Generasi Ideal Penopang Kejayaan Aceh | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Generasi Ideal Penopang Kejayaan Aceh

Generasi Ideal Penopang Kejayaan Aceh
Foto Generasi Ideal Penopang Kejayaan Aceh

GENERASI ideal merupakan harapan setiap umat. Tidak terkecuali bagi kita yang tinggal di daerah istimewa, Aceh. Negeri yang pernah dikagumi dunia lewat kemasyhuran dan keharuman peradabannya di masa lalu ini telah menjadikan generasi ideal sebagai batu loncatan kejayaan pada masanya.

Sebagai bagian dari masyarakat Aceh, kita patut berbangga oleh torehan sejarah yang pernah diukir generasi terdahulu. Namun, perasaan bangga saja tidak cukup untuk sekedar mewujudkan generasi ideal, alih-alih mengembalikan kejayaan bangsa.

Masyarakat Aceh kiranya perlu mengidentifikasi perihal apa saja yang dapat dilakukan untuk mewujudkan kembali generasi impian tersebut. Dalam hal ini, masyarakat Aceh sangat diuntungkan karena dapat langsung bercermin pada kegemilangan yang pernah ditorehkan oleh nenek moyang zaman dulu.

Muhammad Fethullah Gulen, seorang ulama intelektual kontemporer Turki penerima Gandhi King Ikeda Peace Award 2015 yang sekarang bermukim di Pennsylvania, AS menjabarkan syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk mewujudkan generasi ideal.

Menurutnya sebuah generasi akan terbentuk menjadi generasi ideal bila nilai dan posisinya berkorelasi dan koheren dengan nilai-nilai al-Qur’an dan Sunnah.

Lebih lanjut Gulen menguraikan bahwa generasi tersebut adalah generasi yang menjadikan dakwah sebagai tujuan hidupnya secara ikhlas, selalu memperbaharui ilmu pengetahuannya sehingga menjadi generasi yang cerdas, selalu berupaya menjadi teladan umat dan rela berkorban, rendah hati dan selalu menjaga empati dengan umat, mengedepankan rasa kasih sayang, mengedepankan toleransi, memiliki sikap optimis sebagai bentuk penerapan keimanan terhadap qadar, dan terakhir memiliki kemauan dan kehendak (al-Iradat) sesuai dengan pandangan i’tibar.

Mengacu pada uraian Gulen di atas, bila dikaitkan dengan kondisi masyarakat Aceh sekarang, maka rasanya telah jauh beranjak dari cerminan generasi ideal. Berbagai macam bentuk dekadensi moral terus saja menghantui masyarakat Aceh sekarang, terutama kalangan anak muda. Padahal pemuda adalah aset kejayaan sebuah bangsa.

Bayangkan saja bagaimana Aceh yang pernah jaya dengan keluhuran moral dan etika generasi terdahulu dititipkan kepada generasi yang hanya bisa membanggakan nenek moyangnya, tanpa bisa berbuat banyak untuk sekedar mencontoh apa yang mereka torehkan. Terlebih lagi bila al-Qur’an dan Sunnah sudah ditinggalkan, maka yang terjadi adalah kerusakan moral yang berujung malapetaka.

Tentunya kita tidak menginginkan itu terjadi kepada bangsa besar seperti kita. Karena kita sadar bahwa saat ini kita sedang memegang amanah untuk meneruskan kejayaan. Jika tidak demikian, maka gelar pengkhianat patut kita sandang. Naudzubillah!
Namun kita masih punya harapan, yang menepis anggapan bahwa capaian generasi ideal adalah utopia belaka. Usaha demi usaha untuk mewujudkan kembali generasi idaman seperti yang telah ditorehkan nenek moyang dulu terus dilakukan.

Salah satunya yang muncul ke permukaan adalah wacana Walikota Banda Aceh, Illiza Saaduddin Djamal beberapa waktu lalu yang mengajak semua elemen masyarakat Kota Banda Aceh untuk melahirkan generasi Qur’ani, generasi ideal harapan kejayaan Aceh ke depan. Dalam sambutannya beliau menegaskan pentingnya menanamkan nilai-nilai Qur’ani sejak usia dini sehingga mereka bisa menyatu dengan al-Qur’an. Tentunya komitmen seperti ini patut diapresiasi dan didukung untuk kemudian diikuti dan dijalankan oleh daerah-daerah lain di Aceh.

