Kisah Perempuan Aceh Bekerja di Malaysia, Nasib tak Semujur Impian

oleh

Uri.co.id, JAKARTA – Bertarung nasib di negeri orang adalah pilihan pahit, namun harus dijalani untuk menyambung hidup.

“Di kampung, saya tak punya apa-apa. Tak ada tanah tak ada rumah. Saya bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan sedikit,” kata Halimah, perempuan asal Cot Girek, Aceh Utara yang dideportasi oleh Pemerintah Malaysia. 

Halimah dideportasi bersama Yusnidar, ibu satu anak asal Lhoksukon, dan Suryani asal Peureulak Aceh Timur, bersama 38 pekerja asal Indonesia lainnya, tiba di Bandara Soekarno Hatta, Cengareng, Jakarta, Selasa (14/5/2019).

Halimah, mencari kerja sebagai pembantu rumah tangga di negeri jiran itu, berangkat ke Malaysia melalui Dumai, menumpang boat nelayan, pada November 2018. 

Tapi nasib tak semujur impian. Tiba  di Port Dixon, pelabuhan Negeri Sembilan, justru langsung ditangkap aparat keamanan setempat dan dijebloskan dalam penjara Sungai Udang, Negeri Sembilan.

Halimah seolah “menangkap angin,” harapan yang dipupuk sejak di kampung untuk mengubah nasib, tempias begitu saja.

Lima setengah bulan Haliman ditahan, sebelum kemudian dipulangkan ke Indonesia melalui Jakarta.

Ia nekat menyeberangi Selat Malaka berbekal uang 2 juta rupiah yang dia pinjam dari sanak keluarga di kampung. Dengan harapan, uang itu dia kembalikan setelah mendapat pekerjaan.

Halimah, penduduk desa Beurandang Asan, Kecamatan Cot Girek, Lhoksukon, Aceh Utara.

Ia mengaku ditawari oleh agen pengerah tenaga kerja tak resmi untuk mengadu nasib di Malaysia.

Nasib lebih mujur dialami rekannya, Yusnidar.

Ia masuk Malaysia berbekal dokumen resmi. Tapi kemudian ditangkap dan ditahan karena tinggal “lebih masa” di negeri tersebut.

Yusnidar bekerja sebagai “celaning service” di Selangor dan ditahan di penjara Kajang.

Ia berada di negeri itu selama tiga tahun bersama suami dan adik iparnya.

“Suami saya, Zainal Abidin dan adik ipar, Iwan,  sampai sekarang masih ditahan di penjara Sepang. Perkaranya sama, melebihi batas masa,” kata  Yusnidar.

Selama bekerja di Selangor, putri mereka tinggal di kampung bersama neneknya.

Yusnidar, 28 tahun, penduduk Desa Cempedak, Panton Labu, Aceh Utara.

Ia mengaku mendapat gaji Rp 3,5 juta hasil bekerja sebagai petugas kebersihan.

Seperti halnya Halimah, Yusnidar berangkat ke Malaysia bersama suami untuk mengubah kehidupan menjadi lebih baik. 

“Kami tak punya apa-apa di kampung, satu-satunya harapan adalah berjuang di negeri orang, dengan resiko yang sangat berat,” cerita Yusnidar saat ditemui, Kamis (16/5/2019) di Kantor Badan Penghubung Pemerintah Aceh (BPPA) di Jakarta, yang memfasilitasi kepulangannya ke Aceh dari Jakarta.

Keduanya mengaku, masih ada ratusan orang Aceh lainnya bertarung hidup seperti mereka di Malaysia.

Adakalanya ditangkap dan dideportasi. Tapi kemudian kembali lagi.

“Saya sekarang jera. Tidak akan kembali lagi,” kata Yusnidar dan Halimah hampir bersamaan.

Hanya saja masalahnya, mereka masih belum mengetahui, pekerjaan apa yang akan mereka lakoni selama di kampung.

Sementara hidup harus dipertahankan dan diperjuangkan. Pemerintah Aceh, tidak bisa tinggal diam, harus mencari jalan untuk mereka.(*) ()

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!