Pelajar Muslim di Negeri Kincir Angin | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Pelajar Muslim di Negeri Kincir Angin

Pelajar Muslim di Negeri Kincir Angin
Foto Pelajar Muslim di Negeri Kincir Angin

OLEH HAFI MUNIRWAN, mahasiswa asal Aceh, sedang menempuh pendidikan S2 di Wageningen University, melaporkan dari Belanda

MENDAPATKAN kesempatan untuk bisa melanjutkan pendidikan magister di Negeri Kincir Angin merupakan salah satu pengalaman berharga bagi saya. Kali ini saya ingin berbagi pengalaman, khususnya sebagai seorang muslim, selama menempuh pendidikan di Belanda.

Sulit untuk beribadah, mungkin adalah salah satu alasan yang menyebabkan banyak pelajar muslim enggan melanjutkan studi ke Belanda. Namun, tidak demikian halnya yang saya rasakan selama menempuh pendidikan di Wageningen University, Belanda.

Kampus yang terletak di kota kecil, Wageningen, ini cukup memahami kebutuhan mahasiswa muslim yang banyak terdapat di kampus ini dengan menyediakan ruang ibadah (silent room) di salah satu gedung kampus. Ruang ibadah ini memang tidak terdapat di semua gedung kampus, namun masih terdapat alternatif tempat lain yang dapat digunakan untuk shalat, yaitu kelas-kelas kosong.

Jikapun saat kita hendak shalat tidak terdapat kelas kosong, tidak jarang pula mahasiswa muslim melaksanakan shalat di lorong dan bagian bawah tangga yang sepi.

Adapun untuk masjid saat ini telah banyak berdiri di sejumlah kota besar seperti Amsterdam, Rotterdam, dan Den Haag karena banyaknya masyarakat muslim etnis Turki dan Maroko yang menetap di Belanda. Meskipun jarak masjid dengan perumahan mahasiswa tidak selalu berdekatan dan sanggup dicapai dengan sepeda, namun setidaknya fasilitas transportasi dalam kota Belanda sudah cukup baik untuk menjangkau sejumlah masjid tersebut. Tidak ada perbedaan yang berarti antara muslim Indonesia maupun muslim Turki dan Maroko. Keduanya juga sangat ramah dan bersahabat. Pernah suatu hari saya shalat di salah satu masjid di kota Den Haag, selepas shalat seorang muslim Maroko menegur saya dalam bahasa arab dan mengajak untuk mampir makan kerumahnya.

Berbenturan antara jadwal ibadah shalat Jumat dengan jadwal kuliah juga tidak jarang terjadi. Namun, tidak perlu panik, karena sebagian dosen telah mengerti dan maklum jika kita datang terlambat ke kelas, dengan syarat minta izin melalui email terlebih dahulu. Salah satu teman saya, contohnya, pernah mendapatkan jadwal praktikum yang berbentrokan dengan shalat Jum’at. Adapun kemudian teman saya tersebut mengirimkan email kepada koordinator mata kuliah yang bersangkutan, sehingga jadwal praktikum yang bersangkutan digeser ke kelas dengan jadwal yang lain.

Kerja kelompok merupakan hal lain yang tidak terelakkan dalam dunia perkuliahan. Untuk mengerjakan tugas kelompok, Hari Jumat sering dijadikan pilihan, sebab masyarakat Belanda secara umum memiliki budaya untuk meniadakan aktivitas diakhir pekan dan menggunakan akhir pekan untuk family time. Adapun mahasiswa-mahasiswa asal Belanda yang pernah saya temui ternyata juga bersahabat dan mengerti akan kewajiban saya untuk melaksanakan ibadah shalat Jum’at, sehingga mereka mengizinkan saya datang terlambat selepas menunaikan ibadah.

Mengenai makanan juga tidak perlu khawatir, karena toko daging halal (halal meat) dan restoran halal telah banyak terdapat di kota-kota Belanda. Restoran Indonesia juga cukup banyak tersedia, baik yang dibuka oleh orang Indonesia asli maupun oleh orang Belanda yang menggemari makanan Indonesia.

* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskahnya, termasuk foto dan identitas Anda ke email [email protected] (uri/syrafi/orat/AG)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id