Berpuasa di Antara Muslim Minoritas

oleh

OLEH ABDUL AZIS, Peneliti Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Aceh, Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe), melaporkan dari Phnom Penh, Kamboja

SAAT di dalam pesawat, saya perhatikan sebagian penumpang wanita mengenakan jilbab. Wajah mereka rata-rata seperti warga Indonesia, bahkan mirip orang Aceh pada umumnya. Saya pun senang karena banyak saudara seiman sejak dalam pesawat. Saya bayangkan, setibanya di Kamboja pastilah banyak warga muslimnya.

Pukul 14.55 waktu setempat pada hari Minggu itu pesawat yang saya tumpangi bersama rombongan Forum Silaturahmi Kemakmuran Masjid Serantau (Forsimas) Aceh mendarat mulus di Bandara Phnom Penh, Kingdom of Cambodia. Sampailah saya di Negeri Pangeran Norodom Sihanouk.

Di Bandara Phnom Penh, mobil yang menjemput kami sempat tertahan karena kesalahan sistem scan untuk ke luar dari arena parkir. Rupanya rezim di bawah pimpinan Perdana Menteri Hun Sen sangat disiplin dan ketat terhadap peraturan.

Setelah satu jam perjalanan dari bandara kami pun tiba di hotel. Malamnya kami dijamu makan di warung muslim oleh Umi Kalsum Husein, pengurus Forsimas Kamboja. Menurutnya, ada 40 rumah makan muslim di seluruh wilayah Kamboja, baik warung lokal maupun milik pedagang dari Kelantan, Malaysia.

Perjalanan saya ke Kamboja kali ini selain untuk mendampingi Sekretaris Forsimas, Ir Basri A Bakar MSi dan tim yang berjumlah sembilan orang, juga untuk memenuhi undangan PM Hun Sen untuk berbuka puasa yang juga dihadiri perwakilan umat muslim se-Asean.

Tujuan lainnya adalah untuk menjabarkan misi bertajuk “Forsimas Peduli Kamboja” sembari merasakan nikmatnya ibadah Ramadhan serta berbagi rezeki dengan saudara di negara yang minoritas muslim.

Selama berpuasa di Kamboja, untuk shalat Isya dan Tarawih berjamaah, kami tunaikan di Masjid Kenegaraan Al-Serkal yang tak jauh dari penginapan kami. Dalam setiap kesempatan saya juga bersilaturahmi dengan sesama jamaah. Ada juga rombongan dari BKPMRI Aceh, Padang, dan daerah lainnya. Saya juga sempat berkomunikasi dengan jamaah dari berbagai negara dan mereka sangat kagum mendengar bahwa kami berasal dari Aceh.

Dalam kesempatan itu juga panitia masjid mendaulat ketua rombongan kami, yakni Ustaz Basri A Bakar untuk mengumandangkan azan dan ikamah. Sedangkan shalatnya diimami oleh anak muda profesional, alumnus Kairo, Mesir. Jamaah mencapai setengah masjid saat itu. Namun, menurut sumber yang dipercaya, jika pda hari Jumat dan Idulfitri masjid itu biasanya selalu penuh oleh jamaah dari berbagai negara.

Untuk santap sahur, pihak hotel menyediakannya dan langsung diantar ke kamar. Alhamdulillah, hotel kami juga menerapkan label halal food sehingga kami tak perlu repot lagi mencari warung muslim.

Sebagaimana kebiasaan saya di Aceh, sebelum tidur saya bersama seorang teman menyempatkan diri ke kafe hotel untuk menikmati secangkir kopi espresso, walaupun tak senikmat kopi gayo di Aceh. Konyolnya lagi saat saya berkomunikasi dengan satpam hotel, saya terpaksa menggunakan voice google translate dari bahasa Indonesia ke bahasa Khmer, begitu juga sebaliknya ketika dia menjawab pertanyaan saya.

Keesokan harinya, kami dibawa jalan-jalan naik Toyota Alphard mengelilingi Kota Phnom Penh. Selama beberapa bulan terakhir di Kamboja ternyata sedang musim kemarau panjang. Saya sempat rasakan terik matahari yang sangat menyengat. Namun, semangat kami pantang mundur untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah walaupun harus bercumbu dengan matahari.

Sepanjang jalan yang dilalui sangat banyak godaan bagi kami yang berpuasa. Selain kafe dan resto yang tetap buka seperti biasanya pada siang hari, tak jarang pula melintas para cewek bule yang mengenakan pakaian bak gaun malam.

