Soal Kepemimpinan Perempuan Mencuat | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Soal Kepemimpinan Perempuan Mencuat

Soal Kepemimpinan Perempuan Mencuat
Foto Soal Kepemimpinan Perempuan Mencuat

* Dalam Debat Cawalko Banda Aceh

BANDA ACEH – Komisi Independen Pemilihan (KIP) Kota Banda Aceh menggelar debat terakhir antara calon wali kota/wakil wali kota Banda Aceh di indoor Taman Budaya, Senin (6/2). Debat yang disiarkan langsung oleh salah satu televisi nasional tersebut berlangsung meriah dan seru.

Tiga panelis dipercaya KIP Banda Aceh untuk meramu soal-soal penajaman visi misi kedua kandidat. Debat kedua atau yang terakhir ini bertema ‘Pembangunan sosial budaya dan penegakan syariat Islam’.

Tapi dari beberapa isu yang menggelinding dalam debat. Justru isu tentang boleh atau tidaknya seorang perempuan memimpin cukup mendominasi. Karena isu ini menyedot perhatian para hadirin dan membuat gaduh seisi ruangan. Awalnya isu itu mengemuka, saat pasangan Illiza Sa’aduddin Djamal-Farid Nyak Umar menyoal kepada pasangan AmiSoal Kepemimpinan Perempuan Mencuatah Usman-Zainal Arifin.

Illiza sempat menyampaikan testimoninya terkait itu. Menurut Illiza, budaya Aceh sangat menghargai perempuan dan sejarah mencatat, bahwa Aceh pernah dipimpin oleh para sultanah (perempuan) lebih dari setengah abad. “Tapi yang kami ketahui, selama kampanye, Pak Amin begitu gencar mengampanyekan anti kepemimpinan perempuan dan saya rasa itu bertentangan dengan sejarah Aceh,” ujar Illiza.

“Kami ingin jawaban jujur Pak Amin!,” seru Farid Nyak Umar. Farid lantas menghujam sedikitnya enam pertanyaan terkait hal itu kapada rivalnya tersebut. “Apa yang melatar belakangi Pak Amin sehingga mengampanyekan anti kepemimpinan perempuan. Apakah ada fatwa MPU yang mengharamkan kepemimpinan perempuan?,” ujar Farid di antara beberapa pertanyaannya.

Mendengar pertanyaan tersebut, pasangan Amin-Zainal tampak tak goyah sedikitpun. Keduanya terlihat santai dan siap menjawab pertanyaan. AmiSoal Kepemimpinan Perempuan Mencuatah yang mengambil kesempatan pertama menjawab pertanyaan. Ia terlihat tenang dan memandangi Illiza-Farid saat menjawab pertanyaan dimaksud.

“Terima kasih Ibu dan Pak Farid, kepemimpinan perempuan itu bukan urusan kami, itu urusan ulama, ada ulama yang mengatakan (di koran) bahwa hukumnya haram, itu kami tidak pernah memberikan pendapat itu,” ujar AmiSoal Kepemimpinan Perempuan Mencuatah disambut gemuruh tepuk tangan dan teriakan dukungan dari tim pedukungnya.

Bahkan, Amin meminta Farid–jika ingin mengetahui detil persoalan tersebut–agar langsung berkomunikasi dengan ulama yang telah mengeluarkan pendapat tentang haram seorang perempuan memimpin. “Kalau Pak Farid ingin tahu lebih jelas, Pak Farid panggil ulama yang mengatakan perempuan memimpin itu haram,” kata AmiSoal Kepemimpinan Perempuan Mencuatah. Sementara wakilnya, Zainal, meminta persoalan itu tidak dipolitisir terlalu lebar.

Illiza-Farid tampak tak puas dengan jawaban tersebut. Karena masih diberikan kesempatan untuk menanggapi, Farid kemudian mencecar Amin-Zainal dengan perjelasan-penjelasan. Farid mengatakan, Surat An-Nisa’ ayat 34 tentang ‘kaum laki laki pemimpin bagi kaum wanita’ bukan pengharaman perempuan menjadi pemimpin, melainkan hubungan suami istri dalam rumah tangga. “Dan, tidak pernah MPU Aceh mengeluarkan fatwa haram tentang kepemipminan perempuan,” pungkas Farid.

Debat Berakhir tanpa Doa
Debat kandidat cawalko/cawawalko Banda Aceh kemarin berlangsung cukup meriah. Tapi ada sedikit perbedaan dengan debat pertama yang digelar 24 Januari lalu. Karena debat kemarin, KIP Kota Banda Aceh meniadakan pembacaan doa. Debat ditutup dengan menyanyikan lagu kebangsaan.

Hal itu sempat memicu protes dari tim pemenangan Amin-Zainal, namun debat tetap berakhir tanpa doa. Alhasil tim pendukung Amin-Zainal menggelar doa sendiri. Seluruh tim pendukung pasangan ini berkumpul sebelah kanan panggung. Mereka mengikuti doa dengan khusyuk yang dipimpin oleh salah seorang dari tim Amin-Zainal.

Ketua KIP Banda Aceh, Munawar Syah saat dimonfirmasi wartawan mengatakan, ditiadakannya doa pada debat kedua kali ini, karena pada debat pertama, jawaban doa dengan kata kata ‘amin’ dibaca besar-besar. “Ditambah lagi dengan kalimat nama pasangan wakil (Zainal) di belakangnya,” kata Munawar Syah.

Hal itu, kata Munawar, sudah disampaikan saat technical meeting. Bahkan kedua pasangan calon dan masing masing tim sudah sepakat ditiadakan doa dalam debat kedua. “Kedua paslon hadir juga saat evaluasi, mungkin di level bawah tak tersampaikan,” pungkasnya.(dan) (uri/gie/iyadie/OR)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id