Korban Penggusuran Histeris | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Korban Penggusuran Histeris

Foto Korban Penggusuran Histeris

* Sempat Saling Dorong dengan Petugas

* 18 KK Minta Waktu Sebulan

LHOKSUKON – Warga Desa Bungkah, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara, menangis histeris saat rumah mereka hendak dibongkar oleh jurusita Pengadilan Negeri (PN) Lhoksukon menggunakan alat berat, Kamis (3/3). Sebanyak 18 kepala keluarga (KK) korban penggusuran itu sempat saling dorong dengan petugas kepolisian, dan menghadang alat breat.

Amatan Serambi, jurusita PN Lhoksukon Aceh Utara tiba di lokasi itu sekitar pukul 10.00 WIB. Mereka dikawal ratusan polisi untuk mengamankan proses eksekusi 18 rumah yang berdiri di tanah sengketa seluas enam hektare (Ha). Jurusita membawa alat berat jenis beko untuk merobohkan ke 18 rumah milik warga itu.

Namun, puluhan warga dari 18 KK itu menghadang alat berat dengan menutup jalan menuju rumah mereka. Sempat terjadi aksi saling dorong antara warga dan puluhan polisi wanita (polwan) yang dikerahkan ke lokasi itu. Warga meminta waktu satu bulan untuk membongkar sendiri rumahnya, agar barang-barang di rumah dan papan bisa digunakan kembali.

“Kami menghadang beko agar rumah kami tidak dirobohkan. Kami berjanji akan membongkarnya sendiri, dan kami minta waktu sebulan agar barang dalam rumah kami itu dapat kami manfaatkan kembali. Tadi kami juga minta pihak keluarga Zainon (penggugat) untuk bersumpah bahwa tanah itu milik mereka, bukan milik kami,” kata salah seorang warga tergusur.

Lalu, polisi yang dipimpin Kapolres Lhokseumawe ABKP Anang Triarsono bersama muspika mencoba memfasilitasinya pertemuan antara pihak tergugat dan penggugat. Sementara Jurusita PN Lhoksukon yang dikawal polisi langsung membacakan materi eksekusi lahan, dilanjutkan penyerahan tanah itu ke kepada penggugat.

Untuk diketahui, Mahkamah Agung (MA) mengabulkan permohonan gugatan Said Zainon (almarhum) terhadap Hanafiah dkk (almarhum) yang diajukan pada tahun 1963, setelah kasus itu disidangkan di Pengadilan Negeri Lhokseumawe (sebelum pemekaran) dan Pengadilan Tinggi Banda Aceh.

MA mengabulkan permohonan penggugat dalam musyawarah pada 25 Januari 2007, yang dipimpin Dr H Parman Soeparman bersama dua hakim anggota H Abbas Said SH dan R Imam Harjadi dan panitera Elnawisah MH.

Sementara itu, Ketua Pengadilan Negeri (PN) Lhoksukon, Teuku Syarafi melalui Panitera Agus RM kepada Serambi, menyebutkan proses eksekusi sudah selesai setelah dibacakan materi eksekusi dan penyerahan tanah tersebut kepada penggugat, yang ditandai penekenan berita acara.

“Jadi tanah itu sekarang menjadi milik penggugat. Memang tadi para tergugat meminta waktu sebulan untuk penundaan pembongkaran kepada pemohon eksekusi (penggugat), tapi untuk proses eksekusi sudah dilaksanakan,” katanya.(jaf) (uri/ngbert/atoel/EL)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id