Prestasi Aceh di Porwanas Memalukan | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Prestasi Aceh di Porwanas Memalukan

Foto Prestasi Aceh di Porwanas Memalukan

BANDA ACEH – Prestasi Tim PWI Aceh di ajang Pekan Olahraga Wartawan Nasional (Porwanas) XII/2016 di Bandung, Jawa Barat, yang membawa pulang satu medali perunggu memunculkan ragam komentar, bahkan ada yang menilai sebagai prestasi yang memalukan. Meski ada yang menganggap ajang itu lebih cenderung ke silaturahmi, namun karena terkait penggunaan uang rakyat bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA), maka tak sedikit pula yang ‘menggugat’ soal prestasi itu.

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Aceh, melalui Kabid Olahraga, Musri Idris kepada Serambi menjelang keberangkatan tim Porwanas Aceh ke Bandung beberapa hari lalu membenarkan ada alokasi dana yang bersumber dari APBA 2016 sebesar Rp 575 juta untuk tim Porwanas PWI Aceh yang mengikuti even di Bandung, Jawa Barat pada 26-29 Juli 2016. “Jumlah anggota rombongan 80 orang, kalau ada yang berangka thingga 90 orang lebih, mereka menggunakan dana di luar alokasi,” kata Musri.

Bendahara PWI Aceh, Azhari SE yang ditanyai Serambi juga membenarkan alokasi dana dari sumber APBA 2016 sebesar Rp 575 juta. Sedangkan mengenai adanya tambahan anggota rombongan hingga menjadi 95 orang, menurut Azhari menggunakan dana pribadi masing-masing. “Pastinya dengan angka Rp 575 juta itu tidak cukup. Saya siap beberkan pengeluaran jika diminta. Tapi saya pikir minta saja datanya ke PPTK Dispora karena kita (PWI) hanya penerima manfaat. Semua dokumen Dispora yang buat,” kata Azhari melalui fasilitas pesan singkat kepada Serambi, Minggu (31/7).

Menanggapi informasi bahwa uang Rp 575 juta itu tidak cukup, seorang anggota PWI Aceh yang ikut cabang billiard di Porwanas XII/2016, Nono Tarigan menandaskan, seharusnya kalau dana minim kan tidak meski memaksakan membawa anggota rombongan hingga 80 orang, kemudian ditambah lagi di luar itu sekitar 16 orang. Padahal dari 80 orang itu, jumlah atlet tak sampai 40 orang,” ujar Nono.

Akibat pemaksaan jumlah anggota tim, kata Nono, kepentingan atlet menjadi tergerus. Padahal, lanjutnya, jika pengurus benar-benar fokus untuk memikirkan kebutuhan atlet, tentu prestasi buruk seperti di Porwanas XII ini bisa diminimalisir. “Walau Porwanas tidak ngotot-ngotot sekali untuk kejar juara, tapi jika atlet sudah dibekali kebutuhan yang cukup, tentu memiliki rasa tanggungjawab yang tinggi untuk tampil maksimal. Kalah menang itu urusan lain,” ujarnya.

Nono juga menyayangkan selama di ajang Porwanas, elite pengurus sibuk dengan urusan sendiri. Hampir tak ada yang memberikan support secara moral kepada atlet yang tampil bertanding atau berlomba. “Betul, sudah ada offisial masing-masing cabang, tetapi akan beda rasanya jika pengurus ikut hadir memberi semangat. Beda sekali dengan tim dari provinsi lain, termasuk tim PWI Sumut, di mana Wapemred saya yang juga pengurus inti PWI ikut hadir memberikan motivasi. Malah beliau ikut menyemangati saya walau posisi saya sebagai lawan,” ujar Nono Tarigan.

Nono Tarigan menilai tim Porwanas PWI Aceh kali ini benar-benar terkesan sebagai rombongan shooping yang sangat santai, tak terkoordinir dan bahkan sangat kacau. Porwanas XII/2016 ditutup Jumat 29 Juli 2016. Kontingen Jawa Barat mempertahankan predikat juara umum dengan raihan 10 emas, 5 perak, 10 perunggu. Peringkat kedua ditempati Kontingen PWI Sulawesi Selatan dengan meraih 4 emas, 4 perak, 4 perunggu. Sedangkan urutan ketiga Kalimantan Tengah dengan jumlah medali 4 emas, 4 perak, 3 perunggu.

PWI Aceh membawa rombongan hampir 100 orang. Dari jumlah itu, atlet tidak sampai 40 orang mengikuti cabang olahraga tenis meja, catur, bridge, futsal, billiard, bulutangkis, dan atletik.

Menurut Ketua SIWO PWI Aceh, Imran Joni tidak ada satupun dari cabang olahraga itu yang mendapat medali. Satu-satunya penghargaan yang diperoleh PWI Aceh adalah untuk cabang lomba jurnalistik reportase radio, itu pun harus puas dengan medali perunggu yang disumbangkan oleh Haris Fadillah. “Cabang catur yang digembar-gemborkan sebagai cabang andalan dengan tradisi medalinya ternyata kali ini juga gagal,” pungkas Imran Joni.(min) (uri/atih/artanto/RH)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id