran Daerah

Ramai-ramai Ungkap “Aib” Anggaran Daerah
Foto Ramai-ramai Ungkap “Aib” Anggaran Daerah

Bupati Aceh Barat Daya (Abdya), Ir Jufri Hasanuddin MM menuding Wakil Bupati Abdya nonaktif, Erwanto SE MA, sebagai dalang penggagalan Qanun Anggaran Pendapatan Belanja Kabupaten (ABPK) tahun 2017 sekaligus sebagai penggalang utama untuk penerbitan Peraturan Bupati (Perbup) tentang APBK 2017.

“Yang kita sayangkan, ada orang yang seharusnya bertanggung jawab terhadap pemerintah, tapi justru menusuk dari belakang bak uroe nyoe. Dia memaksa Fraksi Partai Aceh agar tidak mensahkan anggaran APBK (ikut paripurna-red). Nah, Erwanto sebagai wakil lon itulah dalangnya,” katanya.

Jufri Hasanuddin menyampaikan dugaan itu di depan ribuan masyarakat, pegawai negeri sipil (PNS), guru, dan anak yatim yang hadir dalam acara peringatan maulid dan syukuran pendefinitifan 20 gampong di Abdya. Acara itu berlangsung Rabu (8/2) di lapangan Sepakbola Pantai Perak, Kecamatan Susoh.

“Lon beungeh bak uroe nyoe, jangan demi kepentingan jabatan menghancurkan kepentingan rakyat yang sangat mendasar. Tingkat jeuet keu waki ka lage nyan, kiban meunyoe menjadi bupati?

Tapi terserah awak droneuh, itulah yang terjadi uroe nyoe, tapi lon harus berkata jujur, ini kerja dia, ini kerjaan dia,” tegas Jufri.

Seperti diketahui, APBK 2017 gagal diparipurnakan dan disahkan melalui qanun, karena sepuluh anggota DPRK Abdya melakukan mogok sidang, sehingga kuorum tidak tercapai.

Erwanto yang dituding sebagai “otak” di balik kegagalan pengesahan APBK, membantah semua tudingan Jufri Hasanuddin. “Enggak ada, itu murni inisiatif dari kawan-kawan DPRK. Saya dengar, arah RAPBK semakin tidak jelas. Keinginan masyarakat dalam Musrenbang desa dan kecamatan sebagian besar tidak tertampung. Saya dengar juga, ini saya tidak tahu, anggaran rumah tangga bupati terlalu banyak,” kata Erwanto.

Begitulah, gonjang ganjing formula anggaran daerah memang sangat memprihatinkan. Ada yang bilang, penyusunan anggaran lagee ureueng kuet padee reudok. Dengan kata lain semua buru-buru memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Dan, ini bukan hanya terjadi di Abdya, tapi juga di beberapa kabupaten/kota lainnya.

Pos-pos yang paling banyak menyedot anggaran sekaligus menjadi lumbung korupsi kemudiannya adalah biaya perjalanan dinas, dana bantuan, serta proyek-proyek yang samar-samar. Seperti pengadaan bibit ikan, bibit tanaman, dan lain-lain.

Dan, tahun 2017 ini memang banyak “aib” yang terkuak terkait dengan formula anggaran daerah. Sebab, tahun ini banyak elit yang tadinya bersatu dalam menyepakati anggaran, kali ini pecah kongsi karena berbeda pilihan atau beda jalur dalam Pilkada.

Karena itulah, dari yang sebelumnya masyarakat tidak pernah tahu bagaimana anggaran daerah “dipermainkan”, tahun ini banyak yang mereka buka sendiri. Ya, “kebusukan” itu memang cepat atau lambat akan tercium atau bahkan secara tak disadari terbuka seperti sekarang ini di mana-mana. (uri/ndra/ndrianto/IA)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id