Mudik Dengan Sepeda Motor, Jangan Lupa Pakai Helm! | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Mudik Dengan Sepeda Motor, Jangan Lupa Pakai Helm!

Mudik Dengan Sepeda Motor, Jangan Lupa Pakai Helm!
Foto Mudik Dengan Sepeda Motor, Jangan Lupa Pakai Helm!

SUDAH menjadi tradisi tahunan di Indonesia tiap menjelang lebaran, penduduk Muslim yang tinggal di kota-kota besar pada umumnya melakukan mudik besar-besaran ke kampung halaman.

Ada yang mudik dengan pesawat terbang, kapal laut, mobil, kereta api dan sepeda motor. Dari keseluruhan alat transportasi mudik, sepeda motor paling digemari bahkan tercatat pemudik dengan sepeda motor selalu mendominasi.

Fenomena ini bukan tanpa masalah, menurut data dari Mabes Polri, sepeda motor menjadi penyumbang terbanyak angka kecelakaan lalu lintas selama mudik Lebaran 2014, yakni sebanyak 1.941 kasus, dari total kecelakaan tercatat 2.471 kasus (kompas). Dengan demikian, sekitar 78,5 % kecelakaan di jalan adalah kontribusi sepeda motor.

Secara teoritis, salah satu penyebab kecelakaan lalu lintas jalan raya, termasuk kecelakaan sepeda motor adalah kelalaian pengguna jalan. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Treat dkk. (Lum dan Reagenm, 1995) menunjukkan bahwa faktor kesalahan manusia secara mandiri menjadi faktor penyebab 57% dari kecelakaan lalu-lintas yang terjadi.

Selanjutnya, sebagian besar kecelakaan lalu-lintas yang disebabkan manusia atau pengemudi terjadi karena pelanggaran pengemudi terhadap peraturan lalu-lintas (Arumeswari dan Bhinnety, 2009). Bentuk pelanggaran yang paling sering dilakukan oleh pengendara motor, terutama di Indonesia adalah tidak menggunakan helm.

Menurut data kepolisian tahun 2010, pelanggaran utama yang dilakukan oleh pengendara sepeda motor adalah tidak menggunakan helm (51,20%), seterusnya pelanggaran terhadap traffic light (24,20%), TNKB tidak sesuai (8,61%), kendaraan tidak layak jalan (6,78%), melanggar bahu jalan (8,07%), dan lain-lain (1,15%).

Pelanggaran yang dilakukan oleh pengendara motor dengan tidak menggunakan helm menunjukkan kepatuhan (compliance) yang sangat rendah terhadap peraturan lalu-lintas sebagaimana yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Pada Pasal 106 Ayat (8) dikemukakan bahwa setiap orang yang mengemudikan sepeda motor dan penumpang sepeda motor wajib mengenakan helm yang memenuhi standar nasional Indonesia.

Fakta ini sangat penting dikaji, salah satunya dari perspektif psikologi. Sebab, salah satu motivasi kepatuhan terhadap hukum, adalah: Motivasi/dorongan yang bersifat psikologis/kejiwaan (Sudarsono, 2007). Sejatinya kesadaran terhadap hukum harus bersumber dari motivasi yang bersifat psikologis/ kejiwaan, sehingga kepatuhan hukumnya utuh dan menyeluruh. Namun motivasi ini bukanlah sesuatu yang lahir dengan sendiri, tetapi motivasi ini lahir akibat dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya yaitu faktor agama, khususnya agama Islam.

Pada prinsipnya, dalam Islam tidak ada dikotomi antara agama dan negara. Apa yang menjadi regulasi negara itu pula menjadi aturan agama. Ketentuan ini berlaku selama regulasi negara tersebut tidak bertentangan dengan aturan-aturan agama. Hal ini sesuai firman Allah SWT: “Hai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul dan Pemimpin di antara kalian …”.(QS. An-Nisa : 59)

Regulasi terkait wajib mengenakan helm-saat berkendaraan-tidak sedikitpun bertentangan dengan aturan-aturan yang ada dalam Islam. Bahkan regulasi ini sejalan dengan ajaran Islam di antaranya : firman Allah SWT : “… Janganlah kamu menjerumuskan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan …” (QS. Al-Baqarah :195). Dan Sabda Nabi Muhammad SAW : “Tidak boleh ada bahaya dan tidak boleh membahayakan orang lain.” (HR. Hakim dan Baihaqi).

Di samping itu, regulasi tersebut sesuai dengan prinsip-prinsip Islam, di antaranya : Prinsip mashlahah. Menurut Al-Ghazali sebagaimana dikutip Wahbah Al-Zuhaili bahwa Mashlahah adalah mengambil manfaat dan menolak kemudaratan dalam rangka memelihara tujuan syara. Maslahah merupakan prinsip umum pensyariatan hukum Islam, sehingga setiap hukum Islam selalu bermuara pada nilai-nilai mashlahah.

Di samping itu, regulasi di atas juga sesuai dengan maqashid al-syaria’ah (tujuan Syara’). Di antaranya adalah hifdz al-nafs (menjaga Jiwa). Maksudnya setiap manusia wajib menjaga dirinya dari hal-hal yang membahayakan dan bisa membuat nyawanya terancam. Sehingga lahir qa’idah dalam ushul fiqh: “Bahaya harus dihilangkan”.(al-Suyuthi). Secara umum, ajaran Islam sebenarnya bermuara pada dua hal, yakni “Menghindari bahaya dan mencari kemaslahatan”.

Dengan skala prioritasnya pada “menghindari bahaya”. Hal ini sejalan dengan qaidah ushul fiqh “Menolak kerusakan diutamakan dari mencari kemaslahatan”.

Substansi ajaran Islam adalah melarang pemeluknya dari hal-hal yang dapat membahayakan serta memerintahkan untuk senantiasa mencari kemaslahatan atau kebaikan, baik untuk dirinya atau pihak lain. Hal ini tentunya sejalan dengan tujuan regulasi pemakaian helm (UU No. 22 Tahun 2009 Pasal 106 ayat 8). Regulasi ini bertujuan memproteksi organ kepala pengendara dan penumpang sepeda motor dari berbagai ancaman bahaya pada saat berkendaraan. Terutama pada saat terjadi benturan dengan benda keras. Meskipun belum tentu terjadi, namun memproteksi diri sejak dini dari segala macam bahaya yang kemungkinan besar akan terjadi dalam Islam sangat dianjurkan bahkan diwajibkan. Konsep ini dikenal dengan sebutan sadd adz-dzari’ah.

Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa mengenakan helm pada saat berkendaraan adalah wajib dalam pandangan hukum Islam. Karena dengan hal ini, kepala kita dapat diproteksi dari berbagai ancaman pada saat berkendaraan.

Sebagai muslim dan warga negara yang bijak, sudah seyogyanya kita senantiasa mengenakan helm pada saat mengendarai sepeda motor. Baik jarak tempuhnya dekat ataupun jauh. Karena pada prinsipnya, hal ini bukan hanya aturan negara tetapi juga bagian dari hukum agama yang wajib kita taati.

Yuk, menjadi pelopor keselamatan berlalu lintas (di antaranya mengenakan helm) lebih-lebih pada saat arus mudik dan balik lebaran yang sedang berlangsung. Sehingga perjalanan kita selamat sampai tujuan, dapat berkumpul dengan keluarga serta mendapat pahala dan ridha Allah SWT. Amin….! [KAMARUZZAMAN, Dosen STAI Darul Hikmah, Guru Dayah Darul Hikmah Islamiyah, Aceh Barat]. (uri/atrya/ratama/SP)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id