Warga Tolak Proyek APBA di Lung Manyo | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Warga Tolak Proyek APBA di Lung Manyo

Foto Warga Tolak Proyek APBA di Lung Manyo

* Usul Bangun Bendungan Dialihkan ke Proyek Saluran

KUALASIMPANG – Warga Kampong Lung Manyo, Kecamatan Manyak Payed, Kabupaten Aceh Tamiang, menolak pelaksanaan proyek pembangunan saluran/drainase senilai Rp 1,8 miliar bersumber dari APBA, yang dibangun di desa mereka, karena yang dibutuhkan warga di kawasan itu bukan pembangunan saluran, melainkan pembangunan bendungan penahan air asin agar tak masuk ke saluran irigasi sawah mereka.

Pengusulan proyek pembangunan saluran ini, dinilai mubazir dan tidak menjadi kebutuhan warga. “Kami minta dana proyek saluran ini dialihkan untuk membangun bendungan yang dibutuhkan untuk menjamin pengairan sawah warga,” kata tokoh masyarakat Lung Manyo yang juga mantan Kepala Mukim Raja Tuha, Ilyas, Selasa (12/7), kepada anggota DRPA, Asrizal H Asnawi untuk diteruskan ke Gubenur Aceh.

Pembangunan bendungan penahan air asin di Kampong Lung Manyo ini sebenarnya sudah diusul sejak tahun 2007, pascabanjir bandang di Aceh Tamiang tahun 2006 yang menumbangkan beberapa tiang penyangga pintu irigasi. Namun hingga sarana itu belum juga diperbaiki sehingga mengancam produktivitas sawah warga di lokasi itu.

“Kini, bangunan bendungan yang lama hampir roboh. Pemerintah membuang-buang anggaran untuk proyek yang bukan kebutuhan warga. Sementara usul masyarakat terhadap kebutuhan yang mendesak (pembangunan bendungan) malah tidak direspons,” tambahnya.

Karena usaha pertanian sawah warga kini semakin terancam, beberapa warga mulai mengalihfungsikan lahan sawahnya menjadi kebun. Kini, sawah untuk ditanami padi malah ditanami pohon karet dan sawit, karena hasil tanaman padi dari sawah tidak menjanjikan lagi.

Anggota DPR Aceh, Asrizal H Asnawi yang sebelumnya meneruskan aspirasi warga Lung Manyo dengan mengusulkan pembangunan bendungan air asin, mengaku terkejut saat menerima laporan warga bahwa sarana yang hendak dibangun malah proyek saluran. “Saya memperjuangkan pembangunan bendungan dengan anggaran sebesar Rp 1,8 miliar untuk Kampong Lung Manyo, bukan proyek saluran,” katanya.

Ia mengungkapkan, jika alokasi dana yang sama dialihkan untuk membangun saluran, patut diduga bahwa proyek ini hanya untuk mengejar untung besar bagi kontraktor dan beberapa pejabat yang ikut mengatur pengalihan proyek tersebut.

Menurut Asrizal, memang alur yang ada di Kampong Lung Manyo berbatasan langsung dengan laut. Saat air pasang, air laut naik sampai ke Kampong Bukit Metuah, karena tidak ada bendungan penahan air. Kaerna itu,ia mendukung sikap warga yang akan menolak proyek saluran ini, karena tak sesuai kebutuhan warga.(md) (uri/atih/artanto/RH)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id