Malu Selalu Ditagih Tunggakan Uang Buku, Siswi SMP Putus Sekolah | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Malu Selalu Ditagih Tunggakan Uang Buku, Siswi SMP Putus Sekolah

Foto Malu Selalu Ditagih Tunggakan Uang Buku, Siswi SMP Putus Sekolah

aceh.Uri.co.id, MEDAN – Kasus putus sekolah disebabkan faktor kemiskinan ternyata masih terjadi di saat pemerintah selalu mengampanyekan pendidikan gratis.

Mirisnya, pihak sekolah juga enggan memberi keringanan bagi pelajar dari kalangan ekonomi lemah.

Kasus putus sekolah ini terjadi di SMPN 19 Medan, setelah salah satu siswinya, KL (14) enggan masuk kelas sejak Januari 2016. Remaja putri ini mengaku malu karena setiap hari ditagih uang buku dan baju seragam.

Jumlah tunggakan itu sebenarnya tidak besar, yakni hanya Rp 837 ribu dengan rincian uang buku Rp 327 ribu dan seragam Rp 510 ribu. Tapi karena penghasilan ayahnya sebagai penarik becak tidak cukup besar, maka uang Rp 837 ribu itu menjadi nilai yang sulit dilunasi.

“Saya sudah bilang bapak belum ada uang. Tapi setiap hari ditagih sama guru. Saya malu,” kata KL di kediamannya di kawasan Medan Sunggal, Rabu (2/3/2016).

Keputusan berhenti sekolah ini dianggap KL sebagai langkah terbaik. Di satu sisi ia terlepas dari rasa malu dengan teman-teman sekelasnya, di sisi lain ia mengatakan telah mengurangi beban orang tuanya.

“Bapak narik becak. Ibu bantu-bantu cuci baju di rumah tetangga,” tandasnya.

Kasus yang mencoreng dunia pendidikan ini membuat Ombudsman Perwakilan Sumut tergerak untuk mencari solusi dengan berdialog dengan pihak sekolah pada Rabu (2/3/2016) siang.

Tapi bisa dibilang pertemuan itu tidak membuahkan hasil, karena pihak sekolah justru mengaku tidak tahu kasus yang dialami KL.

“Kami belum tahu kalau ada siswa kami yang putus sekolah,” kata perwakilan sekolah, RE Simamora.

KL sendiri secara jujur tetap ingin melanjutkan pendidikannya. Ia menyadari dengan hanya memegang ijazah SD akan sulit baginya untuk bersaing di bursa kerja.

“Kalau ditanya, ya mau kali sekolah. Tapi jangan ditagih terus di depan kawan-kawan. Malu,” ujar KL.

Kepala Ombudsman Perwakilan Sumut, Abyadi mengaku pertemuan dengan pihak sekolah tidak menemukan kesepakatan apa pun. Makanya ia menjadwalkan ulang pertemuan itu.

Tapi dia menilai ada pelanggaran yang dilakukan sekolah, karena Peraturan Pemerintah Nomor 17/2010 Pasal 181 dan Permendikbud Nomor 45/2015 secara jelas melarang sekolah menjual buku dan baju kepada siswa.

“Tapi RE Simamora bilang yang jual buku dan koperasi pihak koperasi. Makanya saya jadwal ulang pertemuannya biar dibahas,” tandasnya. (mad) (uri/omario/alah/RF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id