Penasaran akan suasana tersebut, saya tanyai sopir kami, Syukri. Dia muslim juga. Menurutnya, di Kamboja penduduk muslimnya sangat sedikit, yakni hanya 6% dari 16 juta penduduk. Mereka tinggal agak jauh di pinggiran Kota Phnom Penh, tepatnya di Provinsi Chhnang. Ini bukan salah ketik. Tapi begitulah nama provinsi ini yang 95% penduduknya beragama Islam. Bahkan di sini ada nama khusus kampung muslim. Tapi ironisnya, masyarakat muslim di Kamboja masih lebar kesenjangan antara si kaya dan si miskin.

Undangan iftar
Pada Selasa sore kami di-briefing oleh Dr Mohammad Nawar bin Arifin utusan Forsimas Malaysia sebelum menghadiri undangan PM Kamboja untuk berbuka puasa. Ide buka bareng dengan lingkup se-Asean ini datang dari Menteri Agama Othsman Hassan dan mendapat sambutan dari PM Hun Sen. Beliau bahkan ikut hadir untuk santap malam bersama. Jadi, saya berusaha memakai pakaian resmi ala upacara kenegaraan.

Karena di-briefing Dr Muhammad Nawar itulah saya mengenakan setelan jas yang selama ini hanya saya pakai saat resepsi pernikahan. Lagi pula seumur hidup baru kali ini saya menghadiri undangan dari perdana menteri yang notabene-nya Buddhist. Tapi ini tetap perjamuan kehormatan.

Saya juga terperanjat dan sangat kagum setiba di Diamond Island Convention and Exhibition Center. Sejak dari perjalanan awal kami diiringi patwal hingga tiba di lokasi pun disambut bak tamu penting negara. Tak hanya itu, di dalam hall tersebut terlihat ribuan tamu dari mancanegara. Tak pelak lagi kesempatan itu saya manfaatkan untuk bersilaturahmi, bertukar kartu nama, dan berswafoto, termasuk dengan Menteri Agama Kamboja, dan para duta besar negara sahabat (Pakistan dan Arab Saudi).

Sebelum acara santap malam, di meja bundar para delegasi sudah tersusun aneka buah dan minuman berbagai rasa. Selanjutnya kami juga disuguhi aneka lauk dan makanan serta kue khas ala Kamboja. Makanan yang disajikan melebihi kenduri maulid di kampung saya. Banyak makanan tersisa dan terkesan mubajir, karena apa yang disajikan di setiap meja tidak semuanya tersantap habis.

Seusai berbuka saya cari toilet dan di belakang gedung tampak ratusan siswa SMK supersibuk. Ada yang memasak, ada juga yang mengangkat hidangan, serta mengembalikan piring-piring kotor. Tak kurang ratusan juta bahkan miliaran rupiah uang dihabiskan untuk persatuan dan kesatuan umat sekolosal itu.

Ke kampung muslim
Setelah acara puncak selesai, kami pun meneruskan lawatan. Tujuan kami berikutnya adalah kampung muslim Chhnok Tru. Jaraknya dari Phnom Penh lebih kurang 100 km dan menghabiskan waktu 2-3 jam perjalanan. Sepanjang jalan yang kami lalui setelah ke luar dari ibu kota Phnom Penh, tampak ada beberapa masjid yang jamaahnya sedang shalat. Ketika semakin dekat ke lokasi yang kami tuju, terlihat pemandangan yang sangat menyedihkan, ratusan bahkan ribuan hektare lahan tidak dimanfaatkan secara optimal. Alasannya bukan karena musim kemarau saja, tapi justru karena tidak tersedianya sumber air yang dapat diandalkan untuk tanaman hortikultura, palawija, maupun perkebunan.

Sementara itu, ternak sapi terlihat mencari makanan di antara kering-kerontangnya hamparan lahan. Sementara para petani hanya menanam padi sekali dalam setahun. Hasil panen dan sisa jerami umumnya disimpan di setiap halaman rumah penduduk untuk cadangan beras dan pakan bagi ternak.

Dalam benak saya, andai saja Pemerintah Kamboja mengalokasikan anggarannya untuk membangun sumber daya air seperti embung, long storage, parit, dan sumur-sumur pancang untuk pertanian, tentu akan lain dampaknya bagi kesejahteraan petani. Mereka bisa lebih makmur. Dan pada saat itu, mungkin jangankan ke Kamboja, ke Eithopia pun kuikut kamu. Semoga. ()

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!