Edi Fadhil Membangun ‘Istana’ Orang Miskin | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Edi Fadhil Membangun ‘Istana’ Orang Miskin

Foto Edi Fadhil Membangun ‘Istana’ Orang Miskin

JAM istirahat siang bagi pegawai negeri sipil (PNS), swasta, dan instansi lain sangatlah menyenangkan. Ada yang mencari tempat makan siang dengan menu spesial. Atau memilih makan bersama keluarga di rumah. Sebagian lainnya, menjemput anaknya di sekolah. Bahkan memilih nongkrong di warung kopi dengan teman-teman atau relasi bisnis.

Tapi, tidak bagi Edi Fadhil (32). Dia justru memanfaatkan waktu luang itu untuk hal lain yang tak kalah bermanfaat. Meski berstatus pegawai di Biro Hukum Setda Aceh, pria kelahiran Aceh Besar, 16 Juni 1984 ini memilih turun ke lapangan mengurus kepentingan orang miskin.

Tanpa terjadwal lebih dulu, pada Rabu (2/3) siang, Serambi mengikuti perjalanan Edi Fadhil yang punya aktivitas sampingan. Program yang dipeloporinya di media sosial Facebook selama ini ia namakan ‘Cet Langet Rumoh’ untuk membangun rumah orang miskin serta Gerakan Mari Sekolah (GMS) untuk beasiswa pelajar.

Mengendarai mobil double cabin yang diakuinya pemberian gratis seseorang, ia meluncur ke salah satu gampong di Banda Aceh. Ia ditemani rekan relawannya, Risky Putry, pegawai di Badan Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (BP-SPAM) Regional Aceh. Kali ini dia menemui lagi wanita korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Sebelumnya ia telah mengurus pendidikan anak dari janda itu dan menyewa serta memindahkan isi rumah. Termasuk memastikan masa depan ibu itu punya usaha agar ada pendapatan sendiri.

Selesai shalat Zuhur, ia bergegas mendatangi calon untuk dibangunkan rumah di Geu Gajah, Darul Imarah, Aceh Besar. Fadhil menemui Agusmi (40) yang berprofesi tukang becak dan istrinya Mardiah (37) yang mencuci pakaian orang. Ayah dari Khairunnisa (11) dan si kembar Maulizar dan Maulidar (5) ini sudah mencoba membangun rumah sendiri sepuluh tahun lalu. Semula hanya ada Agusmi dan Mardiah yang membangun gubuk di kawasan itu. Dia hidup berdua tanpa ada penerangan listrik.

Pendapatannya dari menarik becak ditabung dan dibeli kebutuhan seadaanya. Misal, ada uang beli batu gunung, selanjutnya besi, batu bata, pasir, semen, dan kayu. Tapi perjuangan Agusmi mewujudkan “istana” untuk kerajaan kecilnya tak berhasil hingga ia dikaruniai Allah anak kembar. “Sudah berusaha membangun rumah, tapi tak jadi-jadi,” ujar Agusni kepada Serambi kemarin.

Di sekeliling rumahnya yang dulu tanah kosong justru sudah berdiri perumahan indah. Bahkan sang adik meminta pindah melihat kondisi keluarga Agusmi lantaran gubuknya sudah reot dan tak layak huni. Dinding dan lantai kayu sudah lapuk. Bila hujan tergenang air akibat tak ada timbunan. “Istana” yang dirintisnya tak mampu dilanjutkan akibat terkendala dana. Sejumlah batu bata yang terpasang terlihat ada sudah rusak. Salah satu kamar sudah ditanami ubi kayu. “Sekarang harus berbagi untuk biaya hidup,” ujarnya.

