Lika-liku Puasa di Lokasi Tambang Batu Bara

oleh

OLEH IKRAMULLAH MOHAMMAD DIN, putra Aceh pekerja tambang batu bara, melaporkan dari Malinau, Kalimantan Utara

TAHUN ini merupakan tahun pertama saya menunaikan ibadah puasa di lokasi tambang yang berada di perbatasan Indonesia dan Malaysia Timur, tepatnya di Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara. Hal ini menjadi pengalaman baru dan sangat berharga bagi saya. Saya tetap melakukan aktivitas kerja di lapangan seperti biasa dan tetap berpuasa.

Berpuasa di tambang memang membutuhkan usaha yang lebih besar. Dengan kondisi cuaca yang panas terik–pada waktu tertentu mencapai 34 derajat Celcius–pekerja tetap melakukan aktivitas di lapangan seperti biasa. Berpuasa di areal tambang bukanlah hal yang mudah, tetapi tetap harus dijalankan. Dengan kondisi kontur tanah yang menanjak dan teriknya matahari terkadang pekerja dituntut untuk bertahan di lapangan mengawasi dan memberikan instruksi agar operasional tambang berjalan sesuai rencana. Dunia tambang memang keras dan butuh survival instinct yang tinggi. Staf dituntut untuk bisa berpikir menyelesaikan masalah di lapangan dengan kondisi lingkungan yang ekstrem.

Khusus bulan Ramadhan, jam kerja kami dipersingkat hingga pukul 17.00 waktu setempat. Suasana berbuka puasa terlihat ramai dan merupakan waktu yang selalu ditunggu tiap hari selama Ramadhan. Ketika waktu berbuka tiba, pekerja berbondong-bondong ke kantin untuk antre mengambil takjil. Takjil yang disediakan dua potong kue basah dan tiga biji kurma ditambah segelas sirop. Selanjutnya ada yang langsung makan, ada pula yang shalat Magrib lebih dulu. Setelah berbuka, bagi yang muslim melanjutkan dengan shalat Isya dan Tarawih berjamaah di masjid mes plus mendengarkan ceramah yang disampaikan ustaz dari desa terdekat.

Untuk suasana sahur terlihat lebih sepi karena tidak semua karyawan sahur di kantin. Ada yang hanya minum air putih dan ada pula yang makan sahur. Seperti juga menu berbuka, menu sahur juga jauh dari menu sahur di rumah atau restoran.

Sistem kerja dan lokasi yang rata-rata jauh dari kota, para pekerja tambang, seperti juga saya, dituntut memiliki mental yang kuat dan terbiasa hidup seadanya. Mungkin pola hidupnya setengah militer. Maka tidak heran, mahasiswa yang kuliah di program studi pertambangan sebagian dilatih semimiliter.

Saya membiasakan diri dengan lebih banyak berinteraksi dengan sesama karyawan guna menghilangkan rasa sepi. Terkadang ketika malam para karyawan berkumpul dan bercerita tentang berbagai hal guna menghilangkan rasa letih akibat bekerja seharian. Ada yang bercerita mengenai keluarga di rumah atau pun bercerita mengenai pengalaman hidup. Banyak pula yang menelepon ke keluarga masing-masing. Hal-hal kecil seperti itu terkadang menjadi hiburan tersendiri bagi para pekerja tambang. Saya percaya, bahagia itu kita sendiri yang menciptakan, enak atau tidak enak hanya ada dalam pikiran.

Kebanyakan kegiatan pekerja tambang setelah bekerja adalah melakukan panggilan telepon. Sesampai di mes pukul 08.00 para pekerja bergegas untuk makan malam dan mandi lalu setelah itu menelepon, memberi kabar kepada keluarga masing-masing. Ada yang menelepon orang tua, istri, dan anak-anaknya.

Ketika malam terlihat semua orang sibuk dengan handphone masing-masing. Setiap orang berusaha mencari spot telepon terbaik dengan sinyal yang stabil. Setelah itu, tepat pukul 22.00 para pekerja wajib tidur dan beristirahat yang cukup guna menghindari fatigue (lelah lesu) saat bekerja.

Hari demi hari dilalui seperti sebuah siklus. Seorang pekerja tambang yang sudah lama bekerja di lapangan mengatakan, kejenuhan selalu muncul. Tetapi, dua bulan sekali hilang lagi ketika masa cuti dua mingguan tiba. Begitulah seterusnya. “Dan saya, sudah lebih lima tahun bertahan di lokasi tambang di pedalaman Kalimantan,” kata seorang senior saya.

Bekerja di tambang merupakan kombinasi dari rasa bersyukur, kangen, dan sabar walaupun para pekerja memiliki roster kerja delapan minggu kerja dua minggu cuti. Konon, masa cuti yang panjang tersebut hanya dimiliki pekerja industri tambang. Tetapi bisa kita lihat persentase dalam setahun para pekerja hanya bertemu keluarganya selama 20% dari total hari dalam setahun. Sebagian besar bahkan berlebaran di lokasi tambang karena jadwal cutinya tidak bersamaan dengan hari raya.

Cuti merupakan hal yang paling ditunggu-tunggu setiap karyawan tambang, karena mereka dapat pulang ke daerah masing-masing dan bertemu keluarga untuk melepas rindu yang telah dipendam selama dua bulan. Begitu pula anak istri mereka pastilah sangat rindu dengan kepulangan suaminya yang bekerja demi menghidupi keluarga kecil mereka.

Para pekerja tambang selalu berharap dan berdoa keluarganya bisa selamat dan baik-baik saja ketika mereka jauh. Biasanya, pekerja tambang sudah merencanakan aktivitas bersama keluarga jauh sebelum cuti. Para karyawan sudah membuat list to do (kegiatan yang dilakukan) selama cuti agar waktu emas tidak hilang percuma. Ada yang berlibur ke luar kota, ke luar negeri, dan ada pula yang menghabiskan setiap waktu di rumah bersama keluarga dan mengunjungi tempat-tempat favorit semasa kecil. Ketika cuti telah usai para pekerja kembali bersiap untuk berangkat menjalani rutinitasnya.

Bekerja di tambang secara relatif mendapat penghasilan yang lebih baik sesuai dengan pengorbanan waktu, tenaga, dan risiko yang menghadang. Di samping itu, juga mendapat perlindungan kesehatan yang maksimal dan proteksi asuransi yang memadai. Termasuk juga bagi yang mampu bertahan mendapatkan tunjangan pensiun yang memadai.

Namun, para pekerja dituntut mampu bertahan hidup dengan kondisi lingkungan yang serba berbeda dengan di perkotaan atau tempat-tempat lain yang akses transportasi dan informasi mudah. Bagi saya yang baru bergabung di dunia tambang, hal tersebut menjadi pengalaman yang sangat berharga. Saya berusaha beradaptasi dengan dunia “zaman dulu” sambil belajar dunia tambang yang sesungguh yang jauh dari bayangan saya sebelumnya, termasuk bayangan semasa kuliah. Apalagi, baru beberapa bulan saya bergabung, saya disambut dengan bulan Ramadhan, bulan puasa pertama saya lalui tanpa orang tua dan adik-adik saya dan dalam suasana jauh dari “kenyamanan”.

Di balik semua proses yang dilalui. para pekerja tambang memiliki tujuan dan niat yang sama, yaitu mencari rezeki yang halal dan bisa menghidupi keluarga di rumah. Terkadang hal tersebut menjadi pemacu semangat agar tetap bisa berjuang demi membahagiakan keluarga di rumah dan ikut berkontribusi membangun negeri. ()

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!