Disanggah, Trump Hanya Revisi Pernyataannya | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Disanggah, Trump Hanya Revisi Pernyataannya

Disanggah, Trump Hanya Revisi Pernyataannya
Foto Disanggah, Trump Hanya Revisi Pernyataannya

OLEH ZUHERNA BAHARI, mantan wartawati Harian Serambi Indonesia, kini bermukim di Amerika Serikat, melaporkan dari Houston

MUSLIMAH berhijab terbilang sering mendapat perlakuan kurang menyenangkan di Amerika Serikat (AS). Terutama saat sentimen anti-Islam yang dipantik Donald Trump mencuat.

Bahkan seorang teman saya, muslimah berwajah Pakistan dan berhijab, Nasreen, juga pernah “disemprot” dengan perkataan buruk saat ia mengantre di kasir sebuah supermarket di Houston.

Awalnya, ia memotong antrean karena melihat orang yang paling belakang masih berbelanja (mengambil barang dari rak). Ibu tua berkulit putih itu marah ketika Nasreen mengantre di depannya. “Kamu harus antre di belakang saya, harus belajar antre. Jangan bawa kebiasaan buruk dari negaramu. Aku tak peduli kamu legal atau ilegal tinggal di sini. Tapi hormati peraturan di sini,” ujar si Ibu lantang, sehingga menarik perhatian pembelanja lainnya.

Nasreen minta maaf dan menjelaskan bahwa ia tak tahu bahwa ibu tersebut berdiri di dalam barisan antrean, karena terlihat masih berbelanja. Nasreen menjelaskan bahwa ia juga warga negara AS dan tahu peraturan di sini. Untungnya, beberapa orang di sekitarnya, termasuk sang kasir, membela Nasreen. Mereka bersaksi, ibu tersebut terlihat masih belanja dan berdiri agak jauh dari barisan antrean.

Kaum muslim di AS menyadari bahwa sebagian besar warga AS masih sangat menghormati perbedaan agama, ras, bahkan pandangan politik yang berbeda.

Banyak tokoh politik, pengusaha, selebritas (pesohor), para pengacara sepertinya tidak mendukung Trump, namun kekhawatiran kaum muslimin di AS belum berakhir. Trump memang telah mengubah pernyataannya seperti “larangan masuk bukan berdasarkan agama” ataupun kebijakannya “pemegang green-card (permanent resident) dari ke-7 negara tersebut kini dibolehkan masuk.” Trump hanya merevisi pernyataannya, namun tidak mencabut larangan tersebut.

Selasa lalu tersebar isu di media-media sosial bahwa Pemerintah Trump akan melakukan sweeping para ilegal muslim dan Meksiko serta mendeportasi mereka ke negara asalnya. “Saya dengar beberapa pekerja ilegal dari supermarket muslim di New Jersey telah ditangkap dan dideportasi. Tolong sebarkan berita ini supaya yang lainnya berhati-hati,” tulis Martha Rosa. Namun, berita sweeping warga ilegal tersebut belum terkonfirmasi secara jelas.

Menyesal tak ikut
Kekhawatiran bahwa Trump akan menargetkan muslim dan imigran asal Meksiko dan Amerika Latin sebetulnya sudah diperkirakan semasa kampanye. Trump dianggap berpikiran sebagaimana kelompok “White supremacy” di AS. Namun, yang kemudian disesalkan, banyak muslim ataupun imigran yang naturalized citizen tak ikut memilih dalam pemilihan presiden ataupun pemilu lainnya di AS.

Jawan Alarashi, warga Syria-American yang sudah 20 tahun menjadi warga AS mengakui tak pernah memanfaatkan hak pilihnya. “Banyak muslim di sini yang berpikir bahwa memilih pemimpin yang nonmuslim adalah haram hukumnya. Jadi, saya ikut-ikutan tidak memilih juga, selain alasan kerja dan sebagainya,” ujar Alarashi.

Selain itu, ia pribadi tak menduga bahwa Trump bakal menang. Media-media banyak mendukung Hillary Clinton. Kemenangan Trump memang agak di luar dugaan.

Namun, melihat kebijakan Trump yang sangat memojokkan muslim, Alarashi dan banyak kaum muslimin di sini mengaku menyesal tak ikut pemilu. “Setidaknya kita memilih pemimpin yang least dangerous terhadap masyarakat dan terutama kaum muslimin di sini,” ungkapnya.

Khawatir berlebihan
Banyak masyarakat di AS yang menganggap kekhawatiran Trump terhadap radical muslim terlalu berlebihan. Ali Zakaria, pengacara khusus imigran, mengatakan selama 20 tahun ia berpraktik sebagai pengacara kasus-kasus keimigrasian, belum pernah ia lihat kejadian sesemrawut ini. “Contohnya para penerima suaka yang jelas-jelas telah mendapat visa assylum dari Pemerintah AS di luar negeri, seharusnya tak boleh ditolak di sini. Secara hukum, mereka sudah sah masuk ke AS. Tidak boleh ada peraturan yang saling bertolak belakang,” katanya.

Makanya ia tak heran, baru seminggu berkuasa, Trump sudah menuai banyak tuntutan hukum. “There have been a lot of lawsuits filed,” katanya. Kita lihat saja, bagaimana nanti pengadilan mengadilinya.

Muslim sebetulnya bukan hal asing di Texas. Data sensus tahun 2010, Texas merupakan negara bagian yang berpenduduk muslim terbanyak di AS. Data sensus tahun 2015-16, Texas menempati tempat kedua setelah Kalifornia.

Menurut CNN, kebijakan Trump yang menyeleksi tujuh negara (Iran, Irak, Libya, Somalia, Sudan, Syria, dan Yaman) dan mencurigai adanya muslim radikal di kalangan pengungsi dari tujuh negara tersebut tidak berdasarkan alasan yang kuat. Buktinya, dari 19 teroris yang terlibat serangan bom WTC pada 9/11, 15 di antaranya adalah warga Saudi Arabia, dua asal Uni Emirat Arab, satu Lebanon, dan satunya lagi asal Mesir. Juga pada kasus pengeboman di Boston, pembawa bom terbukti asal Rusia. Kasus pengeboman di Kalifornia melibatkan dua imigran asal Pakistan. “Belum ada bukti kasus serangan teroris yang melibatkan warga dari tujuh negara yang warganya dilarang masuk tersebut,” lapor CNN. Tapi ya, itulah Trump.

* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskahnya, termasuk foto dan identitas Anda ke email [email protected] (uri/atrya/ratama/SP)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id