Harmoni di Lembah Kathmandu | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Harmoni di Lembah Kathmandu

Foto Harmoni di Lembah Kathmandu

OLEH EDWARD M NUR, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Abulyatama dan Mahasiswa Program Doktor Ilmu Manajemen Universitas Syiah Kuala, melaporkan dari Kathmandu, Nepal

MENDARAT di Tribuvan International Airport, inilah kesan pertama yang saya tangkap: begitu sederhana, masih lebih bagus Bandara Iskandar Muda, Blangbintang, Aceh Besar.

Khatmandu, ibu kota negeri di kaki Himalaya, dari pesawat menjelang mendarat–kebetulan terbang malam–kami saksikan kotanya tidak gemerlap dengan lampu, khas kota besar. Setelah mendarat, teman saya asal Nepal, Garsyam, memberi tahu bahwa listrik di Nepal hanya menyala 13 jam sehari. Jadi, masih mendingan kita di Aceh, walau sering mati lampu, tapi tidak setiap hari. Nepal saat ini mengalami krisis listrik, minyak, dan gas karena persoalan perbatasan dengan India.

Kawasan di Lembah Kathmandu terdiri atas tiga kota, yaitu Kathmandu, Patan, dan Bhaktapur. Semuanya ditetapkan Unesco sebagai situs budaya warisan dunia yang monumental. Di sini terdapat tiga bangunan istana bersejarah, yaitu Kathmandu Durbar Square, Patan Durbar Square, dan Bhaktapur Durbar Square, ditambah dua Buddha stupa–Swayambhunath dan Boudhhanath–dan dua kuil Hindu, Pashupatinath dan Changu Narayan.

Saat muhibah ke Nepal-India, kami dari Komunitas ’87, berupaya mencermati pola kehidupan masyarakat di sana yang unik. Mereka mempertahankan budaya lokal dengan harmoni yang selaras dengan lingkungan alamnya. Keramahtamahan yang mereka tunjukkan menyiratkan keteduhan puncak Himalaya sebagai latar negeri.

Penduduk di sini mayoritas Hindu. Hanya sedikit yang beragama Budha, Islam, dan Kristen. Walau negeri ini tanah lahirnya Budha, namun pemeluk Budha tak mayoritas di Nepal.

Negeri ini terlihat elok dengan bentang alam bagai sepenggal tanah dari surga. Sungguh memesona. Di Lembah Kathmandu kita bisa saksikan kehidupan masyarakat dengan segala aktivitas kesehariannya yang alami plus segala keunikan budayanya.

Kehadiran kami di Nepal tepat di pengujung musim dingin. Namun, dinginnya negeri ini masih sangat terasa dengan suhu siang hari 14 derajat, malam 5 derajat Celcius.

Tujuan utama kami ke Nepal adalah ingin menyaksikan pemandangan dan trackking ke pegunungan yang menjadi tujuan utama warga dunia. Putihnya puncak Himalaya yang ditutupi salju abadi sungguh menambah kami takjub akan ciptaan Ilahi.

Himalaya adalah gugus pegunungan seperti Bukit Barisan di tempat kita. Terbentang sepanjang 2.200 km. 1.200 Km berada dalam wilayah Nepal, selebihnya masuk wilayah India, Tibet, Cina, Bangladesh, dan Pakistan. Ada sepuluh puncak tertinggi di Gunung Himalaya. Everest merupakan puncak tertinggi di dunia dengan ketinggian 8.848 meter di atas permukaan laut. Everest masuk dalam wilayah Nepal dan Tibet.

Melihat Kota khatmandu sekilas kita kembali pada era ‘80-an Indonesia. Byangkan saja layaknya seperti Kota Medan pada masa itu. Dengan segala kesederhanaan dan keterbatasan dengan sisa luka pascabencana gempa Khatmandu masih membalut kesederhanaannya. Di abad modern masih ada kota seperti Khatmandu adalah keniscayaan. Tak ada kendaraan mewah berseliweran di jalanan. Selama di Nepal kami juga belum melihat mobil dikendarai wanita. Umumnya kendaraan made in India, jarang yang bermerek Jepang. Motor semua merek India. Bus dan truknya masih model lama, persis seperti di era film Amitabh Bachchan dan Hema Malini masih eksis.

Uniknya lagi, kota ini tanpa traffic light. Dari berbagai negara yang sudah kami kunjungi, baru di Nepallah kami lihat kota (ibu kota negara lho) yang tanpa lampu lalu lintas di persimpangan. Arus kendaraan diatur oleh polisi lalu lintas yang berdiri di atas panggung kecil di setiap persimpangan. Sungguh berat kerja polantas Nepal.

Sekilas, masyarakat Nepal dengan segala aktivitas budayanya tak jauh beda dengan saudara kita di sebagian pesisir Aceh, seperti masyarakat Pidie, Aceh Utara, dan Aceh Timur. Warna kulit dan postur tubuh menunjukkan seakan memang orang Aceh juga punya genetik mereka. Malah tak jarang warga setempat menganggap kami juga orang Nepal.

Pokhara merupakan kota kedua terbesar di Nepal. Dikelilingi Pegunungan Himalaya di satu sisi dan Danau Fewa di sisi yang lain menjadikan Pokhara kota wisata alam terbesar di Nepal. Di sinilah para trackking Gunung Himalaya puncak Annapurna dimulai. Annapurna merupakan gugusan puncak Himalaya yang tingginya 8.000 m lebih. Puncak tertinggi disebut Tail Fish karena menyerupai ekor ikan.

Dalam cuaca cerah keagungan gunung tertinggi ini sungguh menakjubkan karena diselimuti salju abadi. Berkilauan luar biasa saat disinari mentari pagi. Tempat ini paling untuk tepat menyaksikan keagungan Annapurna di Dhampus, kawasan pegunungan Center Point, gerbang menuju Kamp Annapurna. Kawasan Dhampus dihuni suku Grum, etnis terkenal di Nepal karena kekuatan fisik dan loyalitasnya. Banyak dari mereka yang direkrut jadi tentara.

Tempat lain yang juga menarik untuk menyaksikan matahari terbit adalah di Sarangkot. Sinar mataharinya menyirami lembah Pokhara.

Begitupun, semakin kami dalami kehidupan masyarakat Nepal, semakin kami bersyukur menjadi warga Indonesia. Nepal saat ini menghadapi krisis energi, jalannya rusak dan berdebu. Di jalanan seperti tanpa aturan. Masih sangat tertib dan makmurlah Indonesia. Kami bersyukur menjadi orang Indonesia. Sungguh.

* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskahnya, termasuk foto dan identitas Anda ke email [email protected] (uri/sih/ebrinaldy/AF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id