Putra Aceh di Belakang Kesuksesan Pelabuhan Sibolga

oleh

Oleh Prof. Dr. APRIDAR, M.Si, Guru Besar Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan dan Kelautan Universitas Malikussaleh, melaporkan dari Sibolga, Sumatera Utara

TETANGGA kita Sibolga, di sisi barat Provinsi Sumatera Utara, merupakan sebuah kota yang memiliki pelabuhan alami. Letaknya sekitar 348 km dari Kota Medan, menghadap Samudra Hindia di pantai barat Provinsi Sumatera Utara. Pelabuhan ini merupakan pelabuhan transit ke Pulau Nias.

Luas Kota Sibolga 10.77 km2 mencakup empat kecamatan dan penduduknya 84.444 jiwa berdasarkan Sensus Penduduk 2010.

Di Teluk Sibolga terdapat Pulau Poncan Ketek (Pulau Poncan Kecil). Pulau ini dulunya merupakan lokasi benteng. Pedagang Inggris, Belanda, Prancis, dan Amerika kerap melewati kawasan ini. Diperkirakan Stamford Raffles juga melewatinya sebelum dia pindah ke Bengkulu, Sumatera Selatan.

Dari Bengkulu, Raffles, setelah melepaskan pelabuhan ke Belanda, Stamford Raffles mendirikan pelabuhan dagang yang sekarang menjadi Singapura.

Feri dari Pelabuhan Sibolga melayani ke pulau-pulau terpencil di sebelah barat, Simeulue, dan Nias, serta seluruh Indonesia. Sibolga adalah titik loncatan untuk perdagangan dan kapal penumpang ke Pulau Nias. Bandara lokal adalah Bandara Ferdinand Lumban Tobing.

Pelabuhan kelas III tersebut berada di bawah otorisasi Kantor dan Master Otoritas Pelabuhan (KSOP) Harbour Master dan dioperasikan oleh PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I Cabang Sibolga, Provinsi Sumatera Utara.

Ada donatur yang menyediakan layanan untuk kegiatan multiguna; pergerakan kargo domestik, dan internasional termasuk kontainer,juga berfungsi sebagai pelabuhan antarpulau. Kapal terbesar di sini mampu menampung 4.000 grosston (GT).

Sibolga juga memiliki iklim hutan hujan tropis. Iklim di hutan hujan ini curah rata-ratanya minimal 60 mm (2,36 in).

Iklim hutan hujan tropis tidak memiliki musim panas atau musim dingin yang jelas. Biasanya panas dan basah sepanjang tahun dan curah hujannya deras dan sering. Suatu hari di iklim khatulistiwa bisa sangat mirip dengan yang berikutnya, sedangkan perubahan suhu antara siang dan malam mungkin lebih besar daripada perubahan rata-rata suhu antara “musim panas” dan “musim dingin”. Suhu rata-rata di Sibolga adalah 81.0 °F (27.2 °C).

Pelabuhan Sibolga merupakan hub utama yang dikelola secara modern oleh PT Pelindo dan sebagiannya diserahkan kepada pihak swasta untuk memasok barang ke Pulau Nias. Dari aspek geografis, Sibolga adalah satu-satunya gerbang atau pintu masuk pengangkutan dan distribusi barang-barang dan kebutuhan pokok melalui laut di pantai barat Sumatera Utara.

Pihak swasta yang diberi wewenang dalam mengelola pelabuhan ini adalah PT Transconthent yang digawangi oleh putra asli Aceh, yaitu Ismail Rasyid. Lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala ini merupakan sosok pimpinan sekaligus pemilik PT Transconthent.

Dengan manajemen yang cukup mumpuni ia telah memiliki ribuan karyawan yang tersebar pada 16 cabang di kota-kota besar Indonesia, juga memiliki kantor di luar negeri seperti di Australia (Perth) dan Filipina.

Wilayah-wilayah hinterland Pelabuhan Sibolga meliputi Kabupaten (Kabupaten) Tapanuli Selatan (Tapsel), Kota Padangsidempuan, Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta), Kabupaten Padang Lawas Selatan (Palas), Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) ), Kabupaten Tapanuli Utara (Taput), Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas), Kabupaten Dairi, Kabupaten Toba Samosir (Tobasa) dan lima kabupten/kota di Pulau Nias. Termasuk Kabupaten Aceh Singkil di Provinsi Aceh.

Berbagai kebutuhan terutama alat-alat berat serta input untuk industri seperti PT Tambang Mas Sibolga dilayani melalui Pelabuhan Sibolga. Sehingga masyarakat Sibolga sangat familiar terhadap kegiatan industri. Dengan tumbuh dan berkembangnya industri membuat masyarakat semakin sejahtera dan mereka selalu menjaga agar aktivitas tersebut berjalan dengan baik dan lancar.

Sibolga yang dulunya dikenal sebagai daerah pertanian sekarang menjadi semakin berkilau akibat dari pertumbuhan industri yang luar biasa dengan adanya pelabuhan yang tangguh.

Menjadi pertanyaan bagi kita, mengapa Aceh yang memiliki pelabuhan yang sangat strategis melebihi Pelabuhan Sibolga di berbagai kabupaten/kota–misalnya Pelabuhan Sabang, Pelabuhan Malahayati di Kreung Raya, Pelabuhan Kreung Gekueh, dan lain-lain–namun belum ada pelabuhan hebat sekaliber Pelabuhan Sibolga.

Nah, apakah Aceh tidak mampu membuat dan mengelola pelabuhan secara modern dan profesional? Ironisna, salah satu contoh kesuksesan Pelabuhan Sibolga justru atas kerja keras putra Aceh di bawah bendera PT Transconthent. Muncul pertanyaan berikutnya, kenapa Pemerintah Aceh belum mengajak Transconthent untuk mem-back-up pelabuhan-pelabuhan yang ada di Aceh?

Kesuksesan yang telah ditorehkan putra Aceh di luar hendaknya kita maknai positif. Misalnya dengan memberikan kepadanya kesempatan untuk berbuat di daerah kelahiranya. Tidak ada kata terlambat untuk kita saling bergandeng tangan membantu dalam membangun daerah yang kita cintai bersama. Semoga dengan kebersanaan dan saling mendukung untuk membangun bangsa melalui pelabuhan yang mumpuni dapat mencerahkan perekonomian kita ke depan. ()

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!