Fadhil bernegosiasi dengan abang Agusmi yang kebetulan punya keahlian pertukangan. Disepakati pembangun rumah tersebut mulai, Jumat (4/3). Sudah ada dana Rp 3 juta untuk membangun rumah yang ke-13. Tapi Fadhil berani menstranfer melalui e-banking via HP-nya Rp 5 juta. Wajah pasangan suami istri itu terlihat cerita. “Saya tertarik bangun rumah ini, karena pemiliknya sudah berusaha. Kita hargai usahanya bertahun-tahun,” ujarnya berjanji mengirim dana hingga rumah tersebut selesai dibangun.

Kemudian Fadhil mendapatkan informasi baru dari salah satu istri Anggota DPRA. Mereka sama-sama menuju rumah, Nurwathaniah (29) yang suaminya di Malaysia. Suaminya sudah lama tak mengirim uang akibat tak ada kerja lagi. Anaknya sedang sakit-sakitan dan dia tinggal di rumah seadanya dan menumpang di tanah orang. Melihat kondisi wanita itu, Fadhil meminta nomor rekening dan mentranfer dana Rp 1 juta. Mata wanita itu berkaca-kaca dan sesekali menyeka dengan jilbabnya. Bahkan dia harus melepaskan kacamata akibat terharu. “Ini saya sudah saya tranfer Rp 1 juta. Semoga berguna untuk anak-anak,” ujar Fadhil yang setelah tsunami mendirikan LSM Sepakat.

Fadhil kemudian menghubungi kenalannya dari Baitul Mall Aceh Besar. Bila tersedia bantuan rumah saja, maka ia siap meminta bantuan sahabatnya di Facebook untuk mencari tanah. Beruntung, pihak Baitul Mall Aceh Besar sedang menyurvei calon penerima rumah di kawasan Darul Imarah. Mereka berjanji akan menemui Nurwathaniah. “Saya berjanji akan kawal supaya ibu dapat rumah,” ujar Fadhil kepada wanita yang selama ini mendapat uluran tangan tetangga untuk bertahan hidup.

Menurut Fadhil, ia menggalang dana dari donatur melalui Facebook untuk membangun rumah orang miskin. Foto calon penerima dipublikasi hingga selesai dan pengunaan dana oleh timnya untuk membangun rumah. Penyumbang berasal dari Aceh, provinsi lain, dan luar negeri. Kini, 12 rumah sudah dibangun. Donatur mengirim dana mulai Rp 50.000 hingga terbanyak ada yang mengirim Rp 170 juta. “Rata-rata 70 persen penyumbang tidak saya kenal,” ujar Fadhil yang sering turun ke lapangan dengan timnya.

Rumah yang sudah dibangun, kata Fadhil, di Aceh Utara sepuluh unit, Bireuen dan Aceh Timur masing-masing satu unit. Tiap unit berukuran 6×6 meter dengan biaya maksimal Rp 42 juta.

Berbagai dana yang disumbangkan para donatur bukan hanya digunakan untuk pembangunan rumah semata. Ada program lain, yaitu Gerakan Mari Sekolah (GMS) untuk anak-anak yang putus sekolah atau terancam tak ada biaya untuk melanjutkan studi. Program ini berhasil memberi beasiswa kepada 127 murid SD, SMP, dan SMA. Rinciannya beasiswa Rp 200.000 per bulan untuk pelajar SMA, Rp 175.000 untuk SMP dan Rp 150.000 untuk SD.

Tapi Fadhil tetap merendah bahwa program ini terwujud karena jasa penyumbang dan pra sahabatnya di Facebook. Yang penting baginya, program ini bisa membantu banyak orang papa dan menjadi inspirasi bagi banyak orang.

Dia bahkan diundang berbicara pada pertemuan dengan Ketua dan Anggota DPRA di ruang sidang utama Gedung DPRA, Senin (29/2). Pihak legislatif penasaran bagaimana cara Fadhil menghimpun dana publik dan tetap amanah dalam penyalurannya.

Semoga paparan program yang dipelopori pemuda Aceh ini mengispirasi wakil rakyat, sehingga turut serta bersama-sama membangun “istana” rakyat miskin yang diwakilinya. (adi/her) (uri/sih/ebrinaldy/AF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id