Mualem: PA tak Takut Ditinggal Partai Koalisi | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Mualem: PA tak Takut Ditinggal Partai Koalisi

Foto Mualem: PA tak Takut Ditinggal Partai Koalisi

BANDA ACEH – Ketua Umum Partai Aceh (PA), H Muzakir Manaf menegaskan, dukungan masyarakat bawah (grassroot) untuk Partai Aceh maupun untuk pasangan calon gubernur dan wakil gubernur (wagub) yang diusung PA sampai saat ini masih kuat.

PA tidak gentar dan goyang jika sejumlah partai nasional (parnas) yang telah berkoalisi dengan PA dalam Koalisi Aceh Bermartabat (KAB) kemudian satu per satu ke luar, lalu mengusung dan mengusul paket cagub dan cawagub lain dalam pilkada yang berlangsung 15 Februari 2017 di Aceh dan beberapa daerah lainnya.

“Partai Aceh sudah siap menghadapi kondisi yang demikian. Juga sudah menyiapkan solusi terbaik jika ditinggalkan sejumlah partai koalisi,” ujar Muzakir yang akrab disapa Mualem menjawab Serambi di Banda Aceh, Kamis (3/3), saat dimintai tanggapannya atas bertambahanya calon gubernur dari partai nasional juga jalur independen.

Mualem menyatakan, komitmen PA untuk parnas yang berkoalisi dalam KAB masih tetap dan belum berubah sampai kini. Ini bisa dilihat dari komposisi keanggotaan partai koalisi dalam alat kelengkapan DPRA yang belum diubah.

Pembagian jabatan pada alat kelengkapan dewan, menurutnya, dilakukan secara proporsional dan profesional. PA sebagai salah satu inisiator untuk pembentukan KAB itu masih menjaga komitmen KAB.

Namun begitu, lanjut Mualem, jika ada parpol yang akan ke luar dari KAP menjelang Pilkada 2017, ya silakan saja, karena itu hak demokrasinya.

PA, lanjut Mualem, tidak goyah menghadapi masalah itu, karena para kader PA di daerah saat ini terus melakukan konsolidasi dengan para kader partainya, terutama di tingkat desa.

Mualem berpandangan, semakin banyak cagub dan cawagub yang diusung maupun diusul melalui jalur parpol maupun independen, maka semakin mudah bagi PA untuk memenangkan pasangan cagub dan cawagubnya.

Alasan Mualem, menurut Undang-Undang Pilkada yang baru, pasangan mana yang bisa meraih suara terbanyak dalam pilkada, maka pasangan itulah yang menjadi pemenangnya. Tidak ada putaran kedua. Kalau dalam UU Pilkada yang lalu, untuk bisa menang harus bisa meraih suara 50 persen plus 1 minimalnya.

Dalam undang-undang yang baru, kata Mualem, tidak seperti itu. Siapa yang terbanyak, maka pasangan itu yang menjadi pemenangnya. “Jadi, sedikit pun kita tidak takut dan tidak goyang, menghadapi pertambahan pasangan calon gubernur maupun wakil gubernur untuk Pilkada 2017,” ujarnya.

PA, kata Mualem, terus mengintensifkan komunikasi politiknya dengan parpol, baik yang sudah berada dalam KAB, maupun yang masih di luar KAB. “Komunikasi politik ini sangat penting untuk membantu kita dalam pilkada nanti,” ucapnya.

Jumlah dukungan parpol yang banyak, kata Mualem, memang belum bisa menjadi jaminan menang dalam pilkada, karena untuk pilgub rakyat lebih memilih sosok cagub dan cawagub yang tanggap, cepat bertindak, bijaksana, dan adil dalam mengambil keputusan. “Dukungan parpol yang banyak juga sangat kita perlukan untuk bisa menang dalam pilkada,” imbuhnya.

Mualem mengatakan, dirinya sebagai cagub dari PA harus berjuang lebih keras lagi untuk mengambil simpatik masyarakat Aceh dengan cara-cara yang terpuji, terhormat, dan bermartabat, agar masyarakat mau memilihnya dalam Pilkada 15 Februari 2017.

Ia juga mengingatkan, bagi cagub dan cawagub yang akan mencalonkan diri sebagai cagub dan cawagub untuk tidak melakukan kampanye hitam. Misalnya, menjelek-jelekkan cagub yang lain, memfitnah, dan perbuatan tercela lainnya dalam kampanyenya untuk naik menjadi cagub. “Tindakan itu sangat tidak baik dan tak bermartabat,” ujar Mualem. (her)


(uri/ngbert/atoel/EL)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id