Kejujuran Warga Jepang yang Mengagumkan | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Kejujuran Warga Jepang yang Mengagumkan

Kejujuran Warga Jepang yang Mengagumkan
Foto Kejujuran Warga Jepang yang Mengagumkan

OLEH NASRULLAH IDRIS, Dosen Jurusan Fisika FMIPA Universitas Syiah Kuala dan juga Pengurus Perhimpunan Alumni Jepang (Persada) Aceh, melaporkan dari Fukui, Jepang

MESKI waktu sangat sempit menjelang pulang ke Aceh setelah sebulan di Universitas Fukui, Jepang, dalam rangka kerja sama penelitian, tapi karena putra saya, Ibrahim yang lahir di Fukui dan adiknya Fathimah selalu minta dibawakan oleh-oleh khas Fukui, kami pun pergi berbelanja ke beberapa tempat di Kota Fukui.

Kami pergi ke toko tas. Pemilik dan pelayan toko-toko atau pusat perbelanjaan di Jepang sangat menghormati pengunjung, baik yang datang berjalan kaki, bersepeda, maupun bermobil. Begitu masuk kita sudah diperlakukan seperti raja. Semua pegawai toko dari berbagai sudut mereka berdiri mengucapkan selamat datang. Mereka ucapkan dengan suara besar dan antusias secara bersahut-sahutan, “irashimase”, “irashimase”, “irashimase” yang artinya selamat datang, selamat datang, selamat datang.

Begitu juga saat pembeli telah selesai dan hendak ke luar dari toko, serta-merta semua pelayan dengan suara jelas dan antusias mengucapkan “árigato gozaimasu” secara bersahut-sahutan. Sungguh kita sebagai pengunjung merasa sangat dimuliakan. Saya pikir, di Jepanglah kita bisa merasakan ungkapan bahwa pembeli adalah raja. Para pekerja toko tersebut begitu sungguh-sungguh melayani dan memuliakan setiap pengunjung.

Berdasarkan pengalaman saya mengunjungi berbagai kota di Jepang, budaya pelayanan dan penghormatan seungguh-sungguh pemilik dan pelayan toko kepada pengunjung dipraktikkan merata di Jepang.

Kembali ke pembelian tas, setelah melihat-lihat akhirnya kami pilih salah satu tas untuk dibeli. Saat dipegang oleh kasir, ada bagian kecil dari tas tersebut yang terkelupas. Sekilas tak kelihatan. Tapi sang kasir langsung memberi tahu kami bahwa ada bagian kecil dari tas yang terkelupas ketika dipegang. Dia sarankan agar kami tak usah membeli tas yang itu dengan bertanya kepada kami apakah setuju atau tidak. Akhirnya kami putuskan tak jadi membeli tas tersebut. Saat itu hati kecil saya berkata: Orang Jepang ini sangat jujur, bahkan terhadap orang asing sekalipun. Padahal, kami selaku pembeli tak tahu bahwa ada bagian kecil dari tas itu yang rusak.

Pada kesempatan yang lain kami pergi ke salah satu toko kamera. Setelah melihat-lihat, kami mengambil sebuah kamera yang didiskon dan kami sukai. Kami kemudian membawanya ke kasir untuk membayar. Sebelum dibayar, kasir dan kami bersama-sama memeriksa dan mencoba kamera tersebut. Pada saat saya sudah mengatakan bahwa saya sudah selesai memeriksa dan ingin membayar dia katakan bahwa di bagian dalam lensa kamera itu ada semacam noda atau debu yang sangat kecil. Kemudian saya dan kawan-kawan pun melihat dan memeriksanya, tapi karena halus sekali kami tak dapat melihat debu pada bagian dalam lensa kamera tersebut.

Kasir pun kembali mengonfirmasi pada kami apakah akan tetap membeli meskipun ada noda yang halus tersebut di bagian dalam kamera, kami pun memutuskan untuk membelinya.

Sekali lagi, saya terkesima pada kejujuran orang Jepang ini. Padahal, kami yang membeli sama sekali tak tahu barang tersebut ada cacat yang sangat halus.

Tidak hanya kesungguhan dan kejujuran, kami mengamati bahwa budaya hidup sederhana juga sangat terlihat dalam kehidupan banyak orang Jepang. Kalau kita melihat di jalan-jalan, kebanyakan masyarakat Jepang menggunakan sepeda sebagai alat transportasi utama dalam kota, terutama pelajar dan mahasiswa.

Sungguh menarik, bahkan para profesor dan dosen pun yang merupakan salah satu profesi yang sangat dihormati dan dimuliakan di Jepang banyak yang menggunakan sepeda. Padahal, sebagai negara industri maju Jepang yang menjadi salah satu negara dengan pendapatan perkapita paling tinggi di dunia, dapat dikatakan hampir semua rakyatnya sanggup membeli mobil.

Namun demikian, hampir semua mereka dalam aktivitas hariannya menggunakan sepeda. Pemerintah daerah di Jepang pun sangat memuliakan para pejalan kaki dan pengendara sepeda.

Jalan untuk para pejalan kaki dan sepeda sama bagus dan hampir sama lebarnya dengan jalan untuk kendaraan bermotor. Para pengendara kendaraan bermotor pun menghormati dan mendahulukan para pejalan kaki dan pengendara sepeda. Mungkin ini menjadi faktor yang mendorong masyarakat gemar berjalan kaki atau naik sepeda. Tak terjadi kemacetan di jalan-jalan, suasana kota pun sangat asri, nyaman, dan bersih dari polusi asap dan debu.

Saya pikir, para kepala daerah di Aceh tak perlu malu belajar dengan sungguh-sungguh bagaimana para kepala daerah di Jepang mengelola kotanya, sehingga begitu nyaman untuk semua lapisan masyarakatnya.

Saya berpikir kunci kemajuan yang dicapai masyarakat Jepang sekarang dikarenakan budaya sungguh-sungguh (bekerja keras), jujur, dan sederhana masyarakatnya.

Sejatinya budaya positif itu adalah milik kita, umat muslim, sehingga kita dapat kembali berjaya, apalagi dengan status Aceh sebagai negeri syariat Islam.

* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskahnya, termasuk foto dan identitas Anda ke email [email protected] (uri/itri/elmeizar/FD)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id