Sekarang untuk menyatukan pandangan, mari kita lirik kembali bahasan Gulen. Ia menekankan syarat utama generasi ideal adalah menjadikan dakwah sebagai tujuan hidupnya secara ikhlas. Hal ini tidak terlepas dari pentingnya menegakkan amar ma’ruf nahi munkar yang merupakan tujuan utama dan termulia dari penciptaan manusia.

Menurut Gulen, hubungan menegakkan amar ma’ruf nahi munkar dan keimanan seseorang sangatlah erat. Karena itu, eksistensi setiap individu ataupun kelompok tidak akan pernah kekal, kecuali jika ia bersedia menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Inilah tolok ukur kegigihan nenek moyang kita dulu dalam mempertahankan akidah dan tanah tumpah darahnya dari penjajahan.

Mereka tidak hanya diam ketika melihat kemungkaran, selebihnya berlomba-lomba dalam meraih kebajikan. Penting untuk diperhatikan bahwa dakwah yang mereka jalankan semata-mata hanya karena Allah, mereka begitu ikhlas dan jujur dalam menyampaikan dakwahnya.

Jika suatu generasi tidak mempunyai qalbu yang ikhlas dan jujur, maka dakwah yang ia sampaikan tidak akan berguna sedikit pun bagi pendengarnya. Banyak firman Allah Swt yang mengisyaratkan kepada kita bahwa para rasul tidak mengharapkan upah apa pun dari dakwah yang ia sampaikan kepada umat. Barangkali inilah salah satu kunci kesuksesan pendahulu kita dalam membangun peradaban yang pernah tersohor itu.

Berikutnya syarat yang harus dipenuhi generasi ideal adalah selalu memperbaharui ilmu pengetahuannya sehingga menjadikan mereka sebagai generasi yang cerdas. Setiap generasi yang menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, disyaratkan harus mempunyai ilmu pengetahuan yang luas. Sebab, hubungan ilmu pengetahuan dengan cara berdakwah sangat erat.

Arti ilmu adalah pengenalan seseorang kepada Sang Maha Pencipta, kemudian mengenalkan Sang Pencipta kepada orang lain.

“Siapa yang mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya.” Setiap ilmu pasti mempunyai tujuan tersendiri, yaitu mendorong seseorang untuk mengenal dan mencintai Tuhannya. Karena jika ilmu tidak mendorong seseorang untuk mencintai Tuhannya, maka ilmu itu tidak berguna baginya. Sebab, ilmu harus menjadi sumber kehidupan bagi jiwa dan perasaannya, jika tidak, maka ilmu yang tersedia sama sekali tidak berguna bagi dirinya.

Islam sangat memberikan penekanan pada ilmu. Ayat Allah Swt berikut sudah cukup menggambarkan pentingnya berilmu.

“Katakanlah, ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sesungguhnya orang-orang yang mau menggunakan akalnya yang dapat menerima pelajaran,” (QS al-Zumar [39]:9).” Selanjutnya mencari ilmu pun harus disesuaikan dengan perkembangan zaman. Untuk ini perkataan Sayyidina Ali ra. “didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya” sangat tepat untuk mengungkapkan perihal ini.

Masih menurut Gulen, manusia sekarang mementingkan pemikiran, sehingga orang di luar Islam atau orang yang tidak beragama berbicara dengan atas nama ilmu dan pemahaman filsafat. Jadi, seorang yang tidak mengetahui perkembangan terkini di masanya, maka ia bagai orang yang hidup di alam kegelapan. Sehingga ia tidak akan bisa menjadi generasi Islam yang seutuhnya.

Sebuah generasi yang senantiasa mengikuti perkembangan masanya akan menjadi generasi yang berhasil di dalam setiap langkahnya, termasuk dalam berdakwah. Integritas ilmu yang komprehensif dan berorientasi kontemporer seperti ini sangat urgen mengingat banyaknya ruang lingkup kehidupan yang harus terus digerakkan untuk bersama-sama menuju kejayaan.

Kita berharap ke depan Aceh mampu melahirkan generasi-generasi ideal Qur’ani. Sehingga dekadensi moral yang menghantui pemuda Aceh selama ini dapat dihilangkan, amanah kejayaan yang diemban selama berabad-abad dapat diwujudkan sekaligus mengembalikan zaman keemasan yang pernah ditorehkan generasi terdahulu. Semoga! [MUHAMMAD IQBAL M.GADE, mahasiswa Jurusan Ekonomi Islam, Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Jakarta. Email: [email protected]] (uri/atrya/ratama/SP)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id