Umrah Rasional | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Umrah Rasional

Foto Umrah Rasional

Oleh Akmal Hanif

BULAN Mei yang lalu kita dikejutkan dengan berita telantarnya seratusan lebih jamaah umrah asal Aceh di Bandara Internasional Kualanamu, Sumatera Utara. Paling banyak di antara mereka adalah jamaah usia lanjut dari beberapa pelosok kampung.

Harian Serambi Indonesia edisi 8 Mei 2016 menulis, sebanyak 187 jamaah umrah asal Pidie melakukan protes terhadap satu travel di Medan yang sudah cukup terkenal di masyarakat Aceh. Anehnya, berulang kali aksi penipuan ini terjadi, tetapi masih begitu besar animo berumrah bersama travel yang memiliki “jejak hitam” itu.

Kasus tersebut, bukan kali pertama menimpa jamaah umrah asal Aceh. Beberapa kali kita juga membaca berita jamaah umrah batal berangkat sementara pihak travel yang mengkoordinir tidak bertanggungjawab. Padahal jamaah sudah berkumpul di Bandara, namun saat chek in pesawat, nama mereka tak satu pun terdaftar dalam manifest penerbangan ke Arab Saudi.

Travel lari dan berlepas diri, meski para jamaah umrah ini sudah membayar paket yang cukup mahal untuk bisa beribadah ke tanah suci, Makkah. Ada juga yang meminta tambahan biaya hingga 10 juta dari biaya promo yang diberikan semula sebesar Rp 26 juta untuk bisa berangkat sesuai rencana.

Kasus-kasus seperti ini sedianya tidak terjadi dan menimpa jamaah umrah asal Aceh jika mereka hati-hati dan mendapat informasi yang rasional terkait ibadah umrah beserta seluruh kebutuhan selama di tanah suci. Selama ini, banyak travel luar mencari jamaah ke pelosok-pelosok gampong dengan memanfaatkan ketokohan seorang teungku gampong. Cukup memberikan tips atau tiket gratis, maka teungku gampong sudah bisa menjadi agen perekrut jamaah umrah.

Siapa tidak percaya jika seorang teungku gampong menjadi agen yang mengkoordinir keberangkatan umrah ke tanah suci. Beberapa perusahaan travel dengan sengaja menggaet ketokohan untuk meraup keuntungan dari bisnis ini. Dari sekian pola yang diterapkan, bisa jadi dua atau tiga kali keberangkatan akan berlangsung normal, tetapi modus kejahatan akan terjadi pada keberangkatan kesekian kalinya dengan alasan visa umrah belum keluar dan alasa lain dari pihak travel yang intinya mencari untung dari kepanikan jamaah yang gagal berangkat.

Kepanikan jamaah? ya dari beberapa kasus yang terjadi beberapa jamaah yang sudah telanjur membuat kenduri di gampong akan rela merogoh berapa saja uang tambahan karena malu jika tidak jadi berangkat ke tanah suci. Fakta ini bisa dilihat dari kasus-kasus gagalnya di mana salah satu travel meminta uang tambahan agar dapat berangkat segera pascapenundaan.

Sebagai pembimbing jamaah haji maupun umrah, saya sering menyampaikan ke masyarakat yang akan berangkat umrah agar mereka berangkat berumrah bersama travel-travel milik orang Aceh, siapa pun itu, atau kantornya berada dan mudah kenali di Aceh. Dengan demikian, jika terjadi kasus-kasus penipuan dengan sangat mudah para korban dapat meminta pertanggungjawaban jika batal berangkat. Nah, pada kasus-kasus penipuan berkedok ibadah ini, rata-rata travel atau perusahaannya ada di luar Aceh, di mana para jamaah kesulitan melakukan klaim.

Umrah ‘backpacker’
Tulisan ini juga mengajak para pembaca untuk rasional memahami alur keberangkatan umrah atau haji. Termasuk juga syarat-syarat yang mesti dipenuhi para calon jamaah umrah dan travel yang mengkoordinir keberangkatan ke tanah suci.

Untuk memastikan jamaah bisa berangkat, seseorang dapat melacaknya dari kepastian keluarnya visa umrah di mana setiap travel wajib melampirkan salinan tiket dan hotel yang sudah diboking di Mekkah atau Madinah. Tanpa kejelasan ini, dipastikan visa umrah tidak bisa dikeluarkan oleh otoritas Kerajaan Arab Saudi di Indonesia, dalam hal ini pihak kedutaan di Jakarta.

Begitu pun dengan kisah umrah atau haji backpacker yang menawarkan tiket murah dan umrah mandiri tanpa melalui perusahaan biro perjalanan yang lazim. Umrah model ini dikenal luas di beberapa negara di luar Indonesia dan Malaysia, khusus Indonesia dan Malaysia menurut beberapa informasi sudah mulai diperketat seiring banyaknya jamaah umrah yang tidak kembali ke tanah air dan memanfaatkan peluang mencari kerja di Arab Saudi.

Dilihat dari biaya, umrah mandiri atau umrah backpacker sudah pasti murah, karena jamaah harus mengurus sendiri semua kelengkapan selama perjalanan. Namun demikian, umrah backpacker saat ini tetap harus melalui prosedur pelampiran kelengkapan syarat, seperti hotel tempat menginap dan salinan tiket pesawat yang digunakan selama keberangkatan dan kepulangan. Mereka yang berangkat secara mandiri harus mengurus visa umrah di mana hanya akan dikeluarkan pihak Kedutaan Arab Saudi jika melalui travel-travel atau biro perjalanan berizin di Indonesia. Artinya, semua proses harus melalui travel atau biro perjalanan resmi yang sudah bersertifikasi alias legal.

Umrah backpacker, tentu tidak cocok bagi jamaah yang ingin mendapatkan kenyamanan selama beribadah di tanah suci. Selain dipastikan tidak mendapatkan hotel di kawasan terdekat ke Masjidil Haram atau Masjid Nabawi, umrah model ini juga wajib mencari makan sendiri di gerai-gerai tempat makan yang ada di Arab Saudi. Para orang tua sangat tidak dianjurkan mengikuti pola ini, alangkah baiknya semua proses akomodasi dan layanan selama di tanah suci diurus oleh travel berpengalaman.

Alih-alih mendapat biaya murah karena tergiur model umrah backpacker, jamaah umrah backpacker bisa jadi akan mengeluarkan dana yang banyak di luar tiket murah ke Arab Saudi. Belum lagi jika terjadi persoalan tak terduga semisal jika mendapati masalah kesehatan alias sakit selama menjalankan ibadah di tanah suci.

Jadi, umrah itu memang wajib rasional pengurusannya. Agar anda tidak tertipu, padahal sudah berniat lurus ke tanah suci, maka percayakan perjalanan ibadah tersebut kepada atau bersama orang-orang atau lembaga terpercaya yang dapat anda verifikasi sebelum menentukan niat ke tanah suci. Bertanyalah dan lakukan verifikasi kepada orang-orang terpercaya yang dapat mengantarkan proses perjalanan setiap jamaah umrah ke tanah suci. Demikian, semoga bermanfaat!

* Akmal Hanif, pembimbing jamaah umrah dan pemilik sebuah perusahaan travel di Banda Aceh. Email: [email protected] (uri/aradhia/ayanti/FD)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id