Bangun dari Hibernasi | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Bangun dari Hibernasi

Bangun dari Hibernasi
Foto Bangun dari Hibernasi

Oleh Rahmalia Usman

HIBERNASI –menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)– adalah keadaan istirahat atau tidur pada binatang selama musim dingin. Proses tidur panjang di musim dingin yang biasa dilakukan oleh manusia dan hewan tertentu, yang hidup di daerah dengan empat musim (musim semi, musim panas, musim gugur dan musim dingin) atau di daerah kutub (kutub utara dan kutub selatan).

Fase hibernasi adalah fase di mana masyarakat di daerah yang mengalami empat musim harus mengurangi aktivitas di luar ruang karena suhu ekstrem. Tidak usah jauh-jauh ke Eropa, kita bisa melihat beberapa kota di kawasan Asia yang mengalami empat musim, Asia Timur (Jepang, Korea, Cina, Hongkong, Macau), Asia Tengah, dan sebagian Asia Barat.

Pada fase tersebut, manusia yang hidup di daerah suhu ekstrem (panas-dingin) melakukan persiapan, menjamin pasokan makanan dan energi tercukupi dalam waktu lama. Memastikan, selama atau setelah masa hibernasi akan tetap sejahtera, makmur, tidak kekurangan pasokan makanan dan energi, sama seperti saat sebelum berhibernasi.

Musim dingin adalah musim yang sangat kaku, hanya keindahan salju yang sesaat mampu mencairkan kebekuan suasana hati. Kalau boleh dikatakan tidak ada orang yang menginginkan musim dingin dengan suhu (mencapai) 0 hingga minus derajat Celcius. Bertahan menghadapi gerahnya musim panas, kekeringan di musim gugur, mengatasi dingin di musim salju, dan tidak terlena di musim semi.

Ketika musim dingin tiba, waktu terhitung mundur satu jam (saving day light), dikarenakan waktu malam akan berangsur-angsur menjadi lebih lama (waktu malam lebih panjang dari pada waktu siang). Jam kerja dikurangi dikarenakan suhu dingin yang dihadapi, membutuhkan tahapan dan waktu yang lama untuk bisa kembali bekerja secara normal.

Lebih kreatif
Hidup di daerah dengan musim ekstrem tidak menyurutkan semangat untuk bekerja, tidak ada alasan untuk bermalas-malasan, tanpa bekerja keras dan bekerja cerdas, mereka akan mati oleh ganasnya alam, terutama musim salju yang sangat dingin dan musim panas yang kering. Secara tidak langsung, alam yang keras membentuk karakter mereka lebih kreatif mencari solusi menaklukkan alam untuk bertahan hidup.

Mereka sadar bahwa, alam tidak mendukung penyediaan bahan pangan dan energi sepanjang tahun. Hal ini menyebabkan produktivitas dan etos kerja mereka lebih baik daripada negara di daerah khatulistiwa (tropis), yang sudah tersedia bahan makanan dan energi melimpah.

Mengaitkan kemajuan suatu daerah dan iklim dalam hal menghargai waktu. Masyarakat di daerah empat musim sangat menghargai waktu. Kalau lalai, mereka akan tergilas oleh waktu. Mereka harus melakukan persiapan ekstra menghadapi musim dingin dan panas (tanaman mati, pasokan makanan akan berkurang, jalanan sulit dilalui, badai salju).

Produktivitas dan etos kerja yang cenderung rendah pada masyarakat, menyebabkan tingkat pengangguran yang tinggi. Angka pengangguran di Aceh periode Februari 2016 mencapai 182 ribu orang (8,13%), dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (Februari 2015) sebanyak 175 ribu orang atau 7,73% (http://bps.go.id/).

Apakah hal tersebut mengindikasikan bahwa masyarakat kita kurang kreatif dan etos kerja rendah, atau terlalu terbuai dengan hidup dalam zona nyaman (safe zone)?

Dari segi geografi, Indonesia terletak di garis khatulistiwa yang mengalami dua musim (hujan dan kering) dalam setahun, dari sisi manfaat kita memiliki tanah yang lebih subur dibandingkan Negara-negara lain. Namun, negara kita rawan akan bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor, abrasi, dan lain-lain, serta bencana sosial seperti konflik dan lain-lain.

Seharusnya, kondisi alam akan berpengaruh besar dalam membentuk karakter membangun dalam jiwa-jiwa kita. Adanya musibah bencana alam dan konflik yang berkepanjangan, menuntut penduduknya untuk tidak monoton dalam aktivitas hidup. Kita dituntut untuk mampu mencegah (mitigasi) bencana yang akan datang dan mampu beradaptasi ketika musibah tidak dapat ditolak.

Kita tidak membutuhkan hibernasi dan estivasi (bertahan di musim panas) untuk menghindar dari kondisi yang sulit. Bersyukur dengan kondisi alam dan cuaca yang kita miliki saat ini, dapat terus bekerja sepanjang tahun. Memiliki sumber daya alam yang memadai, mendapatkan cahaya matahari yang cukup, bisa terus bergerak dan beraktivitas. Kita tidak perlu melakukan persiapan besar menghadapi musim ekstrem seperti yang dilakukan oleh negara-negara dengan empat musim.

Nilai-nilai Islam
Untuk mewujudkan Aceh yang lebih baik, bukan hanya nilai tinggi secara matematis yang diprioritaskan. Namun, nilai-nilai Islam harus diaplikasikan, sikap pemimpin dan masyarakat yang rajin, disiplin, tertib, jujur, adil (realisasi nilai dalam shalat).

Ketika ajaran Islam dijunjung tinggi dan diaplikasikan dengan baik oleh pemeluknya, maka pembangunan di negara tersebut akan maju pesat, pemerintah yang bersih, media-media yang independen, tidak ada perbedaan kelas di masyarakat. Semua fasilitas umum, pendidikan, pelayanan kesehatan untuk rakyat dibangun dengan baik oleh pemerintah. Penghijauan, konservasi alam yang kita jaga bersama demi kesejahteraan dan kelangsungan hidup.

Gaya hidup kita menjadi faktor kunci, kurang menghargai waktu dan etos kerja yang rendah, saat ini kita seperti sedang hibernasi (tidur panjang), kita harus bangkit dan melakukan gerakan cepat kalau ingin mengejar ketinggalan dari Negara-negara yang masa kemerdekaannya lebih singkat dari Indonesia.

Jika kita ingin menjadi provinsi maju yang menyejahterakan rakyatnya (pendapatan tinggi, pengangguran rendah, dan kemiskinan menurun), kita harus memulai dengan menghargai dan perlakukan waktu dengan bijak, menghilangkan budaya “jam karet” (the rubber watch), menghilangkan budaya “insya Allah” ala Aceh (untuk apologize dan janji palsu).

Kalau saja, ada beberapa orang dari kita punya idealisme yang sama untuk melakukan sebuah perubahan yang lebih baik untuk Nanggroe, keluar dari zona nyaman, mengaplikasikan (merealisasikan) semua nilai-nilai Islam, yakinlah, negeri kita akan lebih baik dan maju, walaupun dalam skala kecil Aceh, Indonesia. Wallahu ‘alam bisshawab.

* Rahmalia Usman, mahasiswa postgraduate, Huazhong University of Science and Technology (HUST), Wuhan – Cina. Email: [email protected] (uri/ilviana/ebriyani/SF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id