Ternyata KKB Itu Sindikat Narkoba

oleh

Panglima Kodam Iskandar Muda (Pangdam IM), Mayjen TNI Teguh Arief Indratmoko menegaskan kelompok kriminal bersenjata (KKB) yang ada di Aceh itu tidak ada kaitannya dengan eks kombatan, tapi murni sebagai kriminalis yang terkait dengan peredaran narkoba jenis sabu. “Saya sudah berbicara dengan mantan petinggi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) untuk memastikan hal itu. Mereka (eks kombatan) tidak pernah melakukan perbuatan seperti ini. Yang ada sekarang adalah kasus terkait peredaran narkoba yang bersifat kriminal,” katanya.

Mayjen TNI Teguh Arief Indratmoko juga mengaku sudah bicara dengan rekan-rekan di kepolisian. Dan menurut pihak kepolisian, para anggota KKB itu banyak terkait dengan peredaran narkoba. “Para pengedar narkoba juga melindungi diri mereka dengan senjata api,” ungkapnya.

“Kita terus berusaha mencegah atau meniminlisir tindakan yang bersifat kriminal seperti perampokan dan peredaran narkoba. Kalau senjata-senjata api eks konflik sampai kepada tangan-tangan orang yang tidak bertangung jawab, bisa digunakan ke hal-hal yang bersifat kriminal atau peredaran narkoba. Makanya, saya minta siapa pun yang masih menyimpan senjata api illegal, supaya menyerahkan ke pihak keamanan,” katanya.

Sebelumnya, Kapolda Aceh, Irjen Pol Rio S Djambak sudah mengultimatum anggota KKB yang masih bersembunyi di seluruh wilayah hukum Polda Aceh agar segera menyerahkan diri. Ia nyatakan, polisi tidak akan segan-segan mengambil tindakan tegas jika imbauan itu tidak digubris.

Sebelum imbauan itu dikeluarkan, beberapa waktu lalu tim gabungan Polda Aceh dan Polres Aceh Timur terlibat baku tembak dengan anggota KKB di kawasan Aceh Timur. Dalam kejadian itu, seorang pentolan KKB tewas tertembak di dada. Sedangkan dua rekannya berhasil dibekuk pihak kepolisian.

Zakaria Saman alias Apa Karya, mantan menteri pertahanan GAM yang sangat mengerti seluk-beluk pasokan senjata ke Aceh saat masih berkecamuk konflik belasan hingga puluhan tahun lalu. Namun, kata Apa Karya, semua senjata yang pernah digunakan GAM sudah dilucuti seusai terjalinnya kesepakatan damai antara RI dengan GAM paa 15 Agustus 2005 silam.

Saat ini, lanjut Apa Karya, bukan perkara sulit untuk mendapat senjata, bahkan dia yakin banyak senjata ilegal terus beredar di Aceh. Paling mudah mendapatkan senjata dari para gembong atau mafia narkoba yang menjalankan bisnis haram mereka di Aceh. “Jadi, menurut saya, berantas dulu narkoba, berantas dulu sabu-sabu, setelah itu tidak akan ada lagi senjata,” kata Apa Karya.

Memerangi jaringan peredaran narkoba bukan pekerjaan gampang. Presiden Filipina Rodrigo Duterte harus memperpanjang masa perang melawan sindikat narkoba. “Saya tak menyadari sebegitu parah dan seriusnya kejahatan narkoba di republik ini (Filipina) hingga saya menjadi presiden,” kata Duterte.

Dalam tiga bulan Duterte berkuasa, polisi Filipina menewaskan 1.105 terduga pengedar narkoba selama hampir tiga bulan Duterte berkuasa. Dan ada 2.035 orang lainnya tewas dibunuh orang tak dikenal, yang oleh para aktivis HAM disebut praktik main hakim sendiri.

Lalu, juga tergambarkan betapa beratnya perang melawan sindikat narkoba di Meksiko, Kolombia, China, dan lain-lain. Dalam perang narkoba, pemerintah negera-negara itu bukan hanya menggelontorkan banyak anggaran, tapi mengorbankan nyawa begitu banyak aparat keamanan dan masyarakat.

Lima tahun lalu, kampanye antinarkoba dan sindikat pengedarnya bergema luas dan keras di Indonesia, termasuk Aceh. Namun, hingga akhir bulan lalu, kita masih disuguhkan kenyataan bahwa aparat kepolisian harus berkerja keras untuk membekuk sindikat peredaran narkoba yang melengkapi diri dengan sanjata api berkaliber canggih.

Artinya, semangat besar pemerintah dan masyarakat untuk memberantas peredaran narkoba tak menyurut spirit para pengedar narkoba untuk mengembangkan bisnis haramnya. Mereka malah tambah beringas dan melengkapi diri dengan senjata-senjata api. Apa yang harus dilakukan Aceh untuk memerangi narkoba yang kina meresahkan dan menakutkan? ()